WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, mengupas tentang: Fenomena Pasca Lebaran: Mengapa Masyarakat Bandarlampung Ramai Nonton di XXI dan CGV.
Mengapa Masyarakat Bandarlampung Ramai Nonton di XXI dan CGV Pasca Lebaran
Oleh: Mahendra Utama
Fenomena Healing Pasca Idul Fitri di Lampung
Sejak hari ketiga Idul Fitri, warga Bandarlampung tak hanya berbondong ke pantai Pesawaran atau Lampung Selatan. Banyak keluarga memilih “healing” indoor: jalan ke mall lalu nonton bioskop di XXI atau CGV.
Udara panas, kemacetan pantai, dan kelelahan silaturahmi membuat bioskop jadi pelarian nyaman. AC sejuk, kursi empuk, dan popcorn bersama anak-cucu lebih menggoda daripada pasir panas.
Alasan Antusiasme ke Bioskop XXI dan CGV
XXI dan CGV mendominasi karena fasilitas premium: studio recliner, suara Dolby, serta film blockbuster Lebaran yang ramah keluarga. Harga tiket terjangkau pasca-THR membuat orang tua rela bayar popcorn untuk seluruh keluarga.
Di Mall Boemi Kedaton atau Ramayana Ciplaz, antrean tiket panjang jadi pemandangan biasa hari ketiga Lebaran. Bukan sekadar hiburan, ini ritual bonding setelah opor dan ketupat.
Teori di Balik Tradisi Nonton Keluarga
Fenomena ini selaras dengan teori escapism dalam studi media: bioskop jadi pelarian sementara dari rutinitas pasca puasa.
Efek psikologis Lebaran membuat penonton lebih terbuka pada hiburan, kata analisis industri film Indonesia.
Produser Linda Gozali menyebutnya “communal experience” pengalaman kolektif yang menyatukan tawa, ketakutan, dan air mata di layar lebar.
Sementara itu, fenomena healing generasi urban seperti dijelaskan riset mahasiswa Raden Fatah menunjukkan mall dan bioskop sebagai terapi lelah aktivitas sehari-hari.
THR meningkatkan daya beli, sehingga bioskop jadi panggung emas: 17,25 persen penonton film Indonesia sepanjang 2007-2024 justru dari libur Lebaran.
Beda dengan Kota Besar Lain
Di Jakarta dan Surabaya, pola serupa terjadi. Warga Matraman Jakarta bilang, “Libur Lebaran panjang. Setelah makan dan ngobrol, bingung mau ngapain lagi.
Akhirnya, ya, ke bioskop,” ujar Wisnu Satrio (Kompas). Namun bedanya, kota besar punya alternatif: Ancol, Dufan, atau waterpark. Di Bandarlampung, pilihan terbatas. Pantai ramai, jalan jauh, sehingga XXI-CGV di mall jadi satu-satunya hiburan berkualitas.
Di Surabaya Barat pun bioskop mall tetap juara, tapi Lampung lebih “intens” karena minimnya destinasi indoor modern.
Kesimpulan: Peluang Pembangunan Hiburan Lokal
Antusiasme ini bukan sekadar tren, melainkan cermin kebutuhan healing keluarga di tengah keterbatasan infrastruktur.
Pemerintah Lampung bisa dorong lebih banyak layar bioskop berkualitas agar healing tak hanya bergantung XXI dan CGV.
Lebaran bukan hanya maaf-maafan, tapi juga momentum membangun kualitas hidup melalui hiburan terjangkau. (*)
——————————————————————-
*Penulis adalah Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
















