Hilirisasi Ikan Nila Lampung: Dari Komoditas Menuju Abon Bernilai Tambah

Hilirisasi Ikan Nila Lampung
Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan dan TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan. (Sumber Foto: Dok. Wartaniaga.id).

WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, mengusung tema: Potensi Hilirisasi Ikan Nila di Lampung, Dari Sekedar Ikan Segar Menuju Produk Bernilai Tambah.

 

Hilirisasi Ikan Nila Lampung: Dari Komoditas Menuju Abon Bernilai Tambah
Oleh: Mahendra Utama*

 

Lampung memiliki potensi perikanan air tawar yang luar biasa. Berdasarkan kajian Universitas Lampung, produksi ikan nila di Bandarlampung diproyeksikan mencapai 30.541 ton pada tahun 2025, meningkat signifikan dari 21.587 ton di tahun 2020.

Secara lebih luas, nilai ekonomi sektor perikanan budidaya Lampung mencapai Rp5,46 triliun. Pertanyaannya, ke mana ikan sebanyak ini dijual?

Pasar Ikan Nila dan Problem Klasik

Selama ini, ikan nila Lampung sebagian besar dijual dalam bentuk segar, baik untuk pasar lokal, antar-pulau, maupun ekspor ke 26 negara dengan nilai Rp2,1 triliun.

Namun, ketergantungan pada penjualan segar menyimpan masalah klasik. “Turunnya harga ikan dan sulitnya akses pasar memang menjadi masalah klasik yang dikeluhkan nelayan kecil,” ujar Zainal Arifin, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pesawaran.

Saat panen raya, harga anjlok dan petani terpaksa melepas ikan dengan harga murah kepada tengkulak.

Hilirisasi: Antara Potensi dan Realitas

Apakah ikan nila Lampung sudah di hilirisasi? Jawabannya: sudah mulai, namun belum masif. Beberapa inisiatif telah muncul, seperti pelatihan pembuatan abon ikan nila di Lampung Barat dan kajian finansial abon ikan nila oleh akademisi Unila yang menyimpulkan usaha ini layak dengan NPV positif dan IRR 38%. Pemerintah provinsi bahkan telah menyalurkan bantuan alat pascapanen seperti dryer.

Namun, skala hilirisasi masih jauh dari potensi. Padahal, kita bisa belajar dari Purwakarta, Jawa Barat. Di sana, Komariah sejak 2003 sukses mengembangkan abon ikan nila hingga menjadi oleh-oleh khas dan meraih penghargaan Global Micro Entrepreneurship Awards.

Kesuksesan ini lahir dari keberanian mengolah bahan baku lokal yang melimpah di sekitar Bendungan Jatiluhur.

Momentum Lampung Menuju Hilirisasi

Para Gubernur dan Bupati, inilah momentum yang tepat. Dengan produksi melimpah, Lampung seharusnya tidak hanya menjadi pemasok ikan segar.

Dalam teori ekonomi industri, hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah (value-added) hingga 2-5 kali lipat. Guru Besar IPB, Prof. Didin S. Damanhuri, menegaskan bahwa hilirisasi agromaritim memberikan efek pengganda (multiplier effect) besar terhadap ketenagakerjaan dan kesejahteraan rakyat.

Bayangkan, jika ribuan ton ikan nila diolah menjadi abon, bakso, atau nugget, nilai ekonominya bisa melompat drastis. Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Ekonomi, Bani Ispriyanto, menyatakan program hilirisasi sejalan dengan RPJMN 2025–2029 dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Insight untuk Gubernur dan Bupati

Saya mendorong Gubernur Lampung dan para bupati di sentra ikan nila (Pesawaran, Pringsewu, Lampung Barat, Lampung Timur) untuk serius mengembangkan abon ikan nila.

Beberapa langkah strategis perlu dilakukan:

1. Fasilitasi teknologi berupa mesin spinner, oven, dan alat pengemas bagi UMKM.
2. Arahkan KUR dan dana desa untuk sektor hilirisasi perikanan.
3. Bangun kemitraan setara antara petani, industri, dan perbankan.
4. Sertifikasi produk (PIRT, BPOM, Halal) agar tembus ritel modern.

Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, telah memberikan contoh baik dengan mendorong inovasi dan peningkatan kualitas produksi saat panen ikan nila. Semangat ini harus diikuti kebijakan konkret di lapangan.

Hilirisasi bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendesak agar petani ikan nila Lampung tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Mari wujudkan Lampung sebagai pusat hilirisasi perikanan air tawar nasional.
——————————————————————
*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan dan TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.