WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, topik utamanya adalah: Strategi Hilirisasi Gula Aren dan Gula Kelapa Lampung.
Strategi Hilirisasi Gula Aren dan Gula Kelapa Lampung: Dari Komoditas Mentah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi Tinggi
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung selama ini dikenal sebagai lumbung pangan Sumatra, namun potensi gula aren dan gula kelapa masih sekadar “raksasa tidur” yang belum teroptimalkan.
Ribuan keluarga di Tanggamus, Pringsewu, hingga Lampung Tengah menggantungkan hidup pada tetesan nira, namun nilai tambah yang dinikmati masih minim karena produk dijual dalam bentuk mentah.
Di tengah geliat hilirisasi nasional, akankah Lampung terus menjadi penonton di negeri sendiri?
Potensi Terpendam di Bumi Ruwa Jurai
Gula aren dan gula kelapa Lampung memiliki keunggulan komparatif yang tak perlu diragukan. Sayangnya, data Badan Pusat Statistik masih menggabungkannya dalam kategori “gula merah” sehingga komoditas rakyat ini “tak terlihat” dalam perencanaan pembangunan.
Ironisnya, pasar justru berbicara berbeda. Secara nasional, konsumsi gula mencapai 28,23 kg per kapita pada 2023, dan tren produk kesehatan berbasis gula aren dengan indeks glikemik rendah terus meningkat di pasar global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi perkebunan menjadi strategi penting dalam meningkatkan nilai tambah, daya saing ekspor, serta kesejahteraan pekebun.
Namun realitas di Lampung, para perajin gula masih beroperasi di sektor informal tanpa akses ke teknologi pengemasan modern atau pelatihan manajemen bisnis.
Belajar dari Terobosan Daerah Lain
Saat Lampung masih berkutat dengan data dan fragmentasi petani, daerah lain sudah melesat.
Kalimantan Timur, misalnya, serius menggarap hilirisasi aren dengan memperkuat sisi hulu mulai dari lahan hingga bibit unggul bersertifikat.
Dinas Perkebunan Kaltim mendorong petani menggunakan benih berkualitas untuk menjamin keberlanjutan bahan baku .
Terobosan lebih menarik datang dari Bangka Belitung. Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bangka meluncurkan produk gula kelapa merek “AYCO” (Sayang Kelapa Ku) sebagai jawaban atas tren pasar gula semut global.
Mereka membangun merek, mengurus registrasi resmi di UPTD Kemasan, dan memastikan bahan baku murni dari mayang kelapa tanpa campuran. Langkah ini menjadi contoh bagaimana produk rakyat bisa naik kelas dengan pendekatan modern.
Di Banyumas, inovasi varietas kelapa Genjah Bali Kuning menjadi game changer. Dengan tinggi pohon hanya empat meter, masa panen 2,5 tahun, dan produktivitas 8-10 kg nira per hari, petani bahkan bisa menyadap tanpa memanjat. “Ini bukan sekadar inovasi, tapi revolusi,” kata Bupati Banyumas .
Angin Segar Hilirisasi Lampung
Kabar baiknya, Lampung mulai dilirik. Pemerintah mengalokasikan dana Rp180 miliar untuk peremajaan tanaman di sektor hulu pada Desember 2025, disusul pembangunan pabrik pengolahan di sektor hilir tahun 2026.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyadari ironi bahwa 60 persen ekspor kopi Indonesia berasal dari Lampung, namun 70 persen uang hasil produksi justru keluar daerah.
“Jika aliran itu tetap berputar di Lampung melalui hilirisasi, pertumbuhan ekonomi kita akan meningkat signifikan,” tegasnya.
Dalam Lampung Economic and Investment Forum (LEIF) 2025, Gubernur menegaskan komitmen menjadikan Lampung pusat hilirisasi lima komoditas strategis: kelapa, kopi, lada, ubi kayu, dan udang .
Strategi Hilirisasi yang Dibutuhkan
Teori ekonomi pembangunan mengajarkan bahwa hilirisasi sejati berarti mengubah produk primer menjadi barang jadi bernilai tambah tinggi.
Gula aren Lampung selama ini masih dijual sebagai komoditas mentah gula cetak batok atau gula semut curah. Belum ada pengembangan menjadi gula aren bubuk premium sachet, sirup glukosa organik, atau bioetanol.
Mengadopsi konsep value chain Michael Porter, Lampung perlu melakukan:
1. Penguatan hulu dengan penyediaan bibit unggul seperti kelapa Genjah yang direkomendasikan Kementan.
2. Standardisasi mutu dan sertifikasi halal, organik, SNI untuk tembus pasar ekspor.
3. Branding dan kemasan modern seperti dilakukan SMSI Bangka dengan merek AYCO.
4. Kelembagaan petani melalui koperasi atau korporasi agar memiliki posisi tawar.
Apresiasi untuk Para Pejuang
Di tengah segala tantangan, kita harus memberi apresiasi kepada para penyadap nira yang setiap pagi memanjat pohon dengan risiko tinggi.
Kepada kelompok seperti KWT Mawar di Lampung Tengah yang berani belajar desain kemasan dan go digital, kita saksikan semangat kewirausahaan yang tak pernah padam.
Pemerintah daerah, akademisi Unila, dan LSM yang melakukan pendampingan layak mendapat acungan jempol.
Kesimpulan
Komoditas gula aren dan gula kelapa Lampung adalah ironi klasik: kaya di ladang, miskin di nilai tambah. Dengan investasi Rp180 miliar dan komitmen hilirisasi, momentum ini tak boleh disia-siakan.
Jangan biarkan potensi hanya manis di bibir, saatnya wujudkan hilirisasi sejati agar Lampung bukan sekadar penonton, melainkan pemain utama di kancah nasional dan global. (*)
——————————————————————–*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















