Lampung Selatan di Tangan Bupati Egi: Saat Aspal Mulus Membuka Keran Rezeki Desa

Lampung Selatan di Tangan Bupati Egi
Visualisasi Dampak Jalan Mulus Terhadap Kebangkitan Ekonomi dan Wisata di Bawah Kepemimpinan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama. (Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Lampung Selatan di Tangan Bupati Radityo Egi Pratama, sedang mengukir sejarah, melalui paradigma: Pembangunan dimulai dari Desa.

Bayangkan sebuah pagi di Desa Minang Rua, Kecamatan Penengahan. Udara segar sisa hujan semalam menyambut wisatawan yang baru turun dari kendaraan.

Beberapa tahun lalu, perjalanan ke sini dari Bandar Lampung adalah ujian kesabaran jalan berlubang siap menghajar suspensi motor atau mobil.

Namun kini, aspal hitam yang mulus membentang, membawa rombongan keluarga hingga backpacker yang penasaran dengan eksotisme budaya Lampung.

Ini bukan sekadar “dongeng pembangunan” di atas kertas. Ini adalah realitas yang sedang dipahat oleh Bupati Radityo Egi Pratama, atau yang akrab disapa Bang Egi.

Dari urusan jalan hingga lonjakan angka kunjungan wisata, Lampung Selatan sedang menunjukkan taringnya dalam kemandirian ekonomi berbasis desa.

Membangun dari Pinggiran, Bukan dari Balai Kota

Sebagai pemerhati yang sering blusukan ke pelosok Lampung, saya melihat ada pergeseran paradigma yang menarik.

Kabupaten Lampung Selatan di tangan Bupati Egi, visi pembangunannya tidak lagi terkonsentrasi di pusat kota atau gedung-gedung mewah kabupaten.

Dalam Musrenbang RKPD 2027 di Natar, Kang Egi menegaskan satu hal: “Pembangunan dimulai dari desa.”

Visi ini dibuktikan dengan data yang cukup berani. Sepanjang tahun 2025, Pemkab Lampung Selatan telah merampungkan hampir 270,9 kilometer jalan, lengkap dengan puluhan jembatan dan gorong-gorong.

Bagi orang kota, angka ini mungkin hanya statistik, tapi bagi petani di pedalaman, ini adalah “napas” ekonomi. Jalan yang bagus berarti ongkos angkut hasil panen lebih murah dan akses wisatawan jadi tanpa hambatan.

Efek Domino: Jalan Bagus, Dompet Warga Terisi

Mengapa infrastruktur jalan jadi “harga mati”? Jika kita meminjam teori multiplier effect dari John Maynard Keynes, infrastruktur adalah pemantik reaksi berantai. Saat akses terbuka, biaya logistik turun dan daya tarik lokasi naik drastis.

Buktinya nyata. Di bawah kepemimpinan Egi, kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara menembus angka 1,6 juta orang sepanjang 2025. Sebagian besar dari mereka tidak lari ke hotel berbintang, melainkan ke desa wisata seperti Minang Rua atau Srawung Seni Sawah.

Di sana, mereka belanja produk lokal, menginap di homestay warga, dan belajar budaya. Roda ekonomi desa pun berputar kencang, menghasilkan perputaran uang hingga miliaran rupiah yang langsung dirasakan masyarakat bawah.

Tantangan: Jangan Sampai “Demam” Wisata Merusak Alam

Tentu saja, jalan panjang ini masih punya tantangan. Di balik angka-angka manis, masih ada masalah klasik seperti keterbatasan SDM di level desa dan ancaman cuaca ekstrem yang bisa merusak infrastruktur dalam sekejap.

Selain itu, Lampung Selatan harus waspada terhadap jebakan pariwisata massal. Kita perlu belajar dari Bali atau Yogyakarta tentang carrying capacity jangan sampai karena mengejar angka kunjungan, alam dan budaya aslinya justru tergerus.

Kang Egi tampaknya sadar akan hal ini, dengan terus menekankan pembangunan yang berkeadilan, menempatkan Natar dan Penengahan sebagai motor penggerak tanpa melupakan kelestarian lingkungan.

Harapan untuk Masa Depan

Kisah Lampung Selatan saat ini adalah pengingat bahwa pembangunan sejati adalah pertemuan antara infrastruktur fisik yang kuat dan potensi masyarakat yang diberdayakan. Seperti kata pepatah Lampung yang sering kita dengar: “Jalan yang baik membawa rezeki yang baik.”

Tugas kita sekarang bukan hanya menonton, tapi ikut mengawasi dan menjaga agar aspal yang sudah mulus ini tetap membawa kesejahteraan bagi rakyat kecil, bukan hanya sekadar angka di laporan tahunan. (*)

 

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan