Pelaku Kerajinan Bambu Pringsewu Terkendala Bahan Baku

Pelaku Kerajinan Bambu Pringsewu Terkendala Bahan Baku
Pengrajin Bambu "BAMBOORE" milik Rendi di Tanjung Rusia Pringsewu. Foto M2T

WartaNiaga – Pelaku kerajinan bambu Pringsewu terkendala bahan baku, hal ini dirasakan oleh Rendi (40) pengrajin aneka kerajinan rumah tangga berbahan baku bambu.

Baca Juga : Antoni Pengrajin Cetik Dari Kabupaten Lampung Barat

Berawal iseng guna mengisi kekosongan waktu adalah Rendi mencoba membuat aneka kerajinan rumah tangga yang berbahan baku tanaman Bambu yang diperoleh dari sekitar rumahnya.

“Dulu saya hanya sebatas iseng mas mengerjakan bambu ini mengisi kekosongan waktu karena melihat bahan baku bambu yang ada di sekitar rumah saya,” ucap Rendi.

Degan bermodalkan peralatan seadanya seperti gergaji, palu, golok dan pahat bapak dua anak ini terus menghasilkan seni kriya yang bernilai tinggi.

Baca Juga : Sentra Pisang Sale Lampung Barat Dikunjungi Bupati

Keterampilan dan kreasi bambu di dapat Rendi secara otodidak, selain juga mencari metode-metode baru agar pengerjaanya lebih baik, mudah dan efisien.

“Untuk mempermudah pengerjaan, saya mencicil untuk pengadaan peralatannya. Kalau gergaji, palu, golok memang sebelumnya sudah punya, tapi seperti bor genggam, pisau khusus untuk bambu dan yang lainya harus dibeli,” kata Rendi.

Ditangan Rendi, bambu-bambu Pringsewu yang sudah tua disulap menjadi kursi, meja, dan furnitur lainnya bahkan beberapa tempat rekreasi pun memintanya untuk di buatkan gazebo (saung).

Rendi mulai tertarik dan membuka usaha kerajinan bambu, setelah ia merasa prihatin saat melihat batang-batang bambu di Pringsewu yang cukup eksotis itu hanya sebatas dimanfaatkan menjadi pagar, tiang penyangga atap, serta beberapa alat perlengkapan dapur seperti tambir, besek atau pun dinding rumah yang bisa disebut geribik.

Dengan dibantu teman dan tentangganya yang kini menjadi karyawan tetap, Rendi berusaha membuat aneka kerajinan berbahan baku bambu seperti bangku, meja, hiasan dinding, lampu hias serta pernak pernik lainya yang ia produksi secara manual.

Untuk mendapatkan bambu dengan kwalitas yang tua dan bagus, memang dibutuhkan waktu tertentu menebangnya. Apalagi, proses pengeringan bambu cukup memakan waktu yang tidak sebentar.

Melalui media sosial dan informasi pada rekan-rekannya kini Rendi berupaya mempromosikan produk karya seninya.

Lambat laun, usaha kerajinan bambu yang dikembangkan Rendi pun mulai bisa diterima di pasaran. Usaha ini kemudian diberi nama dengan “Bamboore”.

Bamboore sendiri berada di Pekon Tanjung Rusia Kecamatan Pardasuka. Dalam sehari Rendi yang dibantu 5 orang rekan kerjanya mampu mengerjakan 1 unit gazebo ukuran 2×2 m, yang dibandrol seharga Rp2,3 juta.

Diakui Rendi, saat ini Bamboore tengah kesulitan mendapatkan pasokan bahan mentah bambu di Pringsewu.

“Saya sering harus keluar daerah seperti Pesawaran, Gisting sampai Kalirejo Lampung Tengah untuk bisa mendapatkan bambu wuling yang tua seperti ini,” tuturnya.