Selain masyarakat Saibatin dan Pepadun, masyarakat pendatang pun diterima dengan baik di Bumi Sekala bekhak ini.
Semboyan yang diusung oleh Kerajaan Paksi Pak Sekala bekhak yaitu “Seangkonan, Seandanan, Seuyunan, dan Sekahutan” yang artinya saling merasa bersaudara, saling mengurus, saling membantu, dan saling menyayangi.
Budaya dan warisan benda-benda bersejarah dari leluhur dari Kepaksian Sekala bekhak masih dijaga dan disimpan di dalam Lamban Dalom dan kini dijadikan sebagai cagar budaya dan kebanggaan masyarakat Bumi Sekala Bekhak.
Potongan dari pohon melasa kepampang dijadikan sebagai pepadun di lamban dalom Buay Belunguh di Kenali.
Sejarah panjang yang telah dituliskan oleh para pejuang yang memimpikan kedamaian dan ketentraman di Bumi Sekala Bekhak telah terwujud. Buay Tumi dan kesaktian kepampang melasa telah musnah.
Akan tetapi kitalah sebagai generasi penerus yang mengemban tugas untuk menjaga dan melestarikan budaya dan bahasa dari para leluhur yang telah mempertaruhkan hidupnya. Menjaga sejarah, menjaga, bahasa, menjaga aksara (had) Ka Ga Nga, dan menjaga budaya Lampung agar tidak musnah.
Tentang Penulis
Penulis bernama lengkap Mahdalena, tempat lahir di Way Tenong Lampung Barat, 25 Oktober 1983 silam.
Artikel sejarah ini diadaptasi dari sebuah novel sejarah dan penulis banyak mendapat masukan dan motivasi oleh penulis novel sejarah tersebut.
Dengan tujuan dan harapan yang sama yaitu menjaga dan melestarikan budaya Lampung, semoga tulisan ini dapat bermanfaat.
















