Emas Berbulu di Sang Bumi Ruwa Jurai: Menakar Potensi Ekonomi Kambing Lampung 2020-2025

Menakar Potensi Ekonomi Kambing Lampung
Ilustrasi: Peternakan Kambing di Lampung Diproyeksikan Jadi Kekuatan Ekonomi Raksasa.(Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi kali ini topik utama pembahasannya tentang Menakar Potensi Ekonomi Kambing Lampung tahun 2020-2025.

 

Emas Berbulu di Sang Bumi Ruwa Jurai: Menakar Potensi Ekonomi Kambing Lampung 2020-2025
Oleh: Mahendra Utama*

 

Perekonomian Lampung sering kali terlanjur identik dengan aroma kopi, lada, atau hamparan nanas yang luas.

Namun, jika kita menelisik lebih dalam ke halaman belakang rumah-rumah petani di pelosok desa, terdapat potensi “emas berbulu” yang terus beranak-pinak secara masif: sektor peternakan kambing.

Dalam kurun waktu 2020 hingga proyeksi 2025, komoditas ini bukan lagi sekadar usaha sampingan peternak gurem, melainkan instrumen strategis yang menjadi pilar stabilitas ekonomi perdesaan.

Ledakan Populasi: Bukan Sekadar Angka Statistik

Sejak tahun 2020, grafik populasi kambing di Lampung menunjukkan tren pendakian yang impresif meski sempat dihantam badai pandemi COVID-19.

Jika pada periode 2018-2019 populasi masih tertahan di angka 1,4 juta ekor, data terbaru BPS tahun 2024 menunjukkan lonjakan yang melampaui ekspektasi, yakni mencapai 1.966.835 ekor.

Kenaikan yang menyentuh angka hampir 2 juta ekor ini membuktikan bahwa ekosistem peternakan di Lampung memiliki daya tahan (resilience) yang luar biasa di tengah fluktuasi ekonomi global.

Secara geografis, konsentrasi kekuatan ternak ini terpusat di wilayah tengah dan timur. Lampung Tengah mengukuhkan diri sebagai episentrum utama dengan populasi mencapai 495.969 ekor, menyumbang hampir seperempat dari total populasi provinsi.

Di posisi kedua, Lampung Timur menyusul dengan 339.829 ekor, disusul oleh Tanggamus yang mencatatkan 212.956 ekor. Sementara itu, wilayah Tulang Bawang Barat dan Lampung Utara masing-masing memberikan kontribusi signifikan dengan populasi sebesar 164.140 dan 156.006 ekor.

Distribusi ini menunjukkan bahwa ketersediaan limbah pertanian seperti jagung dan singkong di wilayah-wilayah tersebut telah berhasil dikonversi menjadi protein hewani yang bernilai tinggi.

Rantai Nilai Ekonomi dan Konsumsi Nasional

Berbicara potensi pendapatan, angka-angka di atas bukanlah sekadar pajangan di atas kertas. Jika kita menggunakan asumsi moderat harga satu ekor kambing potong sebesar Rp2.500.000, maka nilai aset biologis ternak kambing di Lampung pada tahun 2025 diperkirakan menembus angka fantastis: Rp4,9 triliun.

Ini adalah angka yang masif bagi ekonomi kerakyatan, bahkan sebelum menghitung nilai tambah dari produk turunan seperti susu etawa yang permintaannya melonjak pasca-pandemi, serta pemanfaatan pupuk organik yang mendukung pertanian berkelanjutan.

Dari sisi konsumsi, Lampung tidak hanya memenuhi piring warganya sendiri. Dengan estimasi konsumsi lokal dan pengiriman ke luar daerah yang mencapai 15.000 hingga 20.000 ton per tahun, Lampung telah menjelma menjadi “pompa protein” bagi wilayah Jabodetabek.

Fenomena ini memperkuat posisi Lampung dalam rantai pasok nasional, terutama dalam menjaga stabilitas harga daging di tingkat regional.

Analisis Kritis: Kontribusi PDRB dan Teori Pembangunan

Secara teoritis, pertumbuhan ini selaras dengan Teori Basis Ekonomi (Economic Base Theory) yang dikembangkan oleh Homer Hoyt. Sektor peternakan Lampung telah menjadi “sektor basis” yang mampu mengekspor produknya ke luar wilayah, sehingga mendatangkan aliran modal masuk (capital inflow) ke daerah.

Kontribusi subsektor peternakan yang berkisar di angka 4,4% hingga 4,7% terhadap PDRB Lampung bukan sekadar angka desimal. Ia adalah katup pengaman sosial.

Peternakan kambing berfungsi sebagai buffer ekonomi atau tabungan hidup bagi petani. Ketika harga komoditas perkebunan jatuh, kambing adalah aset likuid yang menjaga daya beli masyarakat perdesaan agar tidak jatuh ke bawah garis kemiskinan.

Visi Kepemimpinan: Apresiasi untuk Langkah Strategis

Akselerasi di sektor peternakan ini tentu memerlukan dirigen yang tepat. Langkah-langkah strategis yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Lampung patut mendapatkan apresiasi, terutama di bawah kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Gubernur Mirza secara jeli melihat bahwa kunci dari kedaulatan pangan bukan hanya pada produksi, melainkan pada penguatan ekosistem hilirisasi dan kemandirian pakan.

Komitmen Iyai Mirza dalam mendorong inovasi pakan mandiri berbasis limbah pertanian lokal adalah solusi konkret atas masalah klasik peternak.

Dalam sebuah kesempatan, Gubernur Mirza menegaskan visinya: “Lampung harus menjadi lumbung protein nasional yang modern. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton, tapi harus menjadi pemain utama dalam rantai pasok pangan Indonesia.”

Visi ini memberikan harapan baru bahwa peternakan di Lampung akan bertransformasi dari cara-cara tradisional menuju industri yang lebih efisien dan terdigitalisasi.

Kesimpulan

Kambing di Lampung bukan lagi sekadar peliharaan, melainkan tulang punggung ekonomi yang nyata. Dengan populasi yang terus mendekati angka 2 juta ekor pada 2025, provinsi ini telah berada di rel yang benar.

Tantangan ke depan bagi kita sebagai pemerhati pembangunan adalah memastikan bahwa pertumbuhan kuantitatif ini diiringi dengan peningkatan kualitas genetik ternak dan kesejahteraan peternak itu sendiri. (*)

 

 

*Penulis: Mahendra Utama adalah, Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Preskom PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020, dan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak Juli 2023-Desember 2025.