WartaNiaga.ID – Artikel opini WANI edisi kali ini, membedah tentang: Program Kunci Kemandirian Petani dan Ekonomi Desa di Lampung.
POC dan Empat Program: Kunci Kemandirian Petani dan Ekonomi Desa
Oleh: Mahendra Utama*
Dari Ketergantungan ke Kemandirian: Revolusi di Akar Rumput
Transisi dari pupuk kimia ke organik di Lampung bukan sekadar tren. Di balik lonjakan target panen hingga 12 ton per hektare (Kirka, 2026), terdapat pergeseran struktural: petani dari konsumen menjadi produsen input.
Joko Surono, petani Tulang Bawang, mengaku bisa memangkas ketergantungan pupuk kimia hingga 85 persen. Inilah inti dari program Pupuk Organik Cair (POC) yang digalakkan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Teori ketergantungan (dependency theory) Andre Gunder Frank menjelaskan mengapa ini penting. Selama ini petani terperangkap dalam sistem input dari luar, yang harganya fluktuatif dan rantai pasoknya rentan.
Dengan POC yang diproduksi mandiri dari bahan lokal, kemandirian dibangun dari akar rumput. Sebagaimana dikatakan Joko Surono, pupuk kimia kini hanya menjadi “pendamping” dengan porsi 15 persen.
Efisiensi biaya hingga 50 persen di lahan jagung (Kirka, 2026) memberi ruang napas ekonomi rumah tangga petani.
Sinergi Program Daerah dan Nasional: Membangun Ekosistem Desa
Program POC, Bed Dryer, BUMDes, dan Vokasi adalah satu kesatuan strategi. Bed Dryer menjaga kualitas pascapanen, vokasi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan BUMDes menjadi kelembagaan ekonomi desa.
Menurut Robert Chambers, pembangunan yang efektif harus berbasis pada kemampuan lokal (putting the last first). Keempat program ini menciptakan ekosistem: produksi mandiri (POC), pengolahan hasil (Bed Dryer), penguatan kelembagaan (BUMDes), dan peningkatan kompetensi (vokasi).
Di tingkat desa dan kecamatan, dampaknya mulai terasa. Kelompok tani seperti Trimulyo Jaya 1 di Tulang Bawang dan Gapoktan Maju Lestari di Lampung Tengah tidak hanya mencatat peningkatan produktivitas, tetapi juga penghematan biaya yang signifikan.
Ketika BUMDes dilibatkan sebagai pusat produksi POC dan pengelolaan hasil, maka nilai tambah tetap berada di desa. Inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi dari bawah.
Program nasional seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Koperasi Merah Putih dapat didukung melalui sinergi ini. POC yang meningkatkan produktivitas padi, jagung, hortikultura hingga kopi (Kirka, 2026) memastikan pasokan pangan bergizi untuk program MBG.
Sementara Koperasi Merah Putih yang diusung Prabowo-Gibran dapat bertumpu pada BUMDes yang sudah diperkuat, menciptakan kelembagaan ekonomi yang sehat di tingkat desa.
Tantangan Keberlanjutan dan Harapan
Efisiensi biaya, perbaikan struktur tanah, dan lonjakan kualitas panen adalah bukti nyata. Namun, keberlanjutan program menjadi kunci. Dalam artikel Publikasilampung (2026), ditekankan bahwa “pendekatan ini tidak terjadi secara instan.”
Petani berharap pendampingan teknis tidak berhenti di tengah jalan. Jika konsisten, transformasi ini tak hanya meningkatkan ekonomi desa, tetapi juga mewujudkan ketahanan pangan yang berdaulat.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal telah menunjukkan arah yang tepat: pertanian mandiri, berkelanjutan, dan terintegrasi. Kini tinggal bagaimana menjaga konsistensi dan memperluas jangkauan agar semua desa di Lampung merasakan manfaatnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari angka semata, tetapi dari sejauh mana petani mampu berdiri di atas kaki sendiri. (*)
—————————————————————–
*Penulis Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan dan TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
















