WartaNiaga.ID – Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera, merupakan artikel opini yang ditulis oleh Mahendra Utama.
Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera Oleh: Mahendra Utama*
Pada 21 Agustus 2025, media lokal Lappung.com memberitakan bahwa “lesunya permintaan tapioka di pasar global sepanjang 2024–2025 menimbulkan dampak serius bagi petani singkong di Lampung” (lappung.com).
Berita ini bukan hanya mencerminkan dinamika pasar global tapi juga mengingatkan kita bahwa kebijakan nasional dan lokal harus segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata.
Dampak Nyata Saat Ini
Menurut ANTARA, sejak Desember 2024, sebagian besar pabrik tapioka di Lampung bahkan hingga berhenti beroperasi, menambah tekanan pada harga di tingkat petani. Patut dicatat kondisi nyata seperti tahun lalu, menjadikan HET singkong itu Rp900 per kilogram meski setelah potongan 15–20%, petani hanya mendapatkan pendapatan tidak lebih dari Rp1 juta per bulan.
Tak kalah penting, DPR telah memperingatkan bahwa importasi tapioka yang masif turut memperburuk situasi.
Baca juga: Capaian Gemilang dan Keberlanjutan Strategis PTPN Holding, Oleh: Mahendra Utama
KPPU mencatat adanya impor 59 ribu ton senilai Rp511 miliar—angka ini menimbulkan kekhawatiran jika mencapai 100 ribu ton (Rp1 triliun) atau lebih.
Bahkan, Baleg DPR menyatakan akan memanggil semua pemangku kepentingan untuk mencari solusi konkret dan data yang akurat.
Dari Pengamat: Harus Ada Hilirisasi
Pengamat pertanian secara tegas menyarankan agar dilakukan hilirisasi agar pasokan terserap dengan baik sehingga harga tidak anjlok.
Malah, sudah hampir sepuluh tahun sebelumnya muncul usulan serupa: jangan hanya jual singkong mentah.
Petani didorong mengolah sendiri menjadi produk bernilai tambah—seperti bioetanol skala rumah, tepung mocaf, keripik, cassava chip, tiwul, opak, dan olahan siap konsumsi lainnya.
Pemicu kebangkitan koperasi petani juga disebut sebagai kunci mendesak untuk mengatasi dominasi pihak tertentu yang sering mengatur harga.
Selain itu, MSI (Masyarakat Singkong Indonesia) juga telah lama mengusulkan agar singkong dijadikan pangan strategis, serupa kebijakan terhadap padi, jagung, dan kedelai, agar ada cakupan dukungan kebijakan dan sumber daya yang memadai.
Rekomendasi Kebijakan: Apa yang Harus Dilakukan?
Bagi Petani Singkong Lampung:
1. Perluas hilirisasi mandiri: Tingkatkan kemampuan mengolah singkong menjadi produk bernilai tambah—multiproduk seperti keripik, mocaf, bioetanol rumah tangga, dll.
2. Perkuat koperasi dan jejaring lokal: Bangun koperasi kuat yang bisa memperjuangkan harga adil, mengakses permodalan, dan berbagi fasilitas pengolahan.
3. Adopsi inovasi agronomi modern: Tingkatkan produktivitas melalui varietas unggul, efisiensi input, mekanisasi, dan pelatihan lanjutan.
Bagi Pemerintah Daerah (Pemprov & Pemkab Lampung):
1. Fasilitasi pendirian sentra pengolahan skala mikro & menengah.
2. Permudah akses permodalan melalui kerja sama dengan lembaga keuangan.
3. Dorong pengembangan bioetanol rumah tangga sebagai diversifikasi produk.
Bagi Pemerintah Pusat:
1. Atur impor secara transparan dengan kuota ketat.
2. Tetapkan singkong sebagai pangan strategis agar ada alokasi dukungan setara padi, jagung, dan kedelai.
3. Bangun kebijakan hilirisasi nasional untuk menggarap pasar tapioka fungsional yang kini berkembang di dunia.
4. Investasi R&D dan teknologi pengolahan untuk mendorong produk singkong ke arah pangan fungsional dan bioenergi.
Penutup: Sinergi Jadi Kunci
Lampung adalah lumbung singkong nasional—penghasil 40% produksi nasional dan menyumbang devisa hingga Rp10 triliun, belum termasuk onggok dan hasil sampingan lainnya.
Baca juga: PTPN I Pasca Transformasi: Jejak Keberhasilan dan Tantangan Ke Depan, Oleh Mahendra Utama
Namun tanpa sinergi dari hulu ke hilir: petani, koperasi, pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat—nasib mereka tak akan berubah.
Sebuah pergerakan berkelanjutan perlu dibangun, bukan hanya reaktif terhadap situasi mendesak.
Singkong Lampung bisa bangkit dari keterpurukan hari ini dengan kolaborasi nyata, inovasi, dan kebijakan berpihak. Kini saatnya bertindak — bukan menunggu. (*)
———————————————————————
*Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
Sumber Data:
– Lappung.com, 21 Agustus 2025
– ANTARA, 2025
– CNBC Indonesia, 25 Juni 2025
– Detik Finance, Juli 2025
– Gerindra.id, 16 Juli 2025
– Kontan, 2025
– Antara Lampung, 2021
– Future Market Insights, 2025
– Data Bridge Market Research, 2025
















