Membedah Lonjakan 121% Populasi Domba di Lampung: Sebuah Pelajaran Ekonomi Sirkular

Populasi Domba di Lampung
Ilustrasi: OpiniMahe: Membedah Lonjakan 121% Populasi Domba di Lampung: Sebuah Pelajaran Ekonomi Sirkular. (Sumber Foto: Dok. WANI).

WartaNiaga.IDSimak Artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Membedah Lonjakan 121% Populasi Domba di Lampung: Sebuah Pelajaran Ekonomi Sirkular.

 

Membedah Lonjakan 121% Populasi Domba di Lampung: Sebuah Pelajaran Ekonomi Sirkular
Oleh: Mahendra Utama*

 

Ada sebuah fenomena menarik sekaligus positif dari Provinsi Lampung: populasi domba melonjak drastis hingga 121%.

Sementara itu di sisi lain, populasi kambing justru mengalami penurunan tipis sebesar 2,38%. Data ini bukanlah sekadar fluktuasi pasar biasa. Ini adalah sinyal perubahan besar.

Dengan kacamata Ekonomi Sirkular dan Teori Modernisasi Pertanian, kita bisa membaca pergeseran ini sebagai respons cerdas para peternak terhadap daya dukung lingkungan dan tuntutan efisiensi rantai pasok.

Mengapa Domba Lebih Cocok dengan Ekosistem Lampung?

Jawabannya terletak pada perbedaan mendasar perilaku makan keduanya. Kambing adalah browser, hewan yang pemilih dan gemar menggapai dedaunan atau pucuk pohon.

Sebaliknya, domba adalah grazer, yang dengan senang hati merumput di permukaan tanah.

Di Lampung, yang merupakan sentra pangan dan lumbung ternak, karakter domba jauh lebih kompatibel dengan sistem pertanian terpadu.

Provinsi ini memiliki limpahan limbah agroindustri yang belum termanfaatkan maksimal, seperti kulit singkong dari pabrik tapioka dan tebon jagung usai panen.

Di sinilah keunggulan domba: mereka memiliki tingkat adaptasi dan efisiensi konversi pakan yang sangat tinggi terhadap pakan fermentasi (silase) berbahan limbah ini. Peternak cukup memanfaatkan biomassa lokal yang berlimpah dan murah.