WartaNiaga.ID – Artikel opini WANI edisi kali ini, mengulas tentang: Dari Lumbung ke Mesin Pengering: Hilirisasi Desa ala Gubernur Mirza.
Dari Lumbung ke Mesin Pengering: Hilirisasi Desa ala Gubernur Mirza
Oleh: Mahendra Utama*
Langit Tanggamus terang benderang saat rombongan kecil itu mulai bergerak, Senin (6/4/2026). Ashar belum benar-benar usai, tapi semangat yang terpancar dari wajah-wajah para petani di Gapoktan Tani Karya Makmur, Kecamatan Pugung, tak redup. Meskipun sinar matahari yang mulai bersembunyi di ujung lereng Gunung Tanggamus.
Bersama Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Pertanian, Robby Herdian; Kepala Bidang Pemberdayaan Industri Disperindag Lampung, Hendra Siswanto; serta Tenaga Ahli Perindustrian Disperindag Lampung, Aswin Tama, kami menyusuri dua lokasi di Tanggamus, Pulau Panggung, dan Pugung untuk satu misi: memastikan mesin pengering (bed dryer) hibah Pemprov Lampung benar-benar tepat sasaran.
Bukan sekadar verifikasi faktual. Ini adalah denyut nadi program hilirisasi tingkat desa yang digagas Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. Sebuah gebrakan yang mencoba menjawab kegelisahan klasik petani: panen melimpah, harga jatuh karena rendemen basah.
Teori dan Realitas di Lahan Basah
Sosiolog pembangunan Norman Uphoff dalam teorinya tentang participatory development menegaskan bahwa keberhasilan program pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat penerima merasa “memiliki” program tersebut.
Di Ngaras, Pesisir Barat, kami menyaksikan sendiri bagaimana seorang tokoh muda memegang dokumen spesifikasi bed dryer seolah memegang ijazah kelulusan.
“Pak, mesin ini bisa turunkan kadar air sampai 14 persen?” tanyanya kepada Robby Herdian.
“Bisa, Pak. Asalkan perawatan rutin dan bahan bakar tersedia,” jawab Robby, yang rutin melaporkan ke gubernur dalam urusan teknis pertanian.
Percakapan itu singkat, tapi sarat makna. Petani tidak lagi sekadar meminta. Mereka sudah paham spesifikasi. Mereka sudah melakukan homework. Ini adalah bentuk kedewasaan kelembagaan petani yang jarang ditemukan.
Seperti dikutip dari Diffusion of Innovations (Rogers, 2003), adopsi teknologi pertanian akan berlangsung cepat jika inovasi tersebut memiliki keunggulan relatif yang jelas dan kompatibel dengan nilai-nilai lokal.
Mesin pengering bukanlah barang asing bagi petani Lampung mereka tahu betapa panen basah (kadar air >25 persen) membuat harga jual anjlok hingga 30 persen.
Malam di Liwa, Fajar di Way Kanan
Pukul 03.06 WIB, Selasa dinihari, kami baru sampai di Hotel Ono Syariah, Liwa. Perjalanan dari Pesisir Barat memang melelahkan, tapi diskusi di lobi hotel justru lebih panas dari kopi tubruk robusta khas Liwa yang kami pesan.

Hendra Siswanto mencatat poin demi poin aspirasi dari Gapoktan. Aswin Tama, dengan latar belakang keahliannya di bidang agroindustri, menghitung ulang kebutuhan kapasitas mesin untuk sentra jagung di Pulau Panggung. Saya sendiri sibuk menyusun peta jalan hibah agar tidak tumpang tindih dengan program kementerian.
Kami hanya tidur sekitar empat jam. Check-out pukul 08.02 WIB, lalu langsung meluncur ke Way Kanan. Jadwal padat menanti: Banjar Ratu dan Way Tuba di Kecamatan Gunung Labuhan, Serupa Indah dan Pakuanratu di Kecamatan Pakuanratu, hingga menerima arahan langsung dari Gubernur Rahmat Mirzani Djausal di Kotabumi, Lampung Utara.
Antusiasme yang Menular
Yang menarik, semangat serupa kami temukan di Tanggamus sehari sebelumnya dan kini di Way Kanan. Para penyuluh pertanian lapangan (PPL), pengurus BUMDes, hingga kelompok tani tampak bergerombol di setiap titik lokasi.
Bukan sekadar ingin tahu mereka sudah menyiapkan lahan untuk instalasi bed dryer, bahkan ada yang sudah mengumpulkan iuran untuk biaya operasional.
“Saya sudah hitung, Pak. Dengan mesin ini, kami bisa jual gabah kering panen (GKP) langsung ke Bulog tanpa perantara,” ujar perwakilan BUMDes Serupa Indah.

Inilah yang disebut ekonom pembangunan Amartya Sen sebagai capability approach. Pembangunan sejati adalah ketika masyarakat memiliki kapasitas untuk memanfaatkan sumber daya demi meningkatkan kebebasan dan kesejahteraannya. Pemerintah tidak perlu “menggurui” mereka. Cukup beri alat, fasilitasi pelatihan, lalu lepaskan. Petani Lampung terbukti mampu.
Tiga Komoditas, Satu Harapan
Di sela-sela perjalanan, saya mengingat kembali arahan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam rapat koordinasi beberapa waktu lalu:
“Program ini bukan sekadar bagi-bagi mesin. Ini hilirisasi tingkat desa. Fokus kita pada padi, jagung, dan singkong. Tiga komoditas ini yang akan menggerakkan ekonomi Lampung dari bawah.”
Kalimat itu terasa nyata ketika kami menyaksikan sendiri tumpukan jagung di Cabang Empat yang dijemur di terpal sepanjang jalan desa. Dengan bed dryer, pemilik lahan tidak perlu lagi khawatir hujan datang tiba-tiba. Kualitas jagung terjaga, harga naik, petani senang.
Kutipan dari laporan Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2025 menyebutkan bahwa kehilangan hasil pascapanen di Indonesia masih mencapai 15-20 persen untuk komoditas jagung dan singkong.
Sebagian besar disebabkan oleh metode pengeringan tradisional yang tergantung cuaca. Maka, intervensi bed dryer oleh Pemprov Lampung adalah langkah strategis yang selaras dengan target nasional pengurangan food loss.
Menyatukan Semangat Membangun
Perjalanan dua hari ini mengajarkan saya satu hal: pembangunan yang baik adalah yang melibatkan semua pihak. Gubernur Mirza tidak bekerja sendiri.
Ada Robby Herdian yang siang-malam menghitung kebutuhan teknis di lapangan. Ada Hendra Siswanto yang memastikan industri pengolahan siap menyerap hasil panen.
Ada Aswin Tama yang menjembatani kebutuhan petani dengan spesifikasi mesin yang tepat. Dan ada masyarakat tani yang luar biasa antusias.
Seperti kata John M. Keynes, “The difficulty lies not so much in developing new ideas as in escaping from old ones.” Lampung kini tengah lepas dari kebiasaan lama: menjual hasil panen dalam kondisi basah dengan harga murah.
Hilirisasi tingkat desa adalah lompatan besar. Dan kami semua, di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, bertekad mengantarkannya sampai ke garis akhir. (*)
—————————————————————–
*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan dan Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman langsung survei dan verifikasi faktual calon penerima mesin pengering pada 6-7 April 2026.
















