WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Gubernur Lampung Berpihak Petani, Hilirisasi Singkong Dongrak Kesejahteraan.
Gubernur Lampung Berpihak Petani, Hilirisasi Singkong Dongrak Kesejahteraan
Oleh: Mahendra Utama*
Lampung sebagai Lumbung Singkong Nasional
Provinsi Lampung merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia, dengan sekitar 70 persen produksi singkong nasional berasal dari daerah ini dan menjadi sumber penghidupan ratusan ribu keluarga petani.
Namun selama puluhan tahun, pengembangan sektor singkong berjalan tanpa ekosistem yang terintegrasi, di mana industri dan petani bergerak terpisah.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung berpihak pada petani, khususnya petani ubi kayu.
Perjuangan Nyata untuk Kesejahteraan Petani
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengakui bahwa selama ini sistem ekonomi pertanian belum sepenuhnya berpihak pada petani.
Sebelum adanya intervensi kebijakan, pendapatan petani singkong hanya sekitar Rp1 juta per bulan.
“Saya setengah mati memperjuangkan petani melalui berbagai program. Jangan bilang saya tidak bisa membela rakyat dan petani,” ujar Gubernur dengan tegas.
Pemprov Lampung mengambil peran sebagai mediator dengan mempertemukan petani, industri, dan pemerintah pusat, menghasilkan kesepakatan yang mendorong kebijakan pengendalian impor sehingga industri dapat meningkatkan harga beli singkong petani.
Hasilnya, harga singkong meningkat dari sekitar Rp600-Rp700 per kilogram menjadi sekitar Rp2.200 per kilogram.
“Ini menunjukkan ketika petani, industri, dan pemerintah bersatu, manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat,” tambahnya.
National Cassava Center dan Masa Depan Petani
Gubernur juga menggagas pembentukan Sentra Pengembangan Singkong Nasional atau National Cassava Center bersama Universitas Lampung sebagai pusat inovasi nasional yang berfokus pada pengembangan varietas unggul, mekanisasi pertanian, teknologi budidaya, hingga hilirisasi produk berbasis singkong.
“Ini bukan sekadar peresmian sebuah lokasi atau lembaga riset. Ini adalah titik awal pembangunan sebuah ekosistem pengembangan singkong yang terintegrasi dimana ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani dipertemukan dalam satu tempat,” ujarnya.
Dengan hadirnya ekosistem hilirisasi ubi kayu terintegrasi dari PTPN Group dan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Lampung, petani singkong kini memiliki harapan baru untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
“Kita harus jadi nomor satu di dunia. Lampung punya petani, lahan, industri, dan kini kita bangun risetnya. Ini saatnya meningkatkan produktivitas,” pungkas Gubernur. (*)
—————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.













