Produksi Petai di Lampung: Potensi Ekonomi yang Menjanjikan dan Ancaman Hilangnya Warisan Kuliner

Produksi Petai di Lampung
Ilustrasi: Tren Positif Produksi Petai di Lampung (2020-2025). Menjadi Sinyal Cerah bagi Perekonomian Petani Lokal. (Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Artikel opini ini membahas tentang produksi petai di Lampung, potensi ekonominya dan ancaman lenyapnya petai di pasaran.

 

Produksi Petai di Lampung: Potensi Ekonomi yang Menjanjikan dan Ancaman Hilangnya Warisan Kuliner
Oleh : Mahendra Utama*

 

Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional Bandar Lampung, aroma khas petai sering kali menyelinap di antara tumpukan sayur mayur.

Bagi masyarakat Lampung, petai bukan sekadar lauk pendamping sambal terasi atau lalapan segar, tapi bagian dari identitas budaya yang melekat erat.

Saya ingat betul, saat kecil dulu, ibu sering menyajikan Seruit, hidangan khas Lampung, dengan taburan petai segar yang melimpah.

Tapi, apa jadinya jika petai ini tiba-tiba lenyap dari pasaran? Apakah kita hanya akan merasa kecewa, atau ada dampak yang lebih dalam bagi ekonomi dan kesehatan masyarakat?

Sebagai pemerhati pembangunan, saya melihat petai sebagai simbol ketangguhan pertanian lokal di Lampung.

Produksi Petai Lampung: Data dan Tren Terbaru (2020–2025)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi petai di Lampung menunjukkan tren positif meski sempat mengalami fluktuasi.

Berikut ini ringkasan data produksi petai Lampung dalam lima tahun terakhir:
· 2020: 10.000 ton
· 2021: 12.500 ton
· 2022: 11.000 ton (terdampak pandemi)
· 2023: 13.200 ton
· 2024: 14.800 ton
· 2025 (proyeksi): 15.500 ton

Luas lahan tanam petai di Lampung mencapai ribuan hektare, tersebar di kawasan perbukitan subur seperti Lampung Utara, Lampung Timur, dan Tanggamus.

Meski bukan produsen terbesar nasional gelar tersebut masih dipegang oleh Jawa Tengah dengan produksi di atas 20.000 ton per tahun kontribusi Lampung mencapai 5–7% dari total produksi nasional, menjadikannya salah satu pemain penting dalam rantai pasok petai Indonesia.

Budidaya Petai di Lampung: Satu Napas dengan Jengkol

Tak lengkap membahas petai tanpa menyentuh jengkol, saudara dekatnya yang juga menjadi primadona kuliner Lampung. Data dari Dinas Perkebunan setempat menunjukkan bahwa sentra produksi jengkol tersebar di:

· Lampung Utara: Menjadi penghasil tertinggi dengan ribuan kuintal per tahun, terutama dari kecamatan Abung Selatan, Kotabumi, dan Tanjung Raja.
· Lampung Timur: Petani di Desa Maringgai bahkan rela menginap di kebun untuk menjaga panen dari pencuri.
· Tanggamus: Wilayah perbukitan yang mendukung pertumbuhan pohon jengkol sekaligus menjaga ekosistem dari erosi.

Budidaya jengkol dan petai tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga lingkungan.

Manfaat Petai untuk Kesehatan: Kandungan Nutrisi dan Riset Terkini

Dalam 100 gram petai, terkandung:
· Protein: 5,4 gram
· Karbohidrat: 15 gram
· Serat: 2 gram
· Kalium, vitamin C, dan antioksidan

Menurut dr. Gia Pratama dari Alodokter:
“Kandungan kalium pada petai membantu mengatur ritme jantung dan menjaga tekanan darah, sementara seratnya mendukung pencernaan yang sehat.”

Studi terbaru dari Journal of Food Science and Technology (2024) juga mengonfirmasi bahwa petai mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid yang dapat mencegah penuaan dini dan mengurangi risiko diabetes—penyakit yang semakin marak di Indonesia.

Ancaman Hilangnya Petai: Dampak Ekonomi dan Sosial

Jika petai hilang dari pasaran, bukan hanya rasa kecewa yang melanda pecinta sambal, tapi juga guncangan ekonomi. Ribuan petani di Lampung bergantung pada petai sebagai sumber pendapatan musiman.

Hilangnya petai berarti kehilangan mata pencaharian, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang membuat panen tak menentu.

Dalam teori ketahanan pangan oleh Amartya Sen (1981) , akses terhadap makanan lokal seperti petai adalah kunci kestabilan sosial. Dr. Fatmalina Febry (2023) dalam bukunya “Ilmu Gizi Dasar” menyatakan:

“Hilangnya varietas lokal seperti petai bisa mengganggu keseimbangan nutrisi masyarakat, karena ia menyediakan nutrisi esensial yang sulit digantikan oleh impor.”

Dampak serupa pernah terjadi saat krisis cabai 2022, di mana harga melonjak dan masyarakat kehilangan akses ke bahan pokok.

Belajar dari Daerah Lain: Inovasi Budidaya Petai

Untuk memperkuat argumentasi, mari lihat contoh daerah atau negara maju dalam budidaya petai:

· Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah: Petani mengadopsi teknik agroforestri modern dengan menggabungkan petai dan kopi, meningkatkan hasil hingga 25% per hektare. Bahkan, produk petai dari Wonosobo mulai merambah pasar ekspor.
· Johor, Malaysia: Budidaya petai organik dengan irigasi drip meningkatkan produksi hingga 30% sejak 2020 (sumber: Kementerian Pertanian Malaysia, 2025).
· Thailand: Mengembangkan varietas petai hibrida tahan hama yang diekspor ke pasar Eropa.

Inovasi serupa bisa diterapkan di Lampung untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing petai lokal.

Apresiasi untuk Petani dan Pemerhati Lokal

Saya mengapresiasi para petani Lampung yang gigih menjaga kebun petai dan jengkol di tengah tantangan cuaca ekstrem. Pemerintah Provinsi Lampung juga patut diacungi jempol atas program subsidi bibit dan pelatihan budidaya berkelanjutan.

Tak lupa, komunitas kuliner seperti Rumah Sambal Seruit yang terus mempromosikan petai sebagai warisan budaya. Mereka adalah pilar pembangunan yang sesungguhnya.

Kesimpulan: Petai Adalah Aset Nasional

Pada akhirnya, petai bukan hanya makanan, tapi aset nasional yang harus dilindungi. Jika hilang, kita tak hanya kehilangan rasa, tapi juga potensi kesehatan dan ekonomi. Mari kita dukung pertanian lokal agar petai tetap hadir di meja makan kita.

 

*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, sejak Desember 2025 menjadi Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, sejak Juli 2020 menjabat Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis, sejak Juli 2023 – Desember 2025 menjabat Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh.