WartaNiaga.ID – Lampung Menuju Desa Regeneratif, melalui program Desaku Maju. Strategi membangun Indonesia dari desa adalah pilihan tepat dan bijaksana.
Saya masih ingat, 3 tahun lalu, berbincang dengan petani di Lampung Tengah. Keluhan mereka selalu sama: mahalnya pupuk kimia, sulfurnya tanah, dan panen yang tak menentu.
Kini, percakapan itu mulai berganti cerita. Mereka tak lagi cemas menanti jatah pupuk bersubsidi. Di sudut desa, satu per satu tong produksi pupuk organik cair mulai aktif. Dan dari situlah perubahan bergerak pelan tapi pasti.
Di tengah arus besar pembangunan nasional yang mengusung swasembada pangan, Lampung memilih jalan yang agak berbeda: tak melulu bicara proyek raksasa, tapi membangun dari dapur desa.
Lewat program Desa Kumaju, sasaran pemerintah Provinsi Lampung adalah menuju lahirnya desa regeneratif, yakni desa yang mampu memperbaiki tanahnya sendiri, menekan biaya produksi, dan pada akhirnya menyejahterakan warganya.
Data memang tak pernah berbohong. Per September 2025, angka kemiskinan Lampung tercatat 9,66 persen. Untuk pertama kalinya, masuk era satu digit. Penurunan 0,34 poin dalam enam bulan bukan sekadar catatan statistik.
Saya membaca ini sebagai titik balik: dari 500 unit produksi pupuk organik cair yang dibangun tahun lalu, dampaknya mulai terasa di kantong rumah tangga petani. Biaya tanam turun, hasil panen naik 20–25 persen, dan tanah mulai pulih dari ketergantungan kimia.
Yang menggembirakan, 2026 ini akan ditambah 1.000 titik baru. Hampir separuh lebih desa di Lampung bakal memiliki fasilitas produksi pupuk sendiri. Artinya, petani tak lagi jadi penunggu kebijakan, tapi pelaku utama.
Mereka mengolah kotoran ternak, limbah rumah tangga, sisa panen menjadi pupuk yang hidup. Bukan sekadar menyuburkan tanaman, tapi juga menghidupkan ekonomi warga.
Seorang penyuluh pertanian di Lampung Barat bercerita, “Sekarang petani kalau rapat kooperatif, bukan lagi rebutan pupuk, tapi bahas jadwal produksi dan perluasan pasar.” Saya tersenyum mendengarnya. Ini perubahan budaya yang tak kalah penting dari kenaikan produktivitas. Rasa memiliki tumbuh, kemandirian mulai berurat.
Tentu, pekerjaan rumah masih menumpuk. Pemasaran produk organik belum sepenuhnya terintegrasi. Kerja sama dengan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis, misalnya, bisa jadi jalan masuk untuk limbah dapur sekolah diolah jadi bahan baku pupuk.
Lingkaran ekonomi sirkular ini hanya perlu disambungkan. Juga soal pendampingan, agar kualitas pupuk terjaga dan kelompok tani tak berhenti di produksi, tapi mampu mengelola rantai nilainya.
Saya percaya, apa yang terjadi di Lampung adalah prototipe pembangunan desa yang manusiawi. Dimulai dari kebutuhan nyata petani, bukan dari proyeksi meja kantor. Bahan bakunya ada di desa, tenaga kerjanya warga sendiri, dan hasilnya untuk kesejahteraan bersama.
Jika target 1.500 titik produksi tercapai akhir tahun ini, Lampung tak hanya akan swasembada, tapi bisa menjadi lumbung pangan organik yang disegani.
Sebagai orang pernah bergulat di sektor pertanian dan perkebunan sayur, saya hanya ingin mengajak kita semua melihat: desa bukan tempat untuk ditinggalkan. Di tangan para petani, dengan dukungan kebijakan yang tepat, desa justru sedang membangun masa depan Indonesia.
Lampung telah memulainya. Semoga petani makin sejahtera.
*Oleh: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
















