WartaNiaga.ID – Artikel opini WANI edisi kali ini, topik utamanya: Mengungkap 3 Raja Jagung Way Kanan dan Jalan Panjang Hilirisasi.
Mengungkap 3 Raja Jagung Way Kanan dan Jalan Panjang Hilirisasi
Oleh: Mahendra Utama*
Kabupaten Way Kanan menyimpan 3 raja komoditas jagung: Kecamatan Umpu Semenguk dengan luas panen 1.881 hektare, Buay Bahuga sebagai sentra pertanian unggulan, serta Gunung Labuhan.
Sayangnya, hingga 2025, ketiganya masih minim hilirisasi. Petani menjual jagung pipil kering ke tengkulak dengan harga murah, sementara nilai tambahnya dinikmati daerah lain.
Mirisnya, potensi ekonomi Rp300–400 miliar per tahun lenyap akibat rantai distribusi yang panjang.
Teori ketergantungan Andre Gunder Frank menjelaskan mengapa petani terus terperangkap. Selama mereka hanya menjual bahan mentah, desa-desa akan terus menjadi pemasok kebutuhan daerah industri, bukan subjek pembangunan.
Daya Ungkit dari Program Gubernur (2026–2028)
Harapan baru hadir dari Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Melalui program Desaku Maju, belasan bed dryer akan dialokasikan untuk sentra jagung, padi, dan singkong di Way Kanan.
Di perkiraan Program Pupuk Organik Cair (POC) akan menyentuh puluhan desa di Way Kanan, masuk dalam skema 2000 titik bantuan POC se Lampung terbukti meningkatkan produktivitas lahan hingga 15–20 persen. Program ini wajib didukung vokasi dan akselerasi BUMDes, targetnya jelas: membangun ekosistem desa mandiri.
Selain itu, akan ada aktivasi pabrik penggilingan beras hibah pemerintah pusat yang selama ini tertahan akan digerakkan pada 2026.
Bila ada dorongan membangun RMU kapasitas 5 ton/hari di Buay Bahuga yang sudah siap secara volume produksi, Way Kanan akan target punya merek “Beras Way Kanan” diakhir 2026.
Pengadaan bantuan mesin pipil jagung mini juga harus diupayakan dengan semangat kolaborasi pemerintah pusat, provinsi dan Pemkab disalurkan ke beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Kolaborasi Ekosistem Desa
Program ketahanan pangan ini akan optimal jika terjadi kolaborasi empat pilar: Gapoktan, BUMDes, Bulog, dan pabrik pakan mini milik desa. BUMDes bisa menjadi offtaker lokal, sementara Bulog menyerap hasil dengan harga wajar. Pabrik pakan mini di tingkat desa akan menyerap jagung sebagai bahan baku, menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.
Seperti diingatkan Robert Chambers, pembangunan efektif harus berbasis kemampuan lokal (putting the last first). POC, bed dryer, vokasi, dan BUMDes adalah satu kesatuan strategi yang menciptakan ekosistem desa yang utuh.
Kini, momentum ada di tangan para pejuang ketahanan pangan. Way Kanan harus bangkit dari sekadar lumbung jagung menjadi pusat pengolahan.
Mari dukung hilirisasi agar tiga raja jagung benar-benar memakmurkan rakyatnya, DesaKu Maju mutlak menjadi jalan untuk perubahan.(*)
——————————————————————
*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















