Zubairi Djoerban Sebut Demam Berperan Melawan Infeksi

Zubairi Djoerban Sebut Demam Berperan Melawan Infeksi
Ilustrasi: Shutterstock.com

WartaNiaga – Kepala Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban sebut demam berperan melawan infeksi.

Pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia ini mengimbau masyarakat agar tidak salah dalam menangani naiknya suhu tubuh lebih dari 38°Celcius.

Baca Juga : Mahasiswa UIN Raden Intan Sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk

“Demam itu memainkan peran kunci dalam memerangi infeksi. Namun, kesalahan kerap terjadi dalam mengatasinya. Apalagi obat penurun demam juga dijual bebas,” kata Zubairi Djoerban lewat media sosialnya, Twitter @ProfesorZubairi, Minggu, 7 Agustus 2022.

Selain itu, pria kelahiran Kauman, Yogyakarta, ini juga meragukan keakuratan masyarakat dalam menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh.

Hasil pengecekan suhu tubuh tergantung pada jenis termometer yang digunakan.

“Berbagai jenis termometer dapat menunjukkan hasil berbeda. Ada termometer digital dan ada manual. Kalau manual, ya harus lebih dari lima menit. Kalau digital, ya diulang. Kalau mau lebih yakin lagi ya diukur termometer air raksa, kemudian bandingkan,” jelas dia.

Zubairi Djoerban sebut demam berperan melawan infeksi sehingga dalam penanganannya membutuhkan kehati-hatian.

Konsumsi obat penurun panas dibutuhkan jika sudah beberapa jam masih panas atau panasnya langsung tinggi 39-40°Celcius.

“Kalau demamnya baru saja muncul, boleh saja enggak minum obat,” kata dia.

Zubairi Djoerban kemudian menguraikan penanganan medis yang tepat dalam mengatasi demam bagi pasien dalam utasnya.

“Obat yang efektif untuk demam ada dua yakni aspirin dan cetaminophen atau paracetamol. Ini aman dan efektif,” ujar salah satu pendiri Yayasan Pelita Ilmu ini.

Aspirin aman untuk orang dewasa, tapi untuk anak, dia meminta masyarakat untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan spesialis anak.

“Ada kemungkinan pemberian aspirin kepada anak bisa menyebabkan kondisi fatal, seperti Sindrom Reye. Jadi konsultasikan dulu ke spesialis anak soal ini,” kata dia.

Zubairi Djoerban menjelaskan mengonsumsi acetaminophen untuk mengatasi gejala naiknya suhu tubuh tetap memerlukan tambahan antibiotik.

“Untuk atasi gejala panasnya, tentu saja. Namun jika demam typhoid kan penyebabnya beda, yaitu kuman Salmonella. Tidak akan mati dengan acetaminophen,” ujar dia.

Kemudian, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi⁣ Hematologi Onkologi Medik ini menyarankan masyarakat untuk bisa menakar sendiri pemakaian obat penurun demam yang dijual bebas. Sesuai petunjuk yang tertera pada label obat.

“Ikuti saja di petunjuknya. Misal 2×1 atau 4×1 ya diminum sesuai aturan itu. Kalau sudah tidak panas, ya hentikan. Jangan sampai overdosis,” tegas dia.

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Kramat 128, Jakarta, ini mewanti-wanti masyarakat saat mengonsumsi obat dengan minum air putih, soda atau kopi, dan alkohol.

“Saat demam kita benar-benar membutuhkan cairan banyak agar tidak dehidrasi,” kata dia.

Boleh minum soda atau kopi?

“Tergantung jenis obat. Soda itu isinya ada Natrium Bikarbonat, yang relatif basa dan bisa netralkan aktivitas obat. Kalau kafein, umumnya boleh. Namun, efek obat tertentu malah akan diperkuat oleh kafein sehingga akan meningkatkan detak jantung,” ujar dia.

Bagaimana dengan alkohol?

“Sebaiknya sih enggak, meski kalau non muslim boleh saja—tapi dalam takaran yang sedikit sekali dan lebih baik tidak sama sekali,” kata dia.

Banyak minum air putih?

“Ada beberapa obat yang menyebabkan pipis kita jadi banyak. Misalnya Furocemide atau Lasix, Spironolactone atau Aldactone. Ya kalau dapat obat ini memang akan lebih banyak minumnya,” ujar dia.

Zubairi Djoerban menganjurkan pasien untuk meminta nasihat dokter dalam menghitung prinsip balance cairan dan elektrolit yang benar.

“Harus ingat, minum banyak itu bagus, tapi kalau ginjalnya sehat. Kalau enggak sehat, apakah bagus minum banyak? Sebaiknya dikonsultasikan,” kata dia lagi.

Saat mengalami demam, masyarakat diimbau untuk beristirahat tidur guna memulihkan kondisi tubuh.

Saat tidur, tubuh punya waktu memulihkan energi sehingga perlu istirahat.

“Sistem kekebalan Anda habiskan banyak energi lawan infeksi di siang hari. Takarannya, usia muda dan dewasa 8 jam sehari tambah sedikit. Kalau lanjut usia, 6 jam juga ditambah sedikit,” jelas dia.

Penderita demam diperbolehkan menggunakan sweater atau baju hangat selama pasien merasa nyaman.

“Tergantung suhu ruangan juga. Kalau ruangan tanpa AC kan tidak harus pakai baju hangat,” ujar dia.

Lalu mandi dengan air hangat atau dingin, tetap harus memerhatikan kenyamanan pasien demam.

“Tergantung kebiasaannya saja, kalau biasa mandi air hangat, ya tetap saja air hangat. Enggak usah diubah jadi air dingin supaya panasnya turun. Perubahan itu malah bisa menyebabkan otot-otot menggigil dan kram,” kata dia lagi.

Di akhir utasnya, Zubairi Djoerban menegaskan pentingnya konsultasi ke dokter untuk memastikan penyebab demam agar tepat dalam penanganannya.

Baca Juga : Alumni IPB Berbagi Tips Membasmi Nyamuk Tanpa Fogging

Karena demam berperan melawan infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus, maka ada kemungkinan demam juga merupakan gejala awal Covid-19.

“Jika dibarengi pegal linu, batuk bersin, suara serak, maka pada saat ini, salah satu kemungkinannya adalah Covid-19. Prinsipnya kalau demam lebih sehari apalagi tiga hari, pergi ke dokter, untuk pastikan penyebab demamnya apa,” tutup dia.