Pelaku Kerajinan Bambu Pringsewu Terkendala Bahan Baku

Pelaku Kerajinan Bambu Pringsewu Terkendala Bahan Baku
Pengrajin Bambu "BAMBOORE" milik Rendi di Tanjung Rusia Pringsewu. Foto M2T

Rendi menyatakan di Pringsewu sendiri bahan bambu memang ada, tapi kualitas dan diameternya kurang bagus serta kecil-kecil.

“Untuk daun nipah atau belarak yang digunakan untuk atap saya dapatkan dari Sumatra Selatan, dan sebagai tali pengikat saya mengunakan rotan yang di peroleh dari Cirebon,” ungkapnya.

Menurut Rendi, nama “Pringsewu” sejatinya memiliki filosofi yang dalam berkaitan dengan bambu, yaitu bambu seribu. Namun sayangnya, sumber daya alam (bambu-red) sangat sulit ditemukan di Kabupaten Pringsewu.

Baca Juga : Kisah Putera Pratama Mengais Rezeki di Tengah Pandemi

Padahal lanjut Rendi, bila pemerintah bisa jeli dan mengembangkan aneka jenis bambu, hal ini bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Sebab, sambung Rendi, peluang usaha dan kreasi yang menggunakan bahan dasar bambu cukup potensial dan menggiurkan.

“Bambu kita habis, dikirim keluar daerah dan dijual dengan harga sangat murah,” imbuh dia.

Rendi berharap Pemkab Pringsewu hendaknya mengalakan aneka ragam tanaman bambu sebagai ketersediaan bahan baku kerajinan, sekaligus wahana edukasi dan wisata kebun bambu.

Rendi menambahkan Pemkab Pringsewu tidak memilki konsep yang jelas atas makna pringsewu itu sendiri (seribu bambu-red).

Pemkab Pringsewu hanya mengedepankan simbol dengan banyak berdirinya icon tugu bambu semata yg terbuat dari coran semen,” sindirnya.

Baca Juga : Kebun Jeruk Sunkist di Lampung Barat 

Harapanya, keberadaan bambu sebagai entitas Kabupaten Pringsewu tetap terus bisa terjaga dan dilestarikan dari masa ke masa.

Selain itu, bambu juga harus bisa diarahkan menjadi sumber pendapatan masyarakat, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).