WartaNiaga.ID – Simak Artikel OpiniMahe edisi kali ini, topik utama pembahasannya: AKA Express: Rahasia Warung Prasmanan Tetap Laris di Bandarlampung.
AKA Express: Rahasia Warung Prasmanan Tetap Laris di Bandarlampung
Oleh: Mahendra Utama*
Di tengah gempuran restoran modern dan aplikasi pesan-antar, Rumah Makan AKA Express di Jalan Radin Inten, Bandarlampung, justru tak pernah sepi.
Konsep prasmanan swalayan dengan harga mulai Rp15.000-an ini menjadi bukti bahwa ekonomi kerakyatan masih punya daya tahan.
Teori Modal Sosial Menjelaskan Loyalitas Pelanggan
Menurut sosiolog James S. Coleman, social capital adalah jaringan hubungan yang memfasilitasi aksi kolektif.
AKA Express membangun modal sosial lewat rutinitas: pelanggan antre, mengambil lauk sendiri, dan bertemu tetangga.
“Lokalitas menjadi komoditas langka di era homogenisasi,” tulis Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class (2002). AKA Express menjual lokalitas itu: menu rumahan tanpa gaya-gayaan.
Efisiensi Prasmanan dan Ekonomi Skala Kecil
Model swalayan menekan biaya tenaga kerja. Economies of scale skala kecil justru menguntungkan karena fleksibilitas stok dan porsi.
Teori distorsi pasar dari ekonom India, Amartya Sen, relevan: ketika rantai pasok modern rapuh, usaha lokal yang sederhana justru stabil.
Warung seperti AKA Express perlu dilindungi dalam rencana tata ruang dan kebijakan UMKM. Jangan sampai modernisasi menggusur akar ekonomi warga. (*)
———————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















