WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, mengulas tema: Krisis Avtur Thailand-Vietnam, Ancaman Penerbangan atau Peluang Pariwisata Indonesia?
Krisis Avtur Thailand-Vietnam: Ancaman Penerbangan atau Peluang Pariwisata Indonesia?
Oleh: Mahendra Utama*
Krisis bahan bakar jet (avtur) yang melanda Thailand dan Vietnam bukan sekadar gangguan regional. Ini cermin kerapuhan rantai pasok energi Asia Tenggara di tengah konflik Timur Tengah yang tak kunjung reda.
Thailand menghentikan ekspor avtur sejak 6 Maret 2026 kecuali ke Myanmar dan Laos, sementara Vietnam terpaksa memangkas jadwal penerbangan mulai April. Pertanyaan krusial: apakah Indonesia hanya jadi korban, atau justru bisa memanfaatkan momentum ini?
Latar Belakang Krisis yang Mengguncang Regional
Konflik Timur Tengah memicu kekurangan pasokan global. China dan Thailand, dua pemasok utama, menutup keran ekspor untuk mengamankan kebutuhan domestik.
Vietnam, yang mengimpor lebih dari dua pertiga avturnya dengan 60 persen berasal dari China dan Thailand, langsung terpukul.
Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam menyatakan dalam dokumen resmi 9 Maret 2026: “Ada risiko kekurangan bahan bakar jet bagi maskapai penerbangan Vietnam mulai awal April dan bulan-bulan berikutnya.”
Akibatnya, maskapai Vietnam memangkas frekuensi, terutama rute domestik, dan bandara bersiap menampung pesawat yang parkir lebih lama.
Harga avtur global meroket, tiket pesawat dunia naik, dan pariwisata Thailand diprediksi turun 13-25 persen. Ini bukan sekadar berita tetangga ini peringatan bagi seluruh ASEAN.
Dampak Potensial ke Sektor Penerbangan Indonesia
Indonesia tidak bergantung seberat Vietnam pada impor avtur dari Thailand. Namun, kenaikan harga avtur global dan gangguan supply chain tetap mengancam. INACA (Indonesian National Air Carriers Association) dalam diskusi dengan Bank Indonesia menyebutkan kenaikan harga avtur dan kurs dolar AS telah membebani operasional maskapai, termasuk penerbangan internasional dan kargo.
Jika harga avtur terus meroket, maskapai domestik seperti Garuda, Lion Air, atau Citilink bisa terpaksa memangkas rute atau menaikkan tarif.
Pariwisata Bali dan destinasi lain yang mengandalkan penerbangan langsung maupun transit berisiko kehilangan devisa hingga Rp184 miliar per hari, seperti proyeksi pemerintah.
Rute yang melewati hub Timur Tengah semakin mahal dan tidak aman. Wisatawan Eropa dan Australia bisa membatalkan atau beralih destinasi.
Mengapa Indonesia Berbeda dari Thailand dan Vietnam?
Di sinilah letak keunggulan Indonesia. PT Pertamina Patra Niaga menjamin ketahanan avtur nasional hingga 30 hari stok. Yosep, perwakilan Pertamina, menyatakan: “Pertamina telah mempersiapkan dan menjamin pasokan serta ketahanan Avtur secara nasional di level 30 hari.”
Pemerintah juga menargetkan stop impor avtur sepenuhnya pada 2027 melalui optimalisasi kilang Balongan dan Dumai, termasuk produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari jelantah.
Berbeda dengan Vietnam yang 66 persen impor, Indonesia punya basis produksi domestik lebih kuat. Ini bukan keberuntungan, melainkan hasil investasi jangka panjang yang patut dipercepat.
Teori dan Kutipan yang Memperkuat Analisis
Teori ketahanan rantai pasok (Supply Chain Resilience) yang dikemukakan Martin Christopher (2011) dalam bukunya Logistics and Supply Chain Management menegaskan: negara yang bergantung pada satu-dua pemasok rentan terhadap shock geopolitik.
Vietnam jadi contoh nyata ketergantungan 60 persen pada China-Thailand membuatnya kolaps dalam hitungan minggu.
Sementara itu, teori daya saing destinasi pariwisata Ritchie dan Crouch (2003) menjelaskan bahwa negara dengan konektivitas udara stabil dan harga kompetitif akan unggul saat kompetitor terganggu.
Thailand dan Vietnam sedang goyah; Indonesia bisa merebut pangsa pasar wisatawan Asia Timur dan Eropa yang mencari alternatif aman.
Kutipan pejabat Vietnam di atas plus data INACA membuktikan: krisis ini bukan hipotetis. Ini pelajaran hidup bahwa energi security sama pentingnya dengan promosi pariwisata.
Insight Kritis: Ancaman atau Peluang Emas?
Insight utama: krisis avtur Thailand-Vietnam justru membuka peluang rerouting wisatawan. Saat Thailand kehilangan 25 persen target kunjungan 36,7 juta wisatawan, Indonesia bisa menarik sebagian dengan kampanye “Bali Safe & Direct” atau “Wonderful Indonesia Without Transit Risk”.
Namun, tanpa aksi cepat, peluang ini akan lenyap. Harga tiket domestik naik, maskapai memangkas rute, dan pariwisata kehilangan momentum Lebaran 2026. Pemerintah tampaknya sudah siap mitigasi (Kemenpar), tapi masih reaktif bukan visioner.
Tawaran Solusi Jitu yang Harus Segera Dieksekusi
Indonesia punya solusi Jitu bukan sekadar bertahan, tapi memimpin:
1. Percepat stop impor avtur 2027 dengan insentif pajak bagi kilang swasta dan produksi SAF massal. Target 2026 sudah harus 50 persen produksi domestik.
2. Diversifikasi sumber avtur melalui kontrak jangka panjang dengan Australia, Malaysia, dan Singapura bukan lagi bergantung satu-dua negara.
3. Kampanye pariwisata agresif senilai Rp500 miliar: promosi rute langsung ke Eropa, Australia, dan India sambil tawarkan paket “fuel-secure holiday”.
4. Hedging harga avtur oleh maskapai dengan dukungan pemerintah, plus subsidi sementara untuk rute domestik esensial.
5. Kerja sama ASEAN mendesak pembentukan cadangan avtur regional agar krisis seperti ini tak terulang.
Tanpa lima langkah ini, Indonesia hanya akan jadi penonton sementara devisa menguap.
Krisis avtur Thailand-Vietnam bukan akhir dunia bagi Indonesia. Ini momentum emas untuk membuktikan kemandirian energi dan daya saing pariwisata.
Pemerintah dan pelaku usaha harus bertindak sekarang sebelum April 2026 menjadi bulan kelabu bagi langit Indonesia. (*)
———————————————————————
*Penulis: Mahendra Utama adalah Eksponen 98 dan Pemerhati Pembangunan.
















