WartaNiaga.ID – Artikel opini WANI edisi kali ini, topik utamanya: Strategi Hilirisasi dari Desa: Ikhtiar Gubernur Mirza Menjaga Kedaulatan Pangan Lampung.
Hilirisasi dari Desa: Ikhtiar Gubernur Mirza Menjaga Kedaulatan Pangan Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Kedaulatan pangan bukan sekadar angka produktivitas di atas kertas, melainkan soal bagaimana petani berdaulat atas hasil jerih payahnya sendiri.
Di Lampung Selatan, sebuah langkah konkret tengah dipacu: memperpendek jarak antara panen dan nilai tambah melalui teknologi bed dryer.
Menjemput Aspirasi di Akar Rumput
Perjalanan survei di Kecamatan Kalianda, Ketapang, Candipuro, Sragi, Penengahan, hingga Katibung mengungkap realitas sosiologis yang kuat.
Dialog langsung dengan Gapoktan, Poktan, KTNA, dan Koperasi Desa bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan upaya memvalidasi kebutuhan infrastruktur pascapanen.
Dalam memastikan bantuan tepat sasaran, tim teknis turun langsung ke lima titik tersebut. Sinergi ini dipimpin oleh Hendra (Kepala Bidang di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung), bersama jajaran Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Bidang Pertanian, yakni Robby Herdian dan Aswin Tama, serta saya sendiri sebagai TPP Gubernur Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
Kehadiran tim lintas sektoral ini menunjukkan bahwa komitmen Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bukan sekadar janji politik, melainkan kerja teknis yang terukur.
Teori Nilai Tambah dan Efisiensi Pascapanen
Dalam disiplin ekonomi pertanian, hilirisasi di tingkat desa adalah penerapan nyata dari Teori Nilai Tambah (Value Added Theory). Menurut Nicholas Georgescu-Roegen, efisiensi dalam aliran material sangat menentukan keberlanjutan ekonomi.
Tanpa teknologi pengeringan, petani terjebak dalam “siklus keterpaksaan” menjual gabah atau jagung basah dengan harga rendah.
“Pembangunan pertanian yang tangguh membutuhkan penguatan pada sektor hilir untuk memastikan surplus produksi tidak terbuang sia-sia akibat penanganan pascapanen yang buruk.”
Data menunjukkan bahwa Lampung tetap menjadi lumbung pangan nasional. Namun, tantangan perubahan iklim membuat proses pengeringan alami semakin tidak menentu.
Kehadiran bed dryer mekanis yang telah terealisasi di 34 titik pada 2025 dan akan dilanjutkan pada 2026 di 82-100 titik memungkinkan petani mengatur standar kualitas secara mandiri.
Hilirisasi: Bukan Lagi Opsi, Tapi Keharusan
Fokus pada tiga komoditas utama Padi, Jagung, dan Singkong di Lampung Selatan adalah pilihan strategis. Berdasarkan dialog intensif yang dilakukan Hendra, Robby Herdian, dan Aswin Tama bersama para pelaku pertanian, ditemukan insight bahwa masyarakat sangat mendambakan istiqomah-nya kepemimpinan yang berpihak pada nasib petani.
Hilirisasi di tingkat desa melalui BUMDes dan Gapoktan sejalan dengan visi Gubernur Mirza untuk memperkuat ekonomi kerakyatan.
Temuan lapangan ini akan dikonversi menjadi laporan komprehensif kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Gubernur Lampung.
Tujuannya satu: memastikan setiap butir padi, jagung, dan singkong dari tanah Lampung memiliki nilai ekonomi maksimal bagi penanamnya, sekaligus memperkuat fondasi industri berbasis desa. (*)
———————————————————–
*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan dan TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
















