WartaNiaga.ID – Bisakah Saleh Asnawi Mengubah Wajah Tanggamus? Kata Kuncinya: SDM, Infrastruktur, Pariwisata, KIT, dan Hilirisasi Produk Unggulan.
Tanggamus bukan sekadar barisan perbukitan yang menatap Teluk Semaka. Selama bertahun-tahun, kabupaten ini adalah raksasa tidur yang terjebak dalam masalah klasik: infrastruktur yang “babak belur” dan potensi wisata yang hanya cantik di foto, tapi sulit dijangkau.
Namun, sejak H. Moh. Saleh Asnawi memegang kemudi pada 2025, ada angin segar yang mulai bertiup dari Kota Agung, Tanggamus.
Logika “Infrastruktur sebagai Enabler”
Langkah awal Saleh Asnawi yang fokus pada perbaikan jalan penghubung antar-kecamatan bukanlah sekadar kebijakan populis. Secara teoretis, ia sedang menerapkan Big Push Theory dari Paul Rosenstein-Rodan.
Teori ini berpendapat bahwa untuk menggerakkan ekonomi di wilayah berkembang, diperlukan investasi besar-besaran yang dilakukan secara serentak di sektor-sektor strategis (terutama infrastruktur) untuk menciptakan efek domino.
Dengan memperbaiki akses jalan, Saleh sedang menurunkan biaya logistik bagi petani kopi dan lada di pelosok Tanggamus. Inilah fondasi yang selama ini sering terabaikan.
Belajar dari Tetangga: Tanggamus vs Pesisir Barat
Jika kita bandingkan dengan Kabupaten Pesisir Barat yang sukses dengan branding selancar tingkat internasional, Tanggamus sebenarnya memiliki modal yang lebih lengkap mulai dari wisata lumba-lumba di Kiluan hingga eksotisme karang Gigi Hiu.
Bedanya, di bawah Saleh Asnawi, Tanggamus mulai berani keluar dari zona nyaman. Jika sebelumnya pembangunan terasa sporadis, kini ada upaya integrasi antara perbaikan akses fisik dengan digitalisasi layanan publik. Saleh tampaknya paham bahwa di era 2026, keindahan alam saja tidak cukup tanpa kemudahan birokrasi bagi investor.
Mengapresiasi Sinergi Lokal
Keberhasilan awal ini tentu bukan kerja tunggal. Kita patut memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada perangkat daerah dan masyarakat Tanggamus yang mulai adaptif terhadap perubahan.
Sikap terbuka warga terhadap visi “The Heart of Lampung” menunjukkan bahwa ada kepercayaan (trust) yang berhasil dibangun oleh sang Bupati, sesuatu yang mahal harganya dalam kepemimpinan politik.
Tantangan ke Depan: Jangan Cepat Puas
Meski arah pembangunan sudah tepat, ada beberapa catatan agar Tanggamus bisa berlari lebih kencang:
– Hilirisasi Produk Unggulan: Jangan biarkan kopi dan hasil laut keluar dalam bentuk mentah. Saleh perlu mendorong industri pengolahan lokal agar nilai tambah (value-added) tetap berputar di kantong warga Tanggamus.
– Optimalisasi Kawasan Industri Tanggamus (KIT): Ini adalah “kartu as”. Jika KIT berhasil diaktivasi dengan tenaga kerja lokal yang kompeten, Tanggamus bukan lagi sekadar penyangga, tapi bisa menjadi pusat pertumbuhan baru di Lampung.
– Penguatan Sumber Daya Manusia: Pembangunan fisik harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan agar warga tidak hanya menjadi penonton di tengah kemajuan daerahnya.
Saleh Asnawi telah meletakkan batu pertama yang kokoh. Sekarang, tugas semua pihak di Tanggamus adalah memastikan bangunan kemajuan ini tegak berdiri hingga tuntas.(*)
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
















