WartaNiaga.ID – Artikel opini WANI edisi kali ini, mengulas tentang: Sop Kambing dan Sumsum: Kuliner Malam yang Laris di Telukbetung dan Tanjungkarang.
Mengapa SOP Kambing dan Sumsum Laris di Makan Malam Telukbetung Bandarlampung
Oleh: Mahendra Utama*
Di malam hari, kawasan Telukbetung dan Tanjungkarang Bandar Lampung tak pernah tidur. Deretan warung SOP kambing, SOP sapi, dan terutama SOP sumsum seperti Cak Umar, Mat Raji, serta SOP Tegal di Jl. Ikan Tongkol selalu penuh pengunjung. Bukan sekadar makanan, ini sudah menjadi ritual sosial yang menghangatkan tubuh dan jiwa setelah seharian bekerja.
Gurih Sumsum yang Bikin Ketagihan
Kuah bening tapi medok dari kaldu tulang yang direbus berjam-jam, ditambah sumsum yang meleleh lembut, menjadi daya tarik utama.
Daging kambing muda tanpa bau prengus atau kaki sapi empuk ala Tegal membuat satu mangkuk tak cukup. Harga terjangkau dengan porsi melimpah menjadikannya pilihan malam yang efisien.
Tak heran antrean panjang terlihat di warung yang hanya buka Rabu dan Sabtu malam.
Ruang Ketiga ala Ray Oldenburg
Fenomena ini tak lepas dari teori “third place” yang dikemukakan sosiolog Amerika Ray Oldenburg dalam The Great Good Place (1989). Menurut Oldenburg, third place adalah ruang publik informal di luar rumah (first place) dan kantor (second place) yang menjadi pusat vitalitas sosial komunitas.
Kedai SOP malam di Telukbetung persis seperti itu: tempat warga berkumpul, mengobrol, dan melepas penat.
“Third place memungkinkan orang meninggalkan kekhawatiran dan menikmati percakapan,” tulis Oldenburg.
Di sini, SOP sumsum bukan hanya mengenyangkan, tapi juga merekatkan ikatan sosial di tengah kota yang semakin urban.
Pilar Ekonomi Lokal dan Pembangunan UMKM
Dari perspektif pembangunan, kuliner malam ini menopang ekonomi kreatif daerah. Seperti dijelaskan studi tentang citra makanan lokal (Setiawan et al., 2020), kuliner tradisional merepresentasikan budaya dan gaya hidup masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang mendongkrak pendapatan UMKM.
Di Bandar Lampung, warung-warung ini menciptakan lapangan kerja, mendukung peternak lokal, dan menarik pengunjung dari luar kota. Lokavorisme ideologi mendukung produk lokal semakin kuat karena SOP ini lahir dari bahan baku dan resep asli Lampung.
Identitas Kota yang Terjaga
Popularitas SOP kambing dan sumsum malam hari bukan kebetulan. Ia mencerminkan bagaimana kuliner menjadi alat pembangunan berkelanjutan: menghidupkan kawasan Telukbetung-Tanjungkarang, menjaga warisan budaya, dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat kelas menengah bawah.
Pemerintah kota seharusnya semakin mendukung infrastruktur street food ini agar tak kalah dengan kota-kota lain.
Makan malam di Telukbetung bukan sekadar mengisi perut. Ini cara masyarakat Bandar Lampung merayakan kehidupan kota yang hangat dan autentik. SOP sumsum tetap primadona karena ia lebih dari makanan, ia adalah jiwa pembangunan lokal. (*)
——————————————————————–
*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung.
















