Dari Hutan Kemasyarakatan ke Pasar Modern: Hilirisasi Komoditas di Pesawaran yang Melompatkan Nilai Ekonomi

Hilirisasi Komoditas di Pesawaran
Produk Ara Essentials Sebuah Bukti Keberhasilan Hilirisasi Komoditas di Kabupaten Pesawaran, Mengubah Hasil Hutan Menjadi Produk Bernilai Tambah yang Siap Bersaing.(Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi kali ini menyajikan kisah tentang Hilirisasi Komoditas di Kabupaten Pesawaran, telah menghasilkan produk Ara Essentials.

 

Dari Hutan Kemasyarakatan ke Pasar Modern: Hilirisasi Komoditas di Pesawaran yang Melompatkan Nilai Ekonomi
Oleh: Mahendra Utama*

 

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan industri yang kerap berpusat di kota-kota besar, sebuah cerita transformasi ekonomi tengah mengalir tenang dari lereng-lereng perbukitan Kabupaten Pesawaran, Lampung.

Cerita ini bukan tentang pabrik raksasa atau investasi asing yang gemerlap, melainkan tentang bagaimana sebutir kemiri dan buah pala yang jatuh dari pohon di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) mampu menjelma menjadi produk bernilai ekonomi tinggi bernama Ara Essentials, yang kini siap merambah pasar modern.

Fenomena ini adalah bukti nyata bahwa hilirisasi komoditas berbasis masyarakat di Kabupaten Pesawaran bukan sekadar wacana. Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) di Kabupaten tersebut, telah lama mengelola lahan dengan pola agroforestri multistrata, memadukan tanaman kehutanan dengan komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti kemiri, pala, kopi, dan kakao.

Apa yang membedakan saat ini adalah keberanian untuk melangkah lebih jauh tidak lagi berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk turunan yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.

Ara Essentials lahir dari rahim kesadaran kolektif itu. Minyak kemiri yang dulu hanya dijual dengan harga Rp20 ribu per botol, kini setelah melalui proses hilirisasi menjadi produk perawatan rambut Natural Hair Growth Oil, harganya melonjak hingga Rp100 ribu.

Bahkan, ketika diolah lebih lanjut menjadi sampo, nilainya bisa mencapai Rp150 ribu. Lompatan nilai ekonomi hingga lima kali lipat ini bukan sekadar angka; ia adalah representasi dari pergeseran paradigma petani hutan dari sekadar penjual bahan baku menjadi bagian dari rantai industri.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, sejak awal kepemimpinannya tak pernah lelah menggaungkan pentingnya hilirisasi sebagai kunci transformasi ekonomi daerah.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa era menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah harus segera diakhiri.

“Selama ini komoditas kita keluar dalam bentuk bahan mentah, ini harus diubah. Kita harus memastikan semua komoditas diolah terlebih dahulu sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di Lampung,” tegasnya saat membuka Rakerda HIPMI Lampung, September 2025 lalu .

Pernyataan Gubernur Mirza bukanlah retorika belaka. Ia memahami bahwa sektor pertanian dan perkebunan berkontribusi sekitar 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung, sementara industri pengolahan baru mencapai 19 persen.

Kesenjangan inilah yang harus ditutup. Dengan mendorong hilirisasi, nilai tambah ekonomi tidak lagi mengalir keluar daerah, tetapi dinikmati oleh masyarakat Lampung sendiri, mulai dari petani, pelaku UMKM, hingga tenaga kerja lokal.

Jika kita merujuk pada teori rantai nilai (value chain), proses yang terjadi pada komoditas kemiri dan pala di Pesawaran adalah contoh sempurna dari strategic repositioning. Dalam ekonomi konvensional, petani hutan berada di titik terlemah rantai nilai mereka hanya pemasok komoditas primer dengan harga ditentukan tengkulak atau pasar induk.

Namun, dengan melakukan hilirisasi, posisi mereka bergeser ke titik yang lebih tinggi dalam rantai nilai. Mereka tidak lagi sekadar price taker, tetapi mulai menjadi value creator.

Lebih dari itu, pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang kini menjadi tren global. Limbah cangkang kemiri yang selama ini hanya menumpuk, misalnya, mulai diolah menjadi briket arang bernilai ekonomi melalui pendampingan akademisi dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Bahkan, di Desa Sinar Harapan, limbah kulit kopi dan pala disulap menjadi minuman herbal kaskara yang khas . Inilah ekosistem hilirisasi yang utuh bukan sekadar mengolah inti produk, tetapi juga memanfaatkan seluruh turunannya hingga tak ada yang terbuang sia-sia.

Namun, kita tidak boleh berpuas diri. Masih ada pekerjaan rumah yang menanti. Sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Bidang Perindustrian dan Perdagangan, saya melihat sendiri bahwa produktivitas rempah lokal kita masih menghadapi tantangan serius.

Pohon-pohon pala mulai menua, serangan hama meningkat, dan lahan kemiri tergerus alih fungsi . Jika tidak ada intervensi cepat di sektor hulu, maka mimpi hilirisasi bisa terganjal oleh kekurangan pasokan bahan baku.

Saya pernah mengingatkan dalam berbagai diskusi bahwa kita harus berani melakukan peremajaan tanaman dan modernisasi unit pengolahan pascapanen.

Jangan sampai suatu saat kita mengimpor kemiri dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan industri sendiri. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga soal menjaga identitas.

Gulai Taboh dan Pindang khas Lampung tidak akan terasa otentik tanpa kemiri dan pala asli dari negeri sendiri .

Ara Essentials telah membuktikan bahwa produk turunan rempah asli buatan putra daerah mampu bersaing di pasar modern. Kehadirannya di platform e-commerce seperti Shopee adalah jembatan yang menghubungkan petani hutan Pesawaran dengan konsumen di seluruh Indonesia. Ini adalah langkah awal yang harus diikuti oleh lebih banyak kelompok tani dan UMKM lainnya.

Visi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal untuk menjadikan Lampung sebagai pusat hilirisasi komoditas nasional bukanlah utopia.

Dengan 492 ribu UMKM yang tersebar di seluruh provinsi, kita memiliki kekuatan luar biasa untuk menggerakkan ekonomi dari bawah.

Tugas kita sekarang adalah memastikan mereka naik kelas memiliki brand kuat, menguasai teknik pengemasan modern, memahami pemasaran digital, dan tentunya menghasilkan produk-produk berkualitas yang tak kalah dengan produk impor.

Hilirisasi bukan sekadar soal mesin dan pabrik. Ia adalah soal keberanian mengubah cara berpikir. Dari “jual apa yang kita tanam” menjadi “tanam apa yang bisa kita jual dengan nilai tertinggi”. Dari sekadar petani menjadi wirausaha industri. Dari bahan mentah menjadi produk jadi yang membawa nama harum Lampung di kancah nasional bahkan global.

Ara Essentials adalah salah satu jawaban atas tantangan itu. Kini, giliran kita semua pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat untuk bergerak bersama, memastikan bahwa transformasi ini bukan hanya milik segelintir orang, tetapi menjadi gelombang besar yang mengangkat kesejahteraan seluruh anak negeri. (*)

 

 

 

*Penulis: Mahendra Utama adalah, Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Preskom PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020, dan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak Juli 2023-Desember 2025.