Semakin lama semakin banyak yang mengikuti ajakan memeluk agama Islam setelah mengetahui tujuan mulia dari ajaran yang dibawa dari Kerajaan Peureulak tersebut.
Kedatangan mereka bukan karena ingin merebut kekuasaan, melainkan untuk mewartakan tentang Tuhan Yang Satu, kesamaan derajat dan penghapusan kasta, karena di mata Tuhan Yang Maha Esa manusia itu sama derajatnya.
Keluarga prajurit, pengawal, dan tetua kerajaan Sekala Bekhak yang masih berpegang pada keyakinannya, mereka menentang ajaran baru dan memilih jalan perang sebagai ungkapan penolakan mereka.
Usaha damai tak putus dilakukan oleh Penggalang Paksi dan Paksi Pak, tetapi Ratu Sekekhumong tetap menolak. Perang pun tak dapat dihindari. Pasukan yang dipimpin oleh Paksi Pak disebut sebagai Tentara Syahadat.
Baca Juga : Dukung Taman Bumi (Geopark) Suoh
Tentara Syahadat mendapat bantuan dari pasukan Buay Kenyangan (Kerajaan Buay Kenyangan terletak di tengah hutan di sebelah timur kaki gunung pesagi, Umpu Kenyangan lebih memilih ketentraman sehingga menolak untuk bersekutu dengan Dapunta Beliau Ratu Sekehumong.
Lambang dari Kerajaan Buay Kenyangan yaitu Kijang melompati tebing, yang kemudian menjadi lambang dari Kepaksian Pernong).
Pada masa perang saudara tersebut, banyak prajurit dari pasukan Tentara Syahadat yang menggunakan topeng (dengan bahan kain yang disebut dengan Sekura) untuk menutupi wajah mereka. Perang tersebut banyak menewaskan para pejuang keyakinan masing-masing.
Perang yang melelahkan akhirnya dimenangkan oleh Tentara Syahadat. Kekalahan pasukan Ratu Sekekhumong yaitu ditandai dengan penebangan pohon suci Melasa Kepampang oleh Buay Pernong dengan menggunakan Keris Arya Istinjak Darah (merupakan pusaka kebesaran Kesaibatinan Kepaksian Pernong).
Setelah kekalahan Ratu Sekekhumong dan suku tumi, kebesaran Pepadun (singgasana) kerajaan Sekala Bekhak terputus, karena Pangeran Kekuk Suik telah dibawa pergi meninggalkan lamban dalom oleh pasukan yang diperintahkan oleh Ratu Sekhehumong.
















