WartaNiaga.ID – Groundbreaking proyek hilirisasi ayam terintegrasi, menjadikan peluang emas bagi Kabupaten Lampung Selatan Menuju Sentra Ayam di Sumatera.
Di tengah bergulirnya program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), ada kabar menarik yang datang dari Lampung Selatan.
Pada 6 Februari 2026, dilakukan groundbreaking proyek hilirisasi ayam terintegrasi oleh PT Berdikari bersama PTPN I sebuah langkah yang, menurut saya, patut kita cermati bersama.
Selama ini Lampung Selatan lebih dikenal sebagai daerah perkebunan karet dan sawit. Kini, ada peluang nyata untuk bertransformasi menjadi dan menuju sebagai salah satu sentra produksi ayam unggulan di Sumatera Bagian Selatan.
Tentu wajar jika kita bertanya: Apakah ini benar-benar akan membawa perubahan, atau sekadar momen seremonial semata? Pertanyaan itu penting, dan saya rasa perlu kita telaah bersama secara jernih.
Apa yang Dibangun di Lampung Selatan?
Proyek ini bukan sekadar kandang ayam biasa. Berlokasi di Kebun Kedaton Trikora, PTPN I Regional 7, Kecamatan Jati Agung, proyek ini mencakup pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) berkapasitas 2.000 ekor per jam, cold storage, pabrik pakan, hatchery, serta industri pengolahan telur dan daging ayam.
Kapasitas produksinya pun cukup signifikan diproyeksikan menghasilkan sekitar 6.134 ton daging ayam per tahun, belum termasuk kontribusi dari parent stock ayam petelur sebanyak 14.697 ekor dan ayam pedaging lebih dari 213.000 ekor.
Yang membuat proyek ini menarik, bukan hanya untuk Lampung, tapi juga untuk kebutuhan protein hewani se-Sumatera. Program MBG sendiri mencatat kebutuhan telur Lampung mencapai 24.429 ton dan daging ayam 35.830 ton per tahun angka yang tidak kecil.
Apakah Lampung Selatan Siap Jadi Sentra Ayam Regional?
Secara teoritis, potensinya memang ada. Konsep industrial clustering yang diperkenalkan oleh Michael Porter menjelaskan bahwa ketika rantai produksi dari hulu ke hilir terkonsolidasi dalam satu wilayah, efisiensi dan daya saing daerah tersebut bisa meningkat pesat.
Lampung Selatan memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain: kedekatan dengan Pelabuhan Bakauheni, akses mudah ke Sumatera Selatan dan Bengkulu, serta lahan PTPN yang luas dan tersedia.
Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, Lampung berpeluang mengurangi ketergantungan pada pasokan ayam dari Jawa, menstabilkan harga di pasar lokal, bahkan mulai mengekspor ke provinsi-provinsi tetangga. Ini tentu kabar baik yang layak disambut dengan optimisme namun tetap disertai kehati-hatian.
Potensi Lompatan Ekonomi yang Tidak Bisa Diabaikan
Dari sudut pandang ekonomi, hilirisasi ini menjanjikan peningkatan nilai tambah yang nyata. Bukan lagi menjual ayam hidup dengan harga rendah, melainkan produk olahan seperti nugget, daging beku, atau telur bubuk yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi. Pendekatan value chain analysis dalam kerangka Global Value Chain (GVC) memang mendukung logika ini.
Untuk Lampung Selatan sendiri, diperkirakan sekitar 6.910 lapangan kerja baru akan tercipta di sektor peternakan, belum termasuk dampak ikutan (multiplier effect) ke sektor UMKM pengolahan dan transportasi. Peternak lokal berpeluang naik kelas, dengan potensi pendapatan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
















