WartaNiaga.ID – Artikel opini edisi WANI kali ini, tema utamanya: Filosofi Kue Talam Pisang, Sebuah Artefak Kuliner dan Kisah Kreativitas Suku Lampung.
Filosofi Kue Talam Pisang, Cara Bijak Olah Pisang Matang ala Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Di tengah gempuran kuliner kekinian yang instan dan visualnya memikat, kita sering lupa bahwa di dapur-dapur tradisional, tersimpan kearifan lokal yang tak ternilai.
Salah satunya adalah kue Talam Pisang, kudapan yang akrab di telinga dan lidah masyarakat Lampung.
Lebih dari sekadar camilan, kue talam pisang, yang memadukan pisang terlalu masak, tepung beras, dan gula merah ini adalah sebuah filosofi hidup: bagaimana nenek moyang kita mengajarkan sikap anti-mubazir melalui olahan yang legit dan penuh makna.
Kearifan Lokal di Balik Legitnya Talam
Motivasi utama di balik pembuatan kue Talam Pisang sering kali lahir dari situasi pragmatis di dapur. Seorang ibu rumah tangga mendapati sisir pisang di rumah telah mencapai tingkat kematangan di mana teksturnya terlalu lembek untuk digoreng atau dimakan langsung.
Membuangnya tentu bukan pilihan. Di sinilah kecerdasan lokal berperan. Pisang yang “terlalu masak” justru menjadi bahan baku utama yang sempurna. Kandungan gulanya yang tinggi dan teksturnya yang lunak justru akan menghasilkan adonan talam yang lebih manis alami dan lembut.
Sikap ini sejalan dengan konsep food sustainability atau ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Dalam teori ekonomi pembangunan, pengurangan food loss (kehilangan pangan) di tingkat konsumen adalah salah satu kunci untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan.
Masyarakat Lampung, seperti halnya banyak masyarakat tradisional lainnya, telah mempraktikkan prinsip ini jauh sebelum istilah tersebut populer. Tidak ada yang boleh terbuang, semua karunia alam harus diolah menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan menjadi kudapan istimewa.
Jejak Sejarah dalam Setiap Sajian
Apakah ada catatan sejarah tentang kue talam? Pertanyaan ini membawa kita pada penelusuran budaya yang menarik. Jika merujuk pada sejarah kuliner Nusantara yang lebih luas, kue talam diperkirakan telah berusia lebih dari 500 tahun dan mendapat pengaruh dari budaya Tionghoa serta Belanda di masa kolonial Batavia. Kue ini kemudian menyebar dan beradaptasi dengan bahan-bahan lokal di berbagai daerah, termasuk Lampung.
Namun, di Lampung, “talam” bukan sekadar nama kue, ia adalah bagian dari struktur budaya. Hal ini terbukti dengan adanya tradisi Khegah Talam Juadah yang masih dilestarikan oleh masyarakat Lampung Pesisir, khususnya di Lampung Selatan.
Budayawan Lampung Selatan, Budiman Yakub, menjelaskan bahwa pagelaran Khegah Talam Juadah digelar untuk mengangkat Juadah sebagai kue adat. “Ke depan kue adat ini bisa tetap dilestarikan dan tidak hilang dimakan zaman,” ujarnya.
Tradisi Khegah Talam biasanya berisi makanan untuk dua porsi, lengkap dengan makanan utama dan penutup. Ini membuktikan bahwa “Talam” atau “Juadah” memiliki posisi sakral dalam upacara adat, bukan hanya jajanan pasar biasa.
Bupati Lampung Selatan, H. Nanang Ermanto kala itu, bahkan menegaskan komitmennya untuk memasukkan agenda pelestarian budaya ini ke dalam kalender tahunan. “Bagaimana ini kita kembangkan bahwa ini adalah warisan leluhur yang perlu kita lestarikan,” tegasnya .
Talam Pisang: Simbol Adaptasi dan Inovasi
Keberadaan kue Talam Pisang di Lampung menunjukkan adanya proses adaptasi kuliner. Dari akar budaya Betawi atau Jawa yang mungkin membawa resep dasar talam, masyarakat Lampung menginkorporasikannya dengan sumber daya lokal yang melimpah: pisang dan gula merah (gula kelapa).
Gula merah memberikan kedalaman rasa karamel yang legit, sementara pisang yang terlalu masak memberikan kelembaban dan aroma khas yang tidak bisa digantikan oleh pemanis buatan .
Inilah yang disebut sebagai foodways cara masyarakat memproduksi, mengolah, dan mengonsumsi makanan yang mencerminkan identitas budayanya.
Di Lampung, Talam Pisang bukanlah sekadar kue, melainkan sebuah artefak kuliner yang menceritakan kisah tentang adaptasi, kreativitas, dan penghormatan terhadap bahan pangan.
Kesimpulan
Kue Talam Pisang adalah bukti bahwa pembangunan budaya dan ekonomi bisa dimulai dari hal-hal kecil di dapur. Di balik teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis gurih, tersimpan filosofi zero waste dan kecerdasan lokal yang patut kita contoh.
Ketika kita menyantap sepotong Talam Pisang, kita tidak hanya menikmati cita rasa tradisi, tetapi juga merayakan warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk bijak dan kreatif.
Sudah seharusnya kita mendukung upaya pelestarian seperti Khegah Talam Juadah agar kue adat ini tetap dikenal, tidak hanya di Lampung, tetapi hingga ke mancanegara. (*)
—————————————————————-*Penulis Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
















