WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Ekonomi Lampung Terbang, Inilah Daya Ungkit Dua Rute Baru TransNusa.
Ekonomi Lampung Terbang, Inilah Daya Ungkit Dua Rute Baru TransNusa
Oleh: Mahendra Utama*
Pembukaan dua rute TransNusa Lampung–Jakarta tiga kali sehari dan Lampung–Kuala Lumpur setiap hari bukanlah peristiwa transportasi biasa.
Ini adalah suntikan energi baru bagi perekonomian Lampung. Pertanyaannya: Seberapa Besar Daya Ungkitnya?
Growth Pole Theory dan Bandara sebagai Pusat Pertumbuhan
Teori growth pole dari Francois Perroux menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terjadi merata di semua tempat, melainkan terkonsentrasi pada pusat-pusat tertentu, lalu menyebar ke wilayah sekitar melalui efek rambatan (spread effect).
Bandara, dalam kerangka ini, berfungsi sebagai growth pole pusat pertumbuhan yang efeknya dapat mendorong seluruh ekonomi regional.
CEO TransNusa, Datuk Bernard Francis, secara tegas menilai Lampung “memiliki potensi yang sangat besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan destinasi pariwisata”.
Berapa Besar Daya Ungkit Ekonomi?
Dampak ekonomi dapat diukur dari beberapa sisi:
● Sektor Pariwisata
Lampung memiliki destinasi unggulan: Taman Nasional Way Kambas, Teluk Kiluan, Pulau Pahawang, hingga Pantai Tanjung Setia yang dikenal sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di Indonesia.
Rute langsung dari Kuala Lumpur membuka akses bagi wisatawan mancanegara menjelajahi ekowisata Lampung.
● Sektor UMKM dan Perdagangan
Ketua APINDO Lampung, Ary Meizary Alfian, menegaskan bahwa dengan direct flight, peluang usaha bagi UMKM merambah pasar ekspor terbuka lebar. Penerbangan langsung juga memangkas biaya logistik dan mempermudah mobilitas pelaku usaha.
Efek berganda (multiplier effect). Konektivitas yang lebih baik mendorong pertumbuhan di sektor terkait: perhotelan, kuliner, jasa transportasi, dan perdagangan.
Pengamat Ekonomi Universitas Lampung, Nairobi, menilai jika dikelola serius, bandara bisa menjadi sumber pemasukan baru bagi daerah bukan hanya soal penerbangan, tetapi bagaimana aktivitas ekonomi di sekitarnya terhubung dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Tantangan dan Strategi ke Depan
Daya ungkit ini tidak otomatis terjadi. Ada tiga hal yang harus diperhatikan:
Pertama, menjaga keberlanjutan rute. Angkasa Pura harus terus mempromosikan bandara ke maskapai lain berdasarkan data permintaan.
Kedua, menyiapkan ekosistem pariwisata dan logistik yang mendukung mulai dari transportasi darat dari bandara hingga promosi destinasi.
Ketiga, memastikan harga tiket tetap kompetitif. Tiket Jakarta–Lampung mulai Rp699.000 dan Lampung–Kuala Lumpur mulai Rp1.599.000.
Lampung dengan populasi sekitar 9,5 juta jiwa memiliki captive market yang besar di sektor transportasi udara.
Kini saatnya semua pihak pemerintah, operator bandara, pelaku usaha, dan masyarakat bersinergi mengubah potensi menjadi kenyataan. Ekonomi Lampung siap lepas landas. (*)
—————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















