Potensi Besar Kakao Lampung, Butuh Dorongan Hilirisasi

Potensi Besar Kakao Lampung
Ilustrasi Pohon Kakao. (Sumber Foto: Meta AI).

WartaNiaga.ID – Hasil perkebunan rakyat di wilayah Lampung salah satunya adalah kakao. Potensi besar kakao Lampung sangat membutuhkan dorongan hilirisasi.

Provinsi Lampung patut berbangga sebagai salah satu lumbung kakao nasional. Dalam periode 2020-2025, produksi kakao daerah ini stabil di kisaran 45.000-58.000 ton per tahun, dengan puncak sekitar 58.852 ton pada 2020.

Kabupaten Pesawaran, Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Lampung Tengah menjadi tulang punggung, menyumbang mayoritas panen dari kebun rakyat.

Namun, tantangan tetap ada. Produktivitas Lampung (sekitar 700-900 kg/ha) masih kalah jauh dari Pantai Gading dan Ghana, yang mendominasi pasokan dunia dengan jutaan ton berkat intensifikasi dan pengendalian OPT lebih efektif.

Indonesia, termasuk Lampung, perlu belajar dari teori comparative advantage David Ricardo: fokus pada keunggulan alam tropis kita, tapi tingkatkan efisiensi agar tak hanya jadi pemasok bahan baku.

Kabar gembira datang dari kebijakan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto patut diapresiasi atas komitmennya memperkuat sektor pertanian dan perkebunan sebagai pondasi ekonomi rakyat.

Begitu pula Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang gigih mendorong program intensifikasi kakao, rehabilitasi tanaman tua, dan hilirisasi.

Kepala daerah di Lampung, khususnya yang pro-petani seperti di Pesawaran dan Tanggamus, juga layak mendapat acungan jempol karena mendampingi petani menghadapi hama dan pasar.

Dengan dorongan ini, kakao Lampung bukan sekadar komoditas, melainkan harapan kesejahteraan petani. Hilirisasi lebih masif dari biji hingga cokelat batangan bisa jadi game changer.

Mari kita optimalkan potensi besar kakao lampung ini, demi kesejahteraan petani kakao di Lampung dan demi Indonesia yang lebih maju. (*)

 

 

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan