WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Pintu Tol Simpang Pematang: Berkah atau Kutukan Ekonomi Bagi Mesuji?
Pintu Tol Simpang Pematang: Berkah atau Kutukan Ekonomi Bagi Mesuji?
Oleh: Mahendra Utama*
Kehadiran Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) yang membelah Provinsi Lampung menumbuhkan harapan baru bagi konektivitas daerah.
Bagi Kabupaten Mesuji yang terletak di ujung paling utara, keberadaan pintu tol Simpang Pematang laksana sebuah gerbang emas.
Namun, sebagai koridor lintas logistik antarprovinsi, posisi strategis ini sebenarnya menyimpan sebuah paradoks besar: apakah infrastruktur modern ini akan menjadi pengungkit kemakmuran lokal, atau justru mempercepat arus pelarian modal keluar dari Bumi Ragab Beguai Caram?
Dalam kacamata ekonomi makro, fenomena ini dapat dibedah menggunakan Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Pole) yang dikembangkan oleh ekonom Albert Hirschman.
Teori ini mengingatkan kita tentang adanya dua efek ganda yang saling bertarung ketika sebuah konektivitas baru dibuka: efek sebaran (spread effect) yang membawa dampak positif kemakmuran, dan efek sedotan (backwash effect) yang justru merugikan.
Tanpa kesiapan struktur ekonomi internal yang matang, keberadaan pintu tol justru berisiko tinggi menyedot potensi ekonomi lokal baik SDM maupun modal mentah secara masif menuju ke pusat pertumbuhan yang lebih mapan seperti Bandar Lampung atau Palembang.
Mesuji tidak boleh hanya menjadi penonton pasif saat truk-truk logistik raksasa melintas tanpa meninggalkan nilai tambah riil bagi masyarakat setempat.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam sebuah kesempatan penting pernah menegaskan visi besarnya mengenai keadilan infrastruktur ini.
“Infrastruktur tol harus menjadi jembatan kemakmuran bagi warga sekitar, bukan sekadar jalan bebas hambatan bagi komoditas luar. Daerah seperti Mesuji harus menangkap peluang ini dengan menciptakan hilirisasi dan ekosistem ekonomi lokal yang kuat,” tegas Rahmat Mirzani Djausal.
Mesuji sejatinya memiliki modalitas ekonomi yang luar biasa melalui hamparan perkebunan kelapa sawit dan karet rakyat. Namun, tantangan struktural yang dihadapi adalah tingginya ketergantungan pada penjualan komoditas mentah.
Saat harga komoditas global mengalami fluktuasi, daya beli dan ketahanan ekonomi warga pedesaan di Mesuji langsung goyah.
Oleh karena itu, menjadikan pintu tol Simpang Pematang sebagai sebuah berkah membutuhkan keberanian politik untuk menggeser orientasi ekonomi.
Pemda harus bergerak dari sekadar mengandalkan eksploitasi lahan menuju pada penguatan kapasitas olah.
Langkah taktis seperti mengintegrasikan produk UMKM di rest area tol dan memfasilitasi pembangunan kawasan pergudangan logistik terpadu di sekitar pintu tol harus segera dieksekusi.
Jika momentum emas ini dilewatkan, ketakutan Hirschman tentang backwash effect yang merugikan daerah pinggiran akan benar-benar menjadi kenyataan pahit di Mesuji. (*)
—————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















