Mengurai Dinamika Ekonomi Jember: Antara Krisis dan Peluang, Oleh Mahendra Utama

Mengurai Dinamika Ekonomi Jember
Mahendra Utama - Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh. (Sumber Foto: Dok. Pribadi).

WartaNiaga.ID – Mengurai Dinamika Ekonomi Jember: Antara Krisis dan Peluang, merupakan judul artikel opini yang ditulis oleh Mahendra Utama.

Mengurai Dinamika Ekonomi Jember: Antara Krisis dan Peluang
Oleh: Mahendra Utama*

Dalam satu bulan terakhir, dinamika ekonomi Jember memperlihatkan dua wajah yang tampak bertolak belakang—rapuh di tengah tantangan distribusi dan iklim, namun tangguh karena respons cepat pemimpin dan masyarakat.

Meskipun demikian, potensi Jember—sebagai daerah agraris dan pusat UMKM—masih sangat besar. Terbaru, data BPS menunjukkan bahwa ekonomi Jember tumbuh sebesar 4,86 persen pada tahun 2024, ditopang sektor pertanian dan transportasi yang menjadi penggerak utama PDRB.

1. Krisis BBM: Alarm Fiskal dan Momentum Kepemimpinan

Akhir Juli lalu, Jember merasakan langsung konsekuensi dari terganggunya distribusi akibat penutupan jalur Gumitir. Antrean panjang di SPBU di berbagai kecamatan bukan hanya merepotkan masyarakat, tetapi juga menghentikan roda ekonomi sektor transportasi, UMKM, hingga ojek online: semua berinduksi pada kelangkaan yang nyata.

Di tengah kegentingan itu, kepemimpinan Bupati Jember Gus Fawaid tampil sigap—turun langsung ke lapangan, memonitor kondisi, dan memastikan pemerintah daerah bergerak cepat.

Tidak kalah penting, Nasim Khan, anggota DPR RI Fraksi PKB, mengambil peran strategis menjembatani komunikasi dengan pemerintah pusat dan Pertamina, hingga alokasi BBM bisa ditingkatkan dari 1.000 menjadi 2.100 KL per hari. Kehadiran mereka merefleksikan esensi nyata dari “negara hadir” yang terasa.

2. Pertumbuhan Ekonomi Jember: 4,86 Persen—Potensi yang Perlu Ditingkatkan

Menurut BPS, PDRB Kabupaten Jember tahun 2024 mencapai Rp 102,76 triliun (harga berlaku), dan Rp 62,89 triliun (harga konstan 2010). Ekonomi tumbuh sebesar 4,86 persen, meski masih sedikit di bawah rata-rata Jawa Timur sebesar 4,93 persen.

Dari sisi produksi, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh paling tinggi, yakni sekitar 10,41 persen—menunjukkan pemulihan kuat di sektor logistik. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi struktur PDRB dengan 25,71 persen, meneguhkan posisi sektor primer sebagai penopang ekonomi lokal.

3. Stabilitas Tenaga Kerja: Harmoni UMKM dan Pelatihan Gratis

Di tengah gejolak global dan nasional, pasar tenaga kerja di Jember relatif stabil. PHK massal berhasil diminimalkan karena dominasi sektor UMKM yang fleksibel. Beberapa perusahaan bahkan membuka lowongan kerja, disertai program pelatihan gratis yang digencarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

Ini adalah modal sosial-ekonomi yang tak bisa diremehkan—tenaga kerja yang adaptif dan siap pakai adalah daya tarik investasi penting.

Namun perlu diakui, tantangan tetap ada: upah yang relatif rendah dan mobilitas tenaga kerja terampil masih terbatas. Pelatihan harus dipacu menuju peningkatan daya saing, terutama mengintegrasikan keterampilan digital dan inovasi agribisnis.

4. Risiko Iklim di Sektor Pertanian: Tantangan Besar yang Harus Dijawab

Sektor pertanian—yang menjadi tumpuan perekonomian desa—dipaksa menanggung beban cuaca ekstrem. Petani tembakau di Ampel mengaku merugi hingga Rp80 juta akibat banjir. Selain itu dii Lojejer, harga cabai anjlok karena kualitas panen menurun akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Kisah ini menegaskan satu hal: dalam era perubahan iklim, ketahanan pangan tak bisa lagi mengandalkan metode tradisional. Jember membutuhkan investasi dalam sistem irigasi modern, teknologi pasca-panen, serta pengembangan diversifikasi komoditas.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia akademik—seperti Universitas Jember serta Polije dan sektor swasta bisa menjadi tumpuan bagi pertanian yang adaptif dan maju.

5. Refleksi dan Arah ke Depan

Tiga fenomena—krisis BBM, stabilitas tenaga kerja, dan tantangan pertanian—menunjukkan dua karakter Jember: rapuh sekaligus tangguh. Perbaikan distribusi energi, respons kepemimpinan yang cepat, dan keberhasilan sektor transportasi menunjukkan bahwa dengan sinergi lokal-nasional, krisis bisa menjadi momentum.

Pertumbuhan ekonomi 4,86 persen adalah modal, bukan tujuan akhir. Untuk melangkah lebih jauh, Jember membutuhkan:

1. Infrastruktur energi yang andal, memastikan distribusi lancar hingga ke wilayah terjauh.
2. Peningkatan kualitas tenaga kerja, dengan mengintegrasikan pelatihan berbasis kebutuhan industri dan agribisnis modern.
3. Pertanian adaptif iklim, ditopang penelitian dan teknologi tepat guna agar petani dapat panen berkualitas setiap musim.

Kepemimpinan yang terus hadir, seperti yang ditunjukkan Bupati Jember Gus Fawaid dan Nasim Khan—memastikan kebijakan responsif dan proaktif diberlakukan.

Sebagai komisaris di perusahaan yang bergerak di sektor agribisnis, saya melihat masa depan Jember sangat cerah. Namun potensi itu harus digerakkan kolektif: sinergi antara pemerintah daerah, wakil rakyat, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.

Bila ini terwujud, bukan mustahil Jember akan menjadi contoh bagi daerah lain tentang bagaimana ekonomi lokal bisa tumbuh tangguh di tengah gejolak global dan iklim. (*)
———————————————————————-*Mahendra Utama, Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh

Sumber Data:
1. BPS Kabupaten Jember: Pertumbuhan ekonomi sebesar 4,86 % tahun 2024; PDRB Rp 102,76 triliun (harga berlaku), Rp 62,89 triliun (konstan 2010); sektor transportasi & pergudangan tumbuh 10,41 %; pertanian menyumbang 25,71 % PDRB.
2. Stabilitas sektor ketenagakerjaan dan pelatihan gratis (Pantura7.com).
3. Kerugian petani tembakau & fluktuasi harga cabai (Jatimnow.com).
4. Krisis BBM & penanganan cepat oleh Bupati dan Nasim Khan (Ngopibareng.id, Kiss FM Jember).