Ekonomi Lampung di Simpang Jalan: Antara Mimpi Besar, Hilirisasi, dan Kepemimpinan Mirza

Mimpi Besar Kepemimpinan Mirza
Ilustrasi: Mimpi Besar Pembangunan Provinsi Lampung di Bawah Kepemimpinan Gubernur Mirza. (Sumber Foto: IRZ/Ist).

WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, mengusung tema: Mimpi Besar Kepemimpinan Gebernur Provinsi Lampung Mirza.

 

Ekonomi Lampung di Simpang Jalan: Antara Mimpi Besar, Hilirisasi, dan Kepemimpinan Mirza
Oleh: Mahendra Utama*

 

Tidak cukup hanya dengan pertumbuhan 5 persen. Provinsi Lampung butuh lompatan. Di tangan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, fondasi sedang dibangun. Tapi apakah mimpi besar itu akan sampai pada build it yang sesungguhnya?

Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang menyita perhatian, roda pembangunan di daerah tetap harus berputar. Provinsi Lampung, dengan segala potensi sumber daya alam dan letak geografisnya yang strategis sebagai pintu gerbang Sumatera, sedang berada pada fase krusial.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Lampung secara year on year pada triwulan I 2025 mencapai 5,47 persen dan triwulan II sebesar 5,09 persen. Angka ini terbilang sehat, namun pertanyaan besarnya adalah: mampukah Lampung melompat lebih tinggi?

Seperti yang pernah diungkapkan oleh penyair Irlandia, James Stephens, “Apapun yang bisa dibayangkan pikiran manusia, serta diyakini dan diusahakannya, pasti akan tercapai”.

Kutipan klasik ini menemukan relevansinya dalam konteks pembangunan ekonomi Lampung saat ini. Di bawah kepemimpinan Gubernur Mirza, kita melihat upaya untuk menerjemahkan mimpi besar (dream it) menjadi keyakinan kolektif (believe it) dan akhirnya ke dalam aksi nyata (build it).

Namun, persoalannya tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Ada pekerjaan rumah besar yang bernama hilirisasi yang selama puluhan tahun hanya tinggal mimpi.

Dream It: Visi Besar Ekonomi Lampung

Tahap pertama, dream it, adalah tentang keberanian memiliki visi. Pemerintah Provinsi Lampung saat ini telah menuangkan mimpi besarnya dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026 yang disahkan melalui Pergub No. 19 Tahun 2025. Mimpi itu bernama pertumbuhan ekonomi inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, atau akrab disapa Mirza, tidak hanya bermimpi di atas kertas. Ia berani memproyeksikan lompatan. Dari data yang ada, kunjungan wisatawan ke Lampung pada 2025 mencapai 24 juta orang dengan perputaran uang Rp40 triliun, dan ditargetkan tumbuh 50 persen pada 2026.

Di sektor pariwisata, ia bahkan bermimpi mendesain ulang wajah pariwisata Lampung melalui pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Bakauheni (5.000 hektare) dan Pesawaran (1.000-1.400 hektare) yang melibatkan investor besar seperti Mayapada Group dan Bakrie Group.

Namun, seperti diingatkan oleh psikolog klinis Nadya Puspita Ekawardhani, keberhasilan sebuah rencana tidak hanya bergantung pada seberapa besar kita memimpikannya, tetapi juga bagaimana kita menjalaninya.

Di sinilah letak tantangan terbesar kepemimpinan Mirza: apakah mimpi besar membangun KEK dan menarik investasi ini akan berhenti sebagai seremoni, atau benar-benar dieksekusi?

Believe It: Membangun Kepercayaan pada Potensi Sendiri

Tahap kedua adalah believe it. Percaya bahwa Lampung mampu. Dalam psikologi, ini disebut self-efficacy, keyakinan seseorang atau kolektif terhadap kemampuannya mencapai tujuan. Gubernur Mirza tampak paham betul bahwa keyakinan ini harus dibangun di atas pondasi data dan pemetaan yang akurat.

Salah satu langkah strategis yang patut diapresiasi adalah kebijakan untuk memetakan tata niaga komoditas lokal. Pada Februari 2026, Mirza mengumumkan bahwa pemprov telah melakukan pemetaan komoditas seperti gabah, singkong, jagung, dan cabai. Ini bukan pekerjaan sepele.

Dengan pemetaan ini, pemerintah bisa menjaga keseimbangan harga, mengendalikan inflasi di kisaran 1-2 persen, dan memastikan pasokan untuk program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Ini akan diperkuat lagi terutama untuk penyediaan pasokan pangan bagi Program Makan Bergizi Gratis,” ujar Mirza.

Keyakinan bahwa petani lokal bisa menjadi tulang punggung program nasional adalah bentuk believe it yang otentik.

Program MBG di Lampung bahkan dirancang untuk melibatkan UMKM, koperasi, dan petani lokal sebagai pemasok utama, sehingga perputaran uang tetap berada di desa.

Namun, psikolog Meity Arianty mengingatkan bahwa self-efficacy tanpa aksi hanyalah fantasi. Di sinilah peran data menjadi krusial. BPS Lampung akan menggelar Sensus Ekonomi 2026 pada Mei-Juli mendatang untuk memotret seluruh aktivitas ekonomi.

Kepala BPS Lampung, Ahmadriswan Nasution, menegaskan bahwa data adalah fondasi kebijakan berkualitas. Apakah pemerintah daerah akan sungguh-sungguh menggunakan data ini sebagai basis kebijakan? Itu ujian sesungguhnya.

Build It: Hilirisasi sebagai Batu Ujian

Puncak dari segalanya adalah build it. Membangun. Dan dalam konteks Lampung, kata kuncinya adalah hilirisasi.

Data dari Gubernur Mirza cukup memprihatinkan sekaligus menantang. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung pada 2025 mencapai Rp520 triliun, dengan sektor primer menyumbang Rp150 triliun dari komoditas mentah. Namun, baru sekitar Rp40-50 triliun yang terhilirisasi. Artinya, masih ada Rp100 triliun potensi ekonomi yang keluar dari Lampung dalam bentuk bahan mentah.

“Satu gelas kopi, misalnya, nilainya bisa naik 10 kali lipat,” tegas Mirza dalam diskusi bersama pelaku ekonomi kreatif . Ini bukan sekadar retorika. Pemerintah Provinsi berkomitmen mendorong hilirisasi, tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga di sektor ekonomi kreatif yang melibatkan 480 ribu UMKM.

Namun, Mirza juga jujur mengkritik ekosistem UMKM di Lampung yang masih timpang. Ia menemukan ada 3.000 merek keripik singkong yang saling bersaing di pasar bawah. “Kita butuh kolaborasi untuk melakukan akurasi dan kurasi. UMKM yang sudah go global harus menarik yang di bawah agar bangkit bersama, bukan saling mematikan,” katanya.

Di sinilah kepemimpinan Mirza patut diapresiasi. Ia tidak hanya berbicara di atas panggung, tetapi turun langsung berdialog dengan 25 pelaku ekonomi kreatif, bahkan mendampingi Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Ia juga mendorong terbentuknya Dinas Ekonomi Kreatif di tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagai penguatan kelembagaan.

Dari sisi infrastruktur penunjang, APBD 2026 mengalokasikan Rp1 triliun dari pinjaman daerah untuk memperbaiki kualitas jalan provinsi hingga 80,88 persen pada akhir 2026. Ini adalah fondasi fisik dari build it yang tidak boleh dilupakan.

Membangun Ekonomi yang Berkeadilan dari Desa

Bagi kita para pemerhati pembangunan, yang menarik dari kepemimpinan Mirza adalah fokusnya pada pembangunan dari desa. Konsep “uang berputar di desa” menjadi mantra yang terus diulang.

Dengan melibatkan petani lokal dalam program MBG, memperbaiki tata niaga agar petani mendapatkan nilai tambah, hingga mendorong hilirisasi di tingkat desa, ia mencoba membalik paradigma pembangunan yang selama ini Jawa-sentris atau kota-sentris.

“Kalau ini diperkuat, masyarakat desa dan petani mendapatkan nilai tambah, lalu semua dikerjakan di desa, uang berputar di sana, sehingga daerah tumbuh dari desa,” ujarnya.

Namun, kita juga harus jujur bahwa masih ada pekerjaan rumah besar. APBD 2026 mencatat belanja pegawai lebih dari Rp3 triliun. Ini adalah pos yang setiap tahun membengkak dan perlu diimbangi dengan produktivitas. Efisiensi anggaran yang digaungkan Mirza harus benar-benar diimplementasikan, bukan sekadar jargon.

Apresiasi untuk Gubernur Rahmat Mirzani Djausal

Di tengah berbagai tantangan fiskal dan birokrasi, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal patut mendapat apresiasi atas beberapa hal:
1. Keberanian Memetakan Masalah. Pemetaan tata niaga komoditas dan keberanian membuka data tentang Rp100 triliun komoditas mentah yang belum terhilirisasi menunjukkan bahwa ia tidak bekerja dengan kacamata kuda.
2. Konsistensi pada Ekonomi Kerakyatan. Dengan melibatkan UMKM dan petani lokal dalam program strategis seperti MBG, ia memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar.
3. Visi Jangka Panjang. Pembangunan KEK Pariwisata, perbaikan infrastruktur jalan, dan perhatian pada data Sensus Ekonomi 2026 menunjukkan bahwa ia berpikir untuk 10-20 tahun ke depan, bukan hanya untuk musim pilkada berikutnya.
4. Seperti kata BJ Habibie, kesuksesan bukan hanya milik orang ber-IPK tinggi, tetapi milik mereka yang bekerja keras, berkorban, dan berkomitmen. Mirza sedang menunjukkan komitmen itu.

Dream it telah dirumuskan dalam RKPD. Believe it sedang dibangun melalui pemetaan dan data. Sekarang, semua mata tertuju pada build it: apakah hilirisasi benar-benar terjadi, apakah 480 ribu UMKM benar-benar naik kelas, dan apakah desa-desa di Lampung benar-benar merasakan uang berputar di tangan mereka.

Jika tiga tahap ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin Lampung akan menjadi the next economic powerhouse di Sumatera. Dan kita semua akan menyaksikan, bagaimana sebuah provinsi mampu mengubah mimpi menjadi realita. (*)
—————————————————————–
*Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan dan Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.