Ratu Sekekhumong merupakan ratu penguasa terakhir yang memimpin kerajaan Sekala Bekhak kuno yang hidup sekitar abad ke 12 Masehi. Ratu Sekekhumong memiliki hewan tunggangan yaitu seekor harimau.
Ratu Sekekhumong memiliki seorang putra dan seorang putri dari pernikahannya dengan Pun Beliau Pangeran Umpu Betawang, yaitu Pangeran Kekuk Suik dan Putri Sindi.
Kerajaan Sekala Bekhak di bawah kepemimpinan Ratu Sekekhumong menorehkan sejarah panjang yang merupakan penutup dari segala kisah kerajaan yang menganut kepercayaan Hindu-Animisme.
Baca Juga : Menatap Suoh Dari Sebuah Jejak Sejarah
Pada masa kepemimpinan Ratu Sekekhumong persembahan korban sepasang perjaka tampan dan perawan jelita masih terus dilakukan di atas batu kepampang (sebuah batu yang terletak di Kenali Lampung Barat yang kini telah dijadikan cagar budaya oleh Pemprov Lampung), dan perbedaan kasta menciptakan kesenjangan antara kaum Saibatin dan kaum budak.
Pada masa itu pekon tempat para budak yaitu di Pekon Bahway dan Pekon Hujung Langit (lereng Gunung Pesagi).
Masa kejayaan Ratu Sekekhumong berakhir setelah kedatangan lima lelaki dari Kerajaan Peureulak (seterusnya merupakan Kerajaan Pasai).
Kelima lelaki tersebut adalah Maulana Penggalang Paksi, Maulana Pernong, Maulana Nyekhupa, Maulana Belunguh, dan Maulana Bejalan di Way (selanjutnya disebut sebagai Paksi Pak).
Kedatangan Penggalang Paksi dan Paksi Pak dengan misi penyebaran Agama Islam tentu saja mendapat tentangan dari Ratu Sekekhumong.
Ajakan Penggalang Paksi dan Paksi Pak untuk memeluk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dijawab dengan senjata oleh Ratu Sekekhumong.
Ratu penguasa Sekala Bekhak bersikeras untuk mempertahankan keyakinan para leluhur. Akan tetapi, ada sebagian masyarakat Kerajaan Sekala Bekhak yang secara diam-diam mengikuti ajaran baru tersebut.
Salah satunya yaitu Putri Sindi Putri dari Ratu Sekekhumong, yang kemudian menikah dengan Buay Belunguh (pernikahan dilakukan dengan istiadat Sebambangan yaitu dengan cara melarikan si gadis, kemudian meninggalkan atau menitipkan keris, kepingan emas atau uang, dan surat sebagai pemberitahuan bahwa si gadis telah melakukan sebambangan).
















