Selamat Hari Raya, Doa Dibalik Takbir 1 Syawal 1447 H

Doa Dibalik Takbir 1 Syawal 1447 H
Ilustrasi: Puisi Karya Mahendra Utama, "Selamat Hari Raya, Doa Dibalik Takbir 1 Syawal 1447 H". (Sumber Foto: IRZ/Ist).

WartaNiaga.ID – Selamat Hari Raya, Doa Dibalik Takbir 1 Syawal 1447 H, merupakan sebuah judul puisi karya Mahendra Utama, tercipta pada 22 Maret 2026.

Berikut ini puisi terbaru, karya Mahendra Utama:

Selamat Hari Raya, Doa Dibalik Takbir 1 Syawal 1447 H
Karya: Mahendra Utama

Dari pesisir Lampung yang membentang luas,
ombak membawa doa sejak lahir menyusup darah
Duabelas Desember tujuh puluh empat,
nama Mahendra mulai dicatat langit
di balik tabir gudang-gudang rempah,
di bawah gemuruh takbir pertama yang basah.

Di Maninjau, air danau menepi memeluk rindu,
adat basandi syarak, syarak basandi Kitab
ayah mengajarkan keseimbangan dalam sujud,
ibu merawat cinta dalam dendang kaba.
Dua tanah merajut satu ruh:
Lampung Pesisir menggenggam saibatin hati,
Minang melembutkan kata dalam sembahyang sunyi.

Kemudian hidup membentang jalan,
berliku seperti muara yang tak pernah lelah.
Ada tangis di balik senyum, ada letih di balik sujud,
namun Allah menuliskan nikmat yang tak terhitung:
isteri teduh di pelukan, anak-anak menjadi permata,
rezeki mengalir seperti gelombang Teluk
semua kuasa-Nya yang membalut tiap luka.

Kala rembulan naik di puncak pepadun,
dan surau-surau tua di lereng Maninjau memanggil,
aku belajar: syukur bukan sekadar kata,
melainkan rukuk yang tak pernah putus.
Dari pesisir yang memeluk Samudra
hingga daratan tinggi yang menyentuh awan,
takbirku adalah napas yang menjalin iman.

Kini 1 Syawal 1447 H tiba,
di pelataran rumah yang kecil namun luas berkah.
Zikir mengalun dari anak-anak yang khusyuk,
isteri menggenggam tanganku dalam doa
seluruh keluarga adalah bukti kasih-Mu,
perjalanan setengah abad lebih
hanyalah setitik dari samudera anugerah.

Takbir menggema, menembus batas budaya,
Lampung dan Minang melebur dalam saf yang sama:
kita hamba yang bersimpuh di ujung syukur,
menyadari tiap detik adalah utang pada-Mu.
Ampunilah dosa yang menggumpal di perjalanan,
peliharalah keluarga dalam naungan rahmat,
jadikan kematian sebagai pertemuan paling indah.

Maka di hari yang suci ini,
kupanjatkan doa di balik setiap gemuruh takbir:
jadikan kami keluarga yang selalu ingat,
yang tak pernah lelah berbagi dan memaafkan.
Dari Pesisir hingga Maninjau,
dari bumi ke langit-Mu,
Ya Rabb, terimalah syukur hamba-Mu yang fakir ini.

○Segalamider, 22 Maret 2026

Bagi para pengunjung setia wartaniaga.id dan seluruh khalayak pembaca, semoga narasi dan setiap bait-bait puisi di atas bermanfaat dan memberikan inspirasi, sekian dan terimakasih. (*)