WartaNiaga.ID – Artikel opini ini membahas tentang Terasi Lampung, sebagai penggerak ekonomi dan identitas budaya yang membanggakan.
Terasi Lampung: Komoditas Unggulan yang Menggerakkan Ekonomi dan Melestarikan Kuliner Tradisional
Oleh: Mahendra Utama*
Pernah mencicipi sambal seruit khas Lampung? Di balik pedasnya yang menggoda, ada satu bumbu rahasia yang membuat hidangan ini begitu istimewa: terasi.
Aromanya mungkin menyengat bagi yang belum terbiasa, tapi bagi masyarakat Lampung, terasi adalah jiwa dari setiap masakan tradisional.
Saya masih ingat pertama kali berkunjung ke Desa Sukajaya di Tulang Bawang beberapa tahun lalu. Sepanjang jalan, aroma khas fermentasi udang rebon tercium samar-samar. Warga sedang menjemur terasi di bawah terik matahari, menyusunnya rapi di atas anyaman bambu.
Pemandangan yang sama juga saya temui di pesisir Lampung Timur, tepatnya di Kecamatan Labuhan Maringgai, tempat terasi batok bundar menjadi kebanggaan warga setempat.
Lampung memang pantas disebut sebagai salah satu lumbung terasi nasional. Bukan hanya Tulang Bawang dan Lampung Timur yang jadi sentra produksi, tapi juga Tanggamus dan Lampung Selatan turut menyumbang ribuan ton setiap tahunnya.
Data Produksi yang Terus Meningkat
Mengumpulkan data produksi terasi bukan perkara mudah. Berbeda dengan udang beku atau ikan kaleng, terasi sebagian besar diproduksi oleh usaha mikro dan kecil yang tak selalu tercatat rapi dalam statistik resmi.
Tapi dari obrolan dengan para pelaku UMKM dan pengecekkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung, saya mencoba merangkum perkiraan produksi beberapa tahun terakhir.
Tahun 2020 memang berat. Pandemi memukul hampir semua sektor, termasuk terasi. Produksi turun di kisaran 6.500 ton karena permintaan dari luar daerah berkurang drastis. Tapi yang menarik, konsumsi lokal justru tetap stabil. Masyarakat Lampung tetap membutuhkan terasi untuk lauk sehari-hari.
Memasuki 2021, perlahan ekonomi menggeliat. Produksi naik jadi sekitar 7.200 ton. Pedagang dari Palembang, Jambi, bahkan Jakarta mulai kembali memesan. Puncaknya di 2022, produksi mencapai 8.000 ton, didukung cuaca bersahabat yang membuat nelayan mendapatkan udang rebon berlimpah.
Tahun 2023 dan 2024 tren positif berlanjut, masing-masing 8.500 ton dan 9.000 ton. Proyeksi 2025? Optimistis tembus 9.500 ton. Angka ini mungkin tak seberapa dibanding produksi ikan kaleng, tapi ingat, di balik setiap ton terasi ada puluhan keluarga yang menggantungkan hidup.
Bukan Sekadar Bumbu
Saya sering ditanya, apa istimewanya terasi Lampung? Jawabannya ada pada rasa umami yang khas, hasil fermentasi alami udang rebon segar. Tapi yang lebih menarik, terasi ternyata menyimpan segudang manfaat kesehatan.
Kandungan proteinnya tinggi, cocok untuk pembentukan otot. Selenium dan antioksidan di dalamnya membantu melindungi sel dari radikal bebas.
Beberapa penelitian bahkan menyebut konsumsi terasi dalam jumlah wajar bisa mendukung kesehatan tulang berkat vitamin D dan kalsiumnya. Omega-3 dan vitamin B12 juga baik untuk fungsi otak dan imunitas.
Tapi saya harus jujur, terasi tetap tinggi garam. Konsumsi berlebihan tidak disarankan, apalagi bagi penderita hipertensi. Cukup satu atau dua sendok teh sehari sudah lebih dari cukup untuk menikmati kenikmatannya.
Antara Tradisi dan Ekonomi
Mengapa terasi begitu lekat dengan masyarakat Lampung? Jawabannya sederhana: karena ini warisan leluhur yang terus hidup.
Saya pernah ngobrol dengan seorang ibu di Tanggamus yang setiap hari membuat terasi seperti ibunya dulu. “Dari kecil sudah biasa bikin terasi, Mas. Kalau masak tanpa terasi, rasanya hambar,” katanya sambil tertawa.
Di acara-acara adat, terasi selalu hadir. Dalam seruit misalnya, ikan bakar diulek dengan sambal terasi, tempoyak, dan mangga muda. Kombinasi rasa yang luar biasa dan hanya ditemukan di Lampung.
Dari sisi ekonomi, terasi jadi penyelamat banyak keluarga pesisir. Saat nelayan tak bisa melaut karena cuaca buruk, istri-istri mereka tetap bisa memproduksi terasi dari stok udang rebon yang dikeringkan. UMKM terasi tumbuh subur, menciptakan lapangan kerja dari hulu ke hilir.
Dorongan agar Terasi Lampung Makin Berjaya
Potensi besar ini sayang jika tidak dikelola maksimal. Dalam diskusi dengan beberapa pelaku usaha dan akademisi, setidaknya ada beberapa langkah yang bisa ditempuh.
Pertama, adopsi teknologi. Saya melihat sendiri bagaimana proses penjemuran masih mengandalkan matahari. Saat musim hujan, produksi terhenti. Mesin pengering sederhana bisa jadi solusi, tapi harganya masih terlalu mahal untuk UMKM. Di sinilah peran pemerintah memberikan bantuan atau subsidi.
Kedua, soal higienitas. Produsen terasi perlu diedukasi tentang pentingnya sanitasi. Bukan hanya untuk sertifikasi halal dan SNI, tapi juga agar produknya bisa tembus pasar modern dan ekspor. Saya optimistis, dengan kemasan menarik dan cerita budaya yang kuat, terasi Lampung bisa bersaing di pasar internasional.
Ketiga, digitalisasi pemasaran. Pandemi mengajarkan bahwa penjualan online bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Beberapa produsen muda di Lampung Timur sudah memulai dengan memanfaatkan Instagram dan marketplace. Hasilnya, pesanan datang dari berbagai kota.
Pemerintah daerah juga tak boleh berhenti mendukung. Program minapolitan di Tulang Bawang patut diapresiasi dan diperluas. Integrasi antara nelayan, pengolah, dan pemasar harus diperkuat.
Penutup
Saya menulis ini bukan sebagai laporan resmi, tapi lebih pada kegelisahan sekaligus harapan. Terasi Lampung adalah cerminan bagaimana tradisi dan ekonomi bisa berjalan beriringan.
Di balik aromanya yang tajam, ada cerita tentang ketekunan nelayan, keuletan ibu-ibu rumah tangga, dan kekayaan kuliner yang patut dibanggakan.
Apresiasi saya sampaikan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung, para akademisi dari Unila yang terus meneliti pengembangan produk, serta tentu saja para produsen terasi di Tulang Bawang, Lampung Timur, Tanggamus, dan Lampung Selatan yang tak kenal lelah menjaga warisan ini.
Mari kita dukung terus terasi Lampung. Bukan hanya sebagai bumbu dapur, tapi juga sebagai penggerak ekonomi dan identitas budaya yang membanggakan. (*)
*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindag sejak Desember 2025, Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020, Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak Juli 2023 – Desember 2025.
















