Hilirisasi Ikan Air Tawar di Lampung: Jurus Cetak Cuan Triliunan Rupiah

Hilirisasi Ikan Air Tawar di Lampung
Ilustrasi: Hilirisasi Ikan Air Tawar: Mengolah Ikan Jadi Produk Turunan Seperti Abon akan Melipatgandakan Pendapatan Pembudidaya Ikan di Lampung. (Sumber Foto: IRZ/Ist).

WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, mengusung tema: Hilirisasi Ikan Air Tawar di Lampung: Cetak Cuan Triliunan Jika Diolah Jadi Abon.

 

Hilirisasi Ikan Air Tawar di Lampung: Jurus Cetak Cuan Triliunan Rupiah
Oleh: Mahendra Utama*

 

Lampung selama ini dikenal sebagai lumbung pangan Sumatra. Di sektor perikanan budidaya, kontribusinya mencapai angka yang fantastis: Rp5,46 triliun.

Angka tersebut merupakan nilai ekonomi dari hulu: dari telur, benih, hingga ikan segar yang berenang di kolam-kolam pembudidaya. Namun, jika kita hanya berhenti di angka itu, artinya kita membiarkan “raksasa tidur” terus terlelap.

Nilai triliunan tersebut sesungguhnya baru merupakan potensi dasar. Ketika kita berbicara tentang hilirisasi, nilai ekonominya bisa melompat drastis, berlipat-lipat kali lipat, dan yang terpenting, benar-benar masuk ke kantong petani.

Dari Ikan Segar ke Abon: Lompatan Nilai Ekonomi

Dalam teori ekonomi industri, hilirisasi adalah proses peningkatan nilai tambah (value-added) dengan mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.

Dalam industri pengolahan pangan, aksi ini bisa meningkatkan nilai jual produk sebesar 2 hingga 5 kali lipat dibandingkan harga bahan baku mentah.

Jika potensi hulu Lampung sebesar Rp5,46 triliun diolah secara efisien, dalam skenario konservatif (2x lipat) saja, nilai ekonominya bisa melejit menjadi Rp10,92 triliun.

Dalam skenario optimis dengan integrasi industri modern dan ekspor, angka tersebut bisa menembus Rp16 triliun hingga Rp21 triliun.

Mari kita buat simulasinya lebih konkret. Seorang pembudidaya ikan nila atau patin di Lampung mungkin hanya mendapatkan Rp20.000 per kilogram ikan segar.

Dari penjualan 100 kg, omzetnya Rp2 juta dengan margin keuntungan tipis, sekitar Rp200.000-Rp300.000. Namun, jika 100 kg ikan tersebut diolah menjadi abon ikan (dengan asumsi rendemen 35%), akan dihasilkan 35 kg abon.

Dengan harga jual abon di pasaran sekitar Rp150.000 per kg, total pendapatannya mencapai Rp5,25 juta. Setelah dikurangi biaya produksi (bumbu, kemasan, tenaga kerja), keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp2,05 juta.

Artinya, dari volume bahan baku yang sama, keuntungan dari produk olahan bisa 8 kali lipat lebih tinggi dibanding menjual ikan segar.

Problem Klasik yang Tak Kunjung Usai

Lantas, mengapa dengan potensi sebesar itu, petani kita masih sering merugi? Jawabannya klasik: ketergantungan pada tengkulak dan panjangnya rantai pasok.

Saat panen raya, harga ikan segar anjlok karena stok melimpah. Tanpa industri pengolahan (hilir) yang menyerap hasil panen secara konsisten, petani terpaksa melepas ikannya dengan harga murah.

“Turunnya harga ikan dan sulitnya akses pasar memang menjadi masalah klasik yang dikeluhkan nelayan kecil,” ujar Zainal Arifin, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Kondisi ini diperparah dengan biaya produksi yang membengkak, di mana pakan bisa menghabiskan 70-80 persen dari total biaya operasional.

Di sinilah pentingnya hilirisasi. Ikan yang diolah menjadi produk tahan lama seperti abon, bakso, nugget, atau ikan asap tidak hanya menyelamatkan petani dari kerugian saat harga jatuh, tetapi juga memperpanjang masa simpan dan memperluas jangkauan pasar. Produk olahan bisa dikirim ke ritel modern di Jakarta, Bandung, bahkan diekspor ke mancanegara.

Belajar dari “Kampung Patin” Riau

Indonesia tidak kekurangan contoh sukses hilirisasi perikanan air tawar. Salah satu yang paling inspiratif adalah Kampung Patin di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar, Riau.

Di kampung ini, budidaya ikan patin telah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Warga tidak hanya menjual ikan segar, tetapi juga mengolahnya menjadi beragam produk bernilai tambah tinggi.

Dampak pandemi COVID-19 pun tidak mempengaruhi bisnis mereka karena permintaan produk olahan berupa ikan salai (ikan asap) justru stabil. Dalam sebulan, usaha pengasapan di desa itu bisa menyerap bahan baku ikan patin segar sekitar 240 ton.

Ikan salai yang tahan berminggu-minggu itu tidak hanya dipasarkan di Sumatera, tetapi juga menembus pasar ekspor ke Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura melalui perdagangan lintas batas.

Selain ikan asap, warga Kampung Patin juga memproduksi abon, nugget, dan bakso ikan. Keberadaan industri pengolahan ini menciptakan lapangan kerja baru.

Warga yang tidak memiliki kolam pun bisa bekerja sebagai pemanen, pembelah ikan, atau perajin ikan salai. Di desa tersebut, terdapat 10 usaha pengasapan ikan yang mampu menyerap tenaga kerja hingga 150 orang.

Ini adalah bukti nyata multiplier effect yang disebut oleh Guru Besar IPB, Prof. Didin S. Damanhuri, bahwa hilirisasi agromaritim memberikan efek pengganda besar terhadap ketenagakerjaan dan kesejahteraan rakyat.

Momentum Lampung Menuju Pusat Hilirisasi

Lampung memiliki modal yang kuat untuk tidak hanya meniru, tetapi melampaui kesuksesan Kampung Patin. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung mencatat, pada 2023 produksi perikanan Lampung mencapai 343 ribu ton, terdiri dari perikanan tangkap dan budidaya, dengan nilai ekspor Rp2,1 triliun ke 26 negara tujuan. Angka ini adalah fondasi yang kokoh.

Pemerintah daerah pun telah menunjukkan keseriusan. Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Bani Ispriyanto, menegaskan bahwa program hilirisasi sejalan dengan RPJMN 2025–2029 dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

“Keberhasilan hilirisasi membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga desa. Dunia usaha perlu memperkuat kemitraan dengan petani, akademisi menghadirkan inovasi teknologi pascapanen, sementara perbankan menyalurkan pembiayaan untuk sektor produktif,” ujarnya dalam sebuah forum diseminasi di Bandarlampung .

Langkah konkret juga mulai terlihat. Pemerintah Provinsi Lampung telah menyalurkan bantuan alat pascapanen seperti dryer dan mesin penepung kepada kelompok tani.

Di Kabupaten Pesawaran, Dinas Perikanan mendorong pengembangan industri olahan untuk mengantisipasi anjloknya harga ikan .

Apresiasi dan Insight ke Depan

Sudah saatnya kita memberikan apresiasi kepada para pihak yang mulai bergerak. Kepada Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten/Kota seperti Pesawaran yang mulai merancang program hilirisasi, langkah ini patut didukung.

Kepada Bank Indonesia Perwakilan Lampung yang terus mendiseminasikan laporan ekonomi dan mendorong sinergi, peran ini krusial.

Kepada para akademisi dari Universitas Lampung dan lainnya yang memberikan insight tentang added value dan tantangan hilirisasi, kontribusi pemikiran Anda adalah kompas bagi kebijakan yang tepat .

Namun, perjalanan masih panjang. Untuk mewujudkan Lampung sebagai pusat hilirisasi ikan air tawar di Indonesia, ada beberapa insight yang perlu menjadi perhatian bersama:

1. Ketersediaan Teknologi dan Pembiayaan: Petani dan UMKM membutuhkan akses terhadap mesin pengolah (spinner, oven, alat pengemas) serta modal usaha. Skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dana desa harus diarahkan untuk ini.
2. Standardisasi dan Sertifikasi: Produk olahan harus memenuhi standar untuk masuk ritel modern, seperti izin PIRT, BPOM, dan sertifikasi Halal. Pendampingan dari dinas terkait sangat diperlukan.
3. Membangun Kemitraan Setara: Model bisnis harus menguntungkan kedua belah pihak, tidak hanya industri besar. Contoh kemitraan terintegrasi seperti yang dijalankan CV Citra Prima Bahari di Sidoarjo, yang bekerja sama dengan pembudidaya lokal dan produsen pakan, bisa menjadi rujukan.
4. Penguatan Infrastruktur: Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Lampung Timur dan Lampung Selatan yang mengintegrasikan tempat pengolahan dan pendingin harus dipastikan berjalan optimal.

Angka Rp5,46 triliun adalah potensi, bukan prestasi. Prestasi sejati adalah ketika angka itu berlipat ganda dan dirasakan langsung oleh pembudidaya di Kolam Teduh, di Pesawaran, di Tanggamus, dan di seluruh pelosok Lampung.

Hilirisasi adalah kunci untuk membuka pintu kesejahteraan itu. Kini, tinggal bagaimana kita bergerak bersama, mewujudkan ikan air tawar Lampung bukan hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai tuan rumah di negeri sendiri. (*)

——————————————————————–*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.