Diam-diam Kuasai Pasar Global, Edamame dan Okra Indonesia Siap Jadi Emas Hijau Baru

Edamame dan Okra Indonesia
Ilustrasi Edamame dan Okra. (Sumber Foto: Meta AI).

WartaNiaga.ID – Sayuran beku asal Indonesia, yakni Edamame dan Okra sukses kuasai pasar global, dua komoditas ini layak menyandang gelar “emas hijau” baru.

Di tengah sorotan pada komoditas besar seperti sawit dan nikel, dua sayuran “sunyi” asal Indonesia justru secara konsisten menembus pasar ekspor dunia: edamame dan okra.

Berbekal standar kualitas tinggi dan iklim tropis, keduanya membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi pemasok produk pertanian bernilai tambah yang diandalkan pasar global.

Potensi Pasar dan Kinerja Ekspor

Data menunjukkan bahwa permintaan global untuk kedua komoditas ini solid, dengan Indonesia telah menorehkan capaian signifikan.

Edamame

  • Pasar Global: Kebutuhan dunia diperkirakan mencapai 100.000 ton per tahun, dengan Jepang sebagai konsumen utama (70%).
  • Pencapaian Indonesia: Pada 2019, ekspor edamame Indonesia mencapai 6.790,7 ton ke 13 negara, termasuk Jepang, AS, Australia, dan Belanda. Jepang tetap menjadi pasar dominan, menyerap 80% ekspor dari produsen utama seperti PT Mitratani Dua Tujuh (MDT).

Okra

  • Pasar Global: Lonjakan permintaan didorong tren pangan sehat global.
  • Pencapaian Indonesia: Pada 2023, nilai ekspor okra segar Indonesia mencapai USD 16.08 juta dengan volume 8.710 ton. Jepang juga menjadi importir terbesar, menguasai 93.55% pangsa ekspor.

Strategi Korporasi: PT Mitratani Dua Tujuh sebagai Lokomotif

Kesuksesan ekspor ini tidak lepas dari peran korporasi. PT Mitratani Dua Tujuh (MDT), anak usaha PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), adalah pionir sekaligus pemain utama.

Model Bisnis dan Skala Operasi

Sejak 2020, MDT mengelola lahan seluas 450 hektare yang dibagi dalam tiga siklus tanam untuk memastikan kontinuitas produksi.

Penerapan standar mutu internasional yang ketat (higienitas, bebas pestisida, sertifikasi keamanan pangan) menjadi kunci diterimanya produk di pasar premium seperti Jepang dan Eropa.

Skema kemitraan dengan petani lokal di sentra produksi seperti Jember menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan dan menjamin kualitas bahan baku.