WartaNiaga.ID – Artikel opini kali ini membahas tentang status Bandara Radin Inten II yang kembali Go Internasional dan Strategi Pengembangannya.
Bandara Radin Inten II Kembali Go Internasional: Strategi agar Tak Sekadar “Penerbangan Musiman”
Oleh: Mahendra Utama*
Kebangkitan status internasional Bandara Radin Inten II melalui rute Tanjung Karang (TGK)–Kuala Lumpur (KUL) menyisakan pekerjaan rumah besar.
Pengalaman masa lalu di mana penerbangan internasional hanya bersifat musiman menjadi pelajaran berharga.
Agar momentum ini tidak sia-sia, diperlukan strategi pengembangan yang visioner dan kolaboratif.
Strategi Pengembangan Jangka Panjang
PT Angkasa Pura Indonesia, yang mengelola bandara sejak 2019, telah memiliki cetak biru pengembangan dengan pendekatan kerja sama pemerintah-swasta (KPS).
Fokus utamanya adalah “meningkatkan pelayanan bandara dalam mendukung tumbuhnya sektor perekonomian, industri, dan pariwisata.”
Berikut adalah beberapa strategi kunci yang perlu dijalankan:
1. Diversifikasi Rute Penerbangan.
Stabilitas rute Kuala Lumpur harus segera diikuti dengan penjajakan rute baru. Target berikutnya adalah Singapura untuk menarik segmen bisnis dan wisata medis. Serta Arab Saudi untuk melayani 24 ribu jamaah umroh asal Lampung setiap tahunnya. Pemberian insentif seperti pengurangan biaya pendaratan dapat menjadi daya tarik bagi maskapai.
2. Peningkatan Kualitas Pelayanan.
Digitalisasi layanan bandara melalui teknologi AI untuk check-in, keamanan, dan informasi penerbangan perlu dipercepat. Target zero-delay harus menjadi standar pelayanan minimum untuk membangun kepercayaan pengguna jasa.
3. Pengembangan Aerocity dan Ekonomi Kawasan.
Rencana jangka panjang untuk membangun kawasan terpadu di sekitar bandara harus direalisasikan. Kerja sama dengan investor swasta untuk membangun pusat konvensi (MICE), hotel, rumah sakit internasional, dan pusat oleh-oleh khas Lampung akan meningkatkan nilai tambah ekonomi kawasan.
Mengatasi Tantangan Masa Lalu
Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan permintaan pasar tetap stabil. Rute ke Singapura yang pernah diuji coba pada era Gubernur Ridho Ficardo (2014–2019) gagal berkelanjutan karena pasar yang belum matang. Untuk itu, pengembangan rute baru harus selaras dengan pengembangan sektor pariwisata dan industri kreatif di Lampung.
Selain itu, penerapan konsep green airport melalui penggunaan biofuel, panel surya, dan manajemen limbah yang baik tidak hanya akan meningkatkan citra bandara, tetapi juga menarik minat maskapai asing yang peduli lingkungan.
Kini, bola ada di tangan para pemangku kepentingan. Dengan komitmen jangka panjang dan eksekusi strategi yang konsisten, Bandara Radin Inten II tidak hanya akan menjadi gerbang utama Sumatra bagian selatan, tetapi juga penggerak ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat Lampung. (*)
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
















