Mengurai Kemacetan Bandar Lampung: Potensi AI untuk Lalu Lintas yang Lebih Efisien dan Berkelanjutan

Mrngurai Kemacetan Bandar Lampung
Ilustrasi: Potensi Penerapan Teknologi AI untuk Mengurai Kemacetan dan Mewujudkan Arus Lalu Lintas Cerdas di Bandar Lampung. (Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Pemakaian teknologi Artificial Intelligence (AI) bisa jadi game changer, dalam mengatasi dan mengurai kemacetan di Kota Bandar Lampung.

 

Mengurai Kemacetan Bandar Lampung: Potensi AI untuk Lalu Lintas yang Lebih Efisien dan Berkelanjutan
Oleh: Mahendra Utama*

 

Siapa sih warga Bandar Lampung yang nggak pernah kesal sama macet? Apalagi kalau udah jam masuk kerja atau pulang kantor, jalanan protokol kayak jadi lautan kendaraan yang merayap pelan.

Sebagai ibu kota Provinsi Lampung, kota kita ini memang tumbuh pesat sayangnya, pertumbuhan jumlah kendaraan nggak diimbangi dengan perluasan jalan yang memadai. Hasilnya? Ya itu tadi, kemacetan jadi menu harian.

Baru-baru ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandar Lampung melakukan rekayasa lalu lintas di U-Turn Koga. Langkah ini jelas patut diacungi jempol. Setidaknya, pemerintah kota (Pemkot) menunjukkan bahwa mereka nggak tinggal diam mendengar keluhan warganya.

Tapi, di tengah gempuran era digital, saya jadi bertanya-tanya: kenapa sih strategi ngatasin macet di kota kita belum juga memanfaatkan teknologi kayak kecerdasan buatan (AI)?

Rekayasa Lalu Lintas Itu Perlu, Tapi…

Nggak bisa dipungkiri, rekayasa lalu lintas model klasik kayak nutup atau ngalihin U-Turn Koga itu solusi instan yang cukup efektif buat jangka pendek. Dengan mengurangi titik konflik, arus kendaraan jadi lebih lancar, terutama di jam-jam sibuk. Apresiasi setinggi-tingginya buat Dishub dan Pemkot yang sudah gercep (gerak cepat) merespons keluhan masyarakat.

Tapi jujur aja, pendekatan manual kayak gini masih punya kelemahan. Keputusan yang diambil seringkali berdasarkan pengamatan lapangan yang sifatnya subjektif.

Pak polisi atau petugas Dishub melihat macet di titik A, lalu ambil keputusan. Nah, ini kurang presisi kalau buat jangka panjang. Soalnya, pola kemacetan itu dinamis banget, bisa berubah dari hari ke hari, bahkan jam ke jam. Makanya, kita butuh sesuatu yang lebih canggih.

AI: Bukan Masa Depan Lagi, Tapi Sekarang

Nah, di sinilah teknologi kecerdasan buatan atau AI bisa jadi game changer. Mungkin sebagian dari kita mikir, “Ah, AI itu masih terlalu tinggi buat Bandar Lampung.” Eits, tunggu dulu. AI sekarang udah bukan barang mewah lagi. Teknologi ini udah dipake di berbagai kota, bahkan di Indonesia sendiri.

Lewat sistem yang namanya Intelligent Transportation Systems (ITS), AI bisa mengintegrasikan data real-time dari berbagai sumber: kamera CCTV di jalan, sensor kendaraan, sampai data GPS dari smartphone kita. Semua data itu diolah buat memprediksi pola lalu lintas. Hasilnya? Prediksi yang jauh lebih akurat soal kapan dan di mana macet bakal terjadi.

Buat yang masih ragu, coba deh lihat hasil penelitian. Dalam jurnal International Journal of Computational Methods and Experimental Measurements disebutkan bahwa AI bisa mengurangi waktu perjalanan rata-rata hingga 22,8 persen. Artinya, waktu yang biasa kita habiskan di jalan bisa dipangkas signifikan.

Pakar kayak Guni Sharon dalam makalahnya di IJCAI-21 juga bilang, AI mampu mengoptimalkan manajemen persimpangan yang sering jadi biang keladi kemacetan dengan mengurangi waktu tunggu sampai 25-30 persen.

Tapi Mampukah Dishub Bandar Lampung?

Pertanyaan besarnya: mampukah Dishub Kota Bandar Lampung mengadopsi teknologi ini? Jawaban saya: sangat mampu.

Mungkin ada kekhawatiran soal biaya. Bener sih, investasi awal buat sistem AI itu nggak kecil. Tapi coba kita hitung balik. Bayangkan berapa liter bensin yang terbuang percuma karena kendaraan merayap di kemacetan. Berapa banyak waktu produktif warga yang hilang di jalan.

Laporan McKinsey bahkan menyebut, sistem AI bisa mengurangi waktu perjalanan hingga 20 persen di area perkotaan. Efisiensi ekonomi dari penghematan bahan bakar dan waktu itu, dalam jangka panjang, pasti bakal nutup biaya investasi awal.

Kendala lain mungkin soal literasi teknologi. Tapi ini juga bisa diatasi. Tinggal kolaborasi sama perguruan tinggi lokal kayak Unila atau Itera, atau kerja sama dengan perusahaan teknologi nasional. Banyak kok anak muda Bandar Lampung yang paham teknologi dan siap dilibatkan.

Biar Nggak Cuma Mimpi, Ini Buktinya

Supaya lebih yakin, yuk kita liat kota lain yang udah lebih dulu sukses.

Di Indonesia sendiri, Batam udah menerapkan sistem navigasi cerdas berbasis AI. Hasilnya, waktu perjalanan berkurang 22,8 persen dan akurasi prediksi rute naik sampai 91,3 persen.

Jakarta, yang jaraknya deket sama kita, juga udah pakai Area Traffic Control System (ATCS) dengan AI buat ngatur lampu lalu lintas di 65 persimpangan. Meski masih perlu ekspansi, dampak positifnya udah kerasa banget.

Kalau mau liat yang lebih kece, Singapura melalui Land Transport Authority (LTA)-nya pakai machine learning buat memprediksi lonjakan lalu lintas dari data GPS dan bahkan media sosial. Hasilnya? Alur lalu lintas di negara tetangga kita itu jauh lebih lancar.

Di Amerika, kota Los Angeles pake AI buat menyesuaikan sinyal lalu lintas secara dinamis, yang berhasil nurunin waktu perjalanan 12 persen. Pittsburgh dengan sistem Surtrac-nya bahkan mencapai pengurangan waktu tunggu sampai 30 persen!

Contoh-contoh ini nunjukin bahwa AI itu alat praktis yang udah teruji, bukan cuma konsep masa depan.

Jalan Tengah buat Bandar Lampung

Tentu, adopsi AI untuk mengurai kemacetan di kota Bandar Lampung nggak harus langsung besar-besaran. Bisa dimulai dari proyek percontohan atau pilot project di titik-titik rawan macet, misalnya ya di kawasan U-Turn Koga itu sendiri.

Apresiasi buat Walikota dan Dishub yang udah memulai dengan rekayasa lalu lintas konvensional. Ini bisa jadi fondasi yang kuat. Sekarang tinggal bagaimana kita berani melangkah lebih jauh, mengintegrasikan teknologi agar kebijakan yang diambil nggak cuma berdasarkan insting, tapi juga data yang akurat dan prediksi yang presisi.

Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, dan swasta, saya yakin Bandar Lampung bisa jadi contoh kota cerdas di Sumatera.

Kemacetan nggak lagi jadi momok yang bikin stress, tapi justru jadi pemicu inovasi. Mari kita dongkrak terus langkah ini, demi kenyamanan kita semua dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*)

 

*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, sejak Desember 2025 menjadi Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, sejak Juli 2020 menjabat Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis, sejak Juli 2023 – Desember 2025 menjabat Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh.