WartaNiaga.ID – Artikel opini kali ini mengupas tentang strategi menaikkan PDRB Industri di Provinsi Lampung, demi mencapai kebangkitan ekonomi di tahun 2029.
Strategi Melompatkan PDRB Industri Lampung: Menuju Raksasa Ekonomi 2029
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung selama ini kerap diposisikan sebagai “halaman depan” Pulau Sumatera sebuah gerbang lalu lintas ekonomi, bukan sekaligus pusatnya.
Namun, di balik predikat tersebut, tersimpan potensi besar yang mulai menampakkan diri melalui data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2025.
Dengan nilai PDRB sektor industri pengolahan yang mencapai kisaran Rp85 triliun, Lampung sejatinya telah menjadi “raksasa yang tertidur” di papan tengah nasional.
Kini, pertanyaannya bukan lagi bagaimana sekadar tumbuh, melainkan bagaimana melompat. Dengan strategi industrialisasi yang masif dan terarah, bukan mustahil pada tahun 2029 Lampung akan berdiri sejajar dengan provinsi industri utama di Indonesia.
Peta Persaingan Industri Nasional: Potensi Besar di Papan Tengah
Melihat peta persaingan industri nasional, kita perlu membaca peluang dengan kepala dingin. Data PDRB sektor industri pengolahan tahun 2025 menunjukkan hierarki yang jelas.
Provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah masih kokoh di puncak dengan nilai PDRB mencapai ratusan hingga lebih dari seribu triliun rupiah.
Di luar Jawa, Riau memimpin dengan angka sekitar Rp310 triliun, disusul DKI Jakarta, Sumatera Utara, Banten, dan Kepulauan Riau.
Di tengah peta itu, Lampung berada di kisaran Rp85 triliun, hanya terpaut tipis dari Sulawesi Selatan (Rp95 triliun). Posisi ini adalah modal berharga. Lampung tidak perlu berkecil hati; sebaliknya, ini adalah momentum untuk membuktikan diri bahwa kita bisa naik kelas.
Fokus kita bukanlah mengejar ketertinggalan secara defensif, tetapi melakukan lompatan strategis dengan mengoptimalkan seluruh keunggulan komparatif yang dimiliki.
Hilirisasi: Jurus Utama Keluar dari Jeratan Komoditas
Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang gencar menyuarakan hilirisasi dan penguatan ekosistem investasi merupakan fondasi yang tepat. Secara konseptual, ini adalah upaya serius untuk keluar dari perangkap komoditas.
Kekayaan alam Lampung mulai dari singkong, kopi, hingga nanas selama ini lebih banyak dinikmati nilai tambahnya oleh pabrik-pabrik di luar daerah atau bahkan luar negeri.
Oleh karena itu, arah kebijakan “Mirza-Jihan” yang menekankan kemudahan investasi dan penguatan infrastruktur produksi mikro adalah bentuk nyata dari strategi pertumbuhan endogen.
Ini berarti, pertumbuhan ekonomi sejati harus lahir dari investasi pada sumber daya manusia dan inovasi lokal. Ketika petani dan pelaku UMKM kita tidak lagi sekadar menjual bahan mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk turunan di Lampung, maka lonjakan PDRB akan terjadi secara eksponensial dan berkelanjutan.
Belajar dari Kedah: Modernisasi Pertanian, Industrialisasi Teknologi
Untuk memperkaya perspektif, kita bisa menengok keberhasilan Negara Bagian Kedah di Malaysia. Dulu, Kedah dikenal sebagai lumbung padi yang ekonominya tertinggal.
Namun, dengan kebijakan yang visioner, mereka berhasil membangun kawasan industri terintegrasi yang memadukan riset, logistik efisien, dan manufaktur modern. Hebatnya, mereka tidak meninggalkan sektor pertanian, justru memodernisasinya.
Lampung memiliki potensi serupa. Optimalisasi kawasan industri yang terintegrasi dengan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan Pelabuhan Panjang adalah kunci.
Dengan infrastruktur yang memadai, Lampung bisa menarik investasi di sektor manufaktur kelas dunia yang berdampingan secara harmonis dengan sektor agrikultur yang telah dimodernisasi. Ini adalah model pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Sinergi Daerah dan Kolaborasi Hexahelix: Kunci Eksekusi
Agar strategi besar ini berjalan mulus, sinergi antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Lampung menjadi mutlak. Jangan sampai ada perbedaan frekuensi antara pusat dan daerah.
Jika Gubernur membuka karpet merah investasi, maka kemudahan perizinan di tingkat kabupaten/kota harus menjadi kenyataan, bukan justru hambatan.
Lebih dari itu, kita perlu mengadopsi model kolaborasi Hexahelix secara sungguh-sungguh. Akademisi dari Universitas Lampung (Unila) atau Institut Teknologi Sumatera (Itera) harus dilibatkan dalam riset terapan, misalnya untuk mendesain mesin pengolahan tepat guna bagi industri kecil di pedesaan.
Dunia usaha perlu diberikan kepastian hukum dan ketersediaan energi. Masyarakat dan media juga harus menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung. Dengan kolaborasi ini, eksekusi di lapangan akan berjalan efektif dan efisien.
Kesimpulan: Menjemput Takdir Sebagai Pusat Ekonomi Baru
Pembangunan ekonomi bukanlah sekadar tentang apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Lampung dianugerahi posisi geografis yang strategis, sumber daya alam melimpah, dan bonus demografi yang produktif.
Jika konsistensi kebijakan saat ini dibarengi dengan keberanian memangkas birokrasi yang rumit, maka tahun 2029 akan menjadi saksi kebangkitan Lampung.
Kita dapat mengejar capaian provinsi maju seperti Kepulauan Riau atau Sumatera Utara. Saatnya kita berhenti menjadi penonton di rumah sendiri.
Mari bersama-sama menjemput takdir Lampung sebagai pusat industri baru dan kekuatan ekonomi utama di Indonesia. (*)
*Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindag sejak Desember 2025, Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020, Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak Juli 2023 – Desember 2025.
















