Dalam konteks makro, PDRB Lampung pada 2025 telah mencapai Rp523,85 triliun dengan pertumbuhan 5,28 persen. Sektor pertanian dan peternakan menyumbang sekitar 26,90 persen dari total PDRB tersebut.
Dengan asumsi produksi 6.134 ton daging ayam pada harga sekitar Rp40.000 per kilogram, nilai tambah yang dihasilkan bisa menyentuh angka Rp100–150 miliar belum termasuk efek berganda dari investasi awal yang merupakan bagian dari Rp20 triliun secara nasional.
Proyeksi saya, dalam lima tahun ke depan, kontribusi sektor peternakan bisa menambah 1–2 persen ke PDRB Lampung. Itu bukan angka kecil.
Hal yang Perlu Kita Perhatikan Bersama
Tentu saja, setiap peluang besar selalu datang bersama tantangan yang tidak boleh diabaikan. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
Pertama, soal lingkungan. Dalam kerangka circular economy, skala peternakan sebesar ini berpotensi menghasilkan limbah yang cukup besar.
Apakah sudah ada rencana pengelolaan limbah yang komprehensif agar sungai-sungai di Lampung Selatan tidak terdampak? Ini pertanyaan yang perlu dijawab secara transparan oleh pengelola proyek.
Kedua, soal inklusivitas. Dominasi BUMN dalam proyek sebesar ini memang diperlukan untuk menjamin skala dan standar, namun perlu dipastikan bahwa peternak kecil lokal tetap mendapat ruang untuk tumbuh bukan justru tersingkir oleh mekanisme yang tidak adil.
Kekhawatiran tentang monopoli atau rent-seeking adalah sesuatu yang wajar diangkat dalam diskusi publik.
Ketiga, soal distribusi manfaat. PDRB yang meningkat belum tentu dirasakan merata oleh masyarakat Lampung Selatan. Jika sebagian besar nilai tambah mengalir ke luar daerah, maka pertumbuhan ekonomi yang tercipta tidak akan berdampak nyata pada pengurangan kemiskinan struktural di tingkat lokal.
Pemerintah daerah perlu memiliki strategi yang jelas untuk memastikan manfaat ekonomi ini benar-benar sampai ke masyarakat.
Penutup
Hilirisasi ayam di Lampung Selatan adalah peluang yang terlalu besar untuk dilewatkan. Potensinya nyata: menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk lokal, dan mendorong PDRB Lampung ke level yang lebih tinggi.
Namun, seperti halnya semua proyek besar, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas eksekusi dan komitmen semua pihak untuk menjaga keberlanjutan serta keadilan di dalamnya.
Pemerintah daerah tidak cukup hanya hadir di momen groundbreaking. Peran aktif dalam pengawasan, pemberdayaan peternak lokal, dan pengelolaan dampak lingkungan adalah kunci agar Lampung tidak sekadar menjadi lumbung, tetapi benar-benar menjadi pabrik protein nasional yang membanggakan. (*)
*Oleh: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan














