WartaNiaga.ID – Bandara Raden Inten II kembali berstatus bandara internasional. Penerbangan Internasional Lampung-Kuala Lumpur, akan membuka gerbang ekonomi.
Penerbangan Internasional Lampung-Kuala Lumpur: Membuka Gerbang Ekonomi Baru bagi Masyarakat
Oleh: Mahendra Utama*
Euforia menyelimuti Bandara Radin Inten II dengan dibukanya kembali status internasional melalui rute perdana Tanjung Karang (TGK)–Kuala Lumpur (KUL) pada 12 Februari 2026.
Di balik momen bersejarah ini, tersimpan potensi besar yang dapat mendorong roda perekonomian regional dan mempererat hubungan sosial-budaya antara Lampung dan Malaysia.
Efisiensi Biaya dan Penguatan Ekonomi Daerah
Keputusan memilih Kuala Lumpur sebagai rute internasional pertama didasari oleh data kependudukan yang kuat. Dengan sekitar 9,5 juta jiwa dan 8.600 pekerja migran asal Lampung di Malaysia, permintaan akan transportasi yang efisien sangat tinggi.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, memperkirakan adanya penghematan biaya perjalanan hingga Rp16 miliar per tahun. Penghematan ini terutama dirasakan oleh para pekerja migran, pelaku usaha, dan calon jemaah umroh yang selama ini harus transit dan mengeluarkan biaya lebih besar.
Efek pengganda (multiplier effect) dari aktivitas bandara internasional ini diproyeksikan akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sektor jasa, perhotelan, transportasi darat, dan perdagangan akan bergerak lebih dinamis.
Lebih dari itu, komoditas unggulan Lampung seperti kopi robusta, kakao, pisang, dan nanas mendapatkan peluang emas untuk menembus pasar Malaysia dengan biaya logistik yang lebih kompetitif.
Jembatan Sosial dan Budaya Antara Dua Negara
Dari sisi sosial, konektivitas langsung ini menjadi solusi bagi keluarga migran. Waktu tempuh hanya 2 jam 5 menit memungkinkan mobilitas yang lebih tinggi, sehingga dapat mempererat hubungan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan emosional masyarakat.
Tak hanya itu, rute ini juga menjadi jembatan pertukaran budaya. Wisatawan mancanegara dapat lebih mudah menikmati kekayaan budaya Lampung, seperti Tari Sigeh Penguten dan kain tapis yang mendunia.
Sebaliknya, warga Lampung memiliki akses lebih luas ke pusat-pusat kebudayaan di Malaysia. Namun, kemudahan akses ini juga perlu diantisipasi dengan penguatan sistem pengawasan untuk mencegah risiko perdagangan orang.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menjadikan perlindungan pekerja migran sebagai prioritas utama.
Dengan segala potensi yang ada, penerbangan perdana ini bukan saja rute baru, melainkan sebuah gerbang untuk memperkuat fundamental ekonomi dan sosial masyarakat Sumatra pada umumnya, dan Lampung pada khususnya.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
















