Singkong Kita, Nasib Mereka: Mengapa Nigeria Lebih Unggul dari Lampung dalam Rantai Nilai Manihot Esculenta?

Singkong Nigeria Lebih Unggul dari Lampung
Ilustrasi: Singkong Nigeria vs Lampung: Modern vs Tradisional. (Sumber Foto: IRZ/Ist).

WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, tema utamanya: Mengapa Industri Berbasis Singkong di Negara Nigeria lebih Unggul dari Provinsi Lampung?

 

Singkong Kita, Nasib Mereka: Mengapa Nigeria Lebih Unggul dari Lampung dalam Rantai Nilai Manihot Esculenta?
Oleh: Mahendra Utama*

 

Mahkota yang Tak Tergoyahkan: Dominasi Nigeria

Benar adanya bahwa Nigeria adalah raja singkong dunia. Berdasarkan data FAO, Nigeria konsisten menempati urutan pertama produsen singkong global dengan volume produksi mencapai kisaran 59–63 juta ton per tahun.

Angka ini jauh melampaui Indonesia yang biasanya berfluktuasi di angka 14–18 juta ton per tahun, menempatkan kita di posisi lima besar dunia bersama Thailand, Brasil, dan Kongo.

Jika kita mempersempit lensa ke skala lokal, Provinsi Lampung adalah tulang punggung nasional dengan rata-rata produksi sekitar 5,8–6 juta ton. Artinya, Lampung menyumbang sekitar 33-40% dari total produksi singkong Indonesia.

Namun, jika disandingkan dengan volume dunia (sekitar 300 juta ton), kontribusi Lampung hanya berkisar 2%, sementara Nigeria menguasai hampir 20% pasokan global.

Kesenjangan Teknologi: Bukan Sekadar Cangkul dan Tanah

Pertanyaan krusialnya: Apakah pengelola singkong di Nigeria lebih maju dari Lampung? Secara fundamental, jawabannya adalah Ya, terutama dalam aspek diversifikasi produk dan integrasi industri hulu-hilir.

Di Lampung, singkong masih terjebak dalam stigma “komoditas mentah”. Mayoritas hasil panen petani Lampung berakhir menjadi tapioka atau gaplek dengan nilai tambah yang minimal.

Sebaliknya, Nigeria telah melakukan lompatan melalui intervensi teknologi pascapanen yang didukung oleh lembaga internasional seperti International Institute of Tropical Agriculture (IITA).

Nigeria unggul dalam:
1. Industrialisasi Pangan Lokal: Mereka berhasil mengubah singkong menjadi Garri (tepung fermentasi) dan Lafun dalam skala industri yang presisi, bukan sekadar industri rumah tangga.
2. Substitusi Impor: Pemerintah Nigeria mewajibkan pencampuran tepung singkong ke dalam tepung terigu (High Quality Cassava Flour/HQCF) untuk industri roti.

Analisis Teoretis: Produktivitas vs Nilai Tambah

Ketertinggalan Lampung bisa dibedah menggunakan Teori Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage) dari Michael Porter.

Lampung memiliki Comparative Advantage (keunggulan komparatif) karena faktor alam dan luas lahan, namun lemah dalam menciptakan keunggulan kompetitif melalui inovasi teknologi.

“Pertumbuhan ekonomi bukan hanya soal memproduksi lebih banyak, tapi soal memproduksi sesuatu yang lebih kompleks dan bernilai tinggi,” – Sebuah adagium yang relevan untuk memotret kondisi petani kita.

Petani di Lampung seringkali terjebak dalam jeratan tengkulak dan fluktuasi harga yang ekstrem karena tidak memiliki teknologi penyimpanan atau pengolahan mandiri.

Di Nigeria, model koperasi dan outgrower schemes lebih terintegrasi dengan pabrik pengolahan besar, sehingga kepastian harga lebih terjaga.

Mengapa Nigeria Bisa Berlari Lebih Cepat?

Setidaknya ada tiga alasan mengapa ekosistem singkong di Nigeria lebih progresif:
○ Political Will: Pemerintah Nigeria menempatkan singkong sebagai instrumen kedaulatan pangan nasional untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor.
○ Riset dan Pengembangan (R&D): Investasi pada benih unggul tahan hama (seperti CMD – Cassava Mosaic Disease) jauh lebih masif melalui kemitraan publik-swasta.
○ Mekanisasi: Meskipun belum merata di seluruh wilayah, adopsi mesin pengupas dan pemeras otomatis di tingkat desa di Nigeria lebih masif dibanding alat manual yang masih mendominasi pelosok Lampung.

Kesimpulan: Pekerjaan Rumah bagi Lampung

Lampung punya potensi besar untuk tidak sekadar menjadi penonton. Tanpa transformasi dari “petani sekadar tanam” menjadi “agropreneur”, volume produksi jutaan ton tersebut hanya akan menjadi angka statistik yang tidak menyejahterakan.

Kita perlu belajar dari Nigeria tentang bagaimana mengubah umbi sederhana menjadi komoditas industri strategis.

Jika kebijakan tetap stagnan pada bantuan pupuk tanpa perbaikan rantai nilai (value chain), maka singkong Lampung akan tetap menjadi “anak tiri” di tanah sendiri, sementara Nigeria terus melaju memimpin pasar dunia. (*)

——————————————————————–*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.