WartaNiaga.ID – Artikel opini WANI edisi kali ini, membedah tentang: Perekonomian Provinsi Lampung Setelah Berusia 62 Tahun.
Perekonomian Provinsi Lampung Setelah Berusia 62 Tahun
Oleh: Mahendra Utama*
Kemajuan Sektor Unggulan dan Tantangan yang Menanti
Apakah perekonomian Provinsi Lampung lebih baik setelah berusia 62 tahun? Jawabannya ya. Provinsi Lampung, yang lahir pada 18 Maret 1964 melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964, kini memasuki usia 62 tahun di tahun 2026 dengan momentum pertumbuhan yang semakin solid.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, ekonomi Lampung sepanjang tahun 2025 tumbuh 5,28 persen naik signifikan dari 4,57 persen pada 2024. Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp523,846 triliun, menempatkan Lampung sebagai perekonomian terbesar keempat di Sumatera dan pertumbuhan tertinggi ketiga di wilayah tersebut.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti ketahanan dan transformasi gradual dari basis pertanian tradisional menuju ekonomi yang lebih dinamis.
Namun, kemajuan ini bukan tanpa catatan. Masih ada sektor yang perlu diperkuat agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan. Di era Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang mendorong Program Desaku Maju serta sinergi dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan hilirisasi dan lumbung pangan nasional, Lampung memiliki peluang emas untuk melompat lebih jauh.
Sektor Ekonomi yang Sudah Maju
Tiga sektor utama menjadi pilar kemajuan Lampung pasca-62 tahun:
1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap menjadi andalan dengan kontribusi terbesar sekitar 26,90–28,38 persen terhadap PDRB. Sektor ini tumbuh konsisten (5,91 persen secara tahunan, bahkan mencapai 7,74 persen di triwulan tertentu).
Lampung berhasil mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan nasional dengan komoditas unggulan seperti padi, singkong, kopi, lada, dan perikanan. Pertumbuhan ini menunjukkan ketahanan pangan yang kuat di tengah gejolak global.
2. Pariwisata (terkait Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum) mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 7,83 persen secara tahunan. Perputaran ekonomi sektor pariwisata sepanjang 2025 mencapai Rp53,11 triliun, menyerap lebih dari 254.298 tenaga kerja dan memberdayakan lebih dari 3.000 UMKM di kuliner, kerajinan, transportasi, serta akomodasi.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyebut sektor ini sebagai “primadona” yang tidak hanya mendongkrak PDRB tetapi juga menciptakan multiplier effect luas bagi masyarakat.
3. Industri Pengolahan berkontribusi sekitar 19,44 persen dan terus tumbuh sebagai mesin penggerak. Ditambah dengan sektor jasa keuangan dan asuransi yang melonjak 16,46 persen, menandakan mulai bergesernya struktur ekonomi ke arah yang lebih modern dan berbasis jasa.
Ketiga sektor ini membuktikan bahwa Lampung tidak lagi sekadar “daerah pertanian”, melainkan sedang menuju diversifikasi yang lebih seimbang.
Sektor yang Masih Perlu Perbaikan dan Intervensi Kebijakan
Meski demikian, ada sektor yang masih “terlambat” atau bahkan mengalami kontraksi: pertambangan dan penggalian (-1,71 persen), serta pengadaan listrik dan gas (-6,85 persen). Selain itu, ketergantungan yang masih tinggi pada sektor primer menunjukkan perlunya peningkatan nilai tambah (value added).
Perdagangan besar dan eceran (13,91 persen) masih didominasi aktivitas tradisional, sementara UMKM belum sepenuhnya terdigitalisasi. Tantangan lain adalah pemerataan: meski pertumbuhan tinggi, akses kesempatan kerja berkualitas dan pengurangan kemiskinan masih memerlukan intervensi lebih tajam agar pertumbuhan benar-benar inklusif.
Analisis dan Tawaran Solusi Berbasis Teori Ekonomi Kekinian
Dari perspektif teori ekonomi kekinian, kemajuan Lampung dapat dianalisis melalui Teori Pertumbuhan Endogenous yang dikemukakan Paul Romer (pemenang Nobel Ekonomi 2018). Romer menyatakan: “Growth springs from better recipes, not just from more cooking.”
Artinya, pertumbuhan bukan hanya dari menambah input (lebih banyak memasak), melainkan dari inovasi dan “resep baru” (ide-ide yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi). Di Lampung, “resep baru” ini adalah hilirisasi komoditas pertanian dan pengembangan pariwisata berbasis digital serta agroekowisata.
Selaras dengan itu, konsep pertumbuhan inklusif yang dikembangkan Joseph Stiglitz dan Amartya Sen menekankan bahwa pertumbuhan harus menciptakan kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya elite. Stiglitz sering mengkritik pasar yang gagal menciptakan pemerataan jika tidak diintervensi kebijakan publik yang tepat.
Di era Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Presiden Prabowo Subianto, tawaran kebijakan yang jitu adalah sebagai berikut:
1. Percepatan Hilirisasi Desa melalui Program Desaku Maju. Pemprov Lampung dapat membangun pusat-pusat pengolahan komoditas (kopi, lada, singkong, kakao) di tingkat desa dengan dukungan BUMDes.
Ini langsung selaras dengan arahan Presiden Prabowo yang berulang kali menyatakan: “Saya ingin hilirisasi. That’s the only way. Kita tidak boleh ekspor bahan mentah lagi.” Hasilnya: nilai tambah naik, petani naik kelas, dan lapangan kerja berkualitas tercipta di pedesaan.
2. Integrasi Pariwisata dan Agroekowisata Berbasis Digital. Manfaatkan pertumbuhan akomodasi dengan membangun platform digital UMKM pariwisata. Investasi infrastruktur digital dan pelatihan SDM akan menciptakan efek spillover sesuai teori Romer ide baru menyebar cepat dan meningkatkan produktivitas semua orang.
3. Inisiasi Lumbung Energi Terbarukan dan Green Economy. Atasi kontraksi sektor listrik-gas dengan program energi surya dan bioenergi berbasis limbah pertanian. Ini sekaligus mendukung visi Prabowo tentang transformasi ekonomi hijau dan ketahanan energi nasional.
4. Penguatan SDM melalui Pelatihan Vokasi Berbasis Industri 4.0. Kolaborasi Pemprov dengan pemerintah pusat untuk program magang dan sertifikasi di sektor hilirisasi serta pariwisata. Ini mewujudkan pertumbuhan inklusif yang menjamin tidak ada yang tertinggal.
5. Sinergi Pusat-Daerah untuk Stabilitas Harga dan Investasi. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal telah mendorong sinergi antarpihak untuk jaga inflasi dan stabilitas. Ini harus diperkuat dengan prioritas produk lokal dalam pengadaan pemerintah, sehingga mendukung lumbung pangan nasional Prabowo.
Dengan kebijakan-kebijakan ini, Lampung tidak hanya akan mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen, tetapi juga menciptakan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan menuju kontribusi nyata bagi Indonesia Emas 2045.
Lampung di usia 62 tahun telah menunjukkan kemajuan yang patut dibanggakan. Namun, masa depan yang lebih cerah hanya akan terwujud jika kita terus berinovasi, menghilirisasi, dan memastikan pertumbuhan dirasakan oleh semua. Bersama Lampung Maju!
—————————————————————
*Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















