WartaNiaga.ID – Artikel edisi kali ini merupakan catatan penulis, pasca pelantikan “Sang Anak Buya” (Zimmi Skil) sebagai Kepala Disperindag Provinsi Lampung.
Zimmi Skil dan Dua Beban Besar di Pundak “Sang Anak Buya”
Oleh: Mahendra Utama*
Prolog: Dari Kasie Menuju “Dirijen” Ekonomi Lampung
Ada yang berbeda di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Lampung, Selasa pagi (24/2/2026). Bukan sekadar karena prosesi pelantikan pejabat eselon II yang berlangsung khidmat.
Tapi lebih dari itu, ada semacam “pengukuhan” atas perjalanan panjang seorang birokrat yang telah malang-melintang di dunia perdagangan Lampung.
Hari itu, Sekretaris Daerah Marindo Kurniawan atas nama Gubernur Mirza, melantik Mohammad Zimmi Skil sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung definitif. Sebuah posisi yang sebelumnya diembannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) sejak pertengahan Desember 2025.
Saya masih ingat betul akhir Desember lalu. Ketika itu saya baru saja ditunjuk sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
Sementara Zimmi saya biasa memanggilnya demikian baru beberapa hari menyandang status Plt. Di ruang kerjanya yang masih “berantakan” karena baru pindahan, kami berbincang santai.
“Bang Mahe, ini kita sama-sama baru. Bedanya, saya masih nunggu kepastian, abang sudah jelas pendamping Gubernur,” ujarnya sambil tertawa kecil kala itu.
Saya hanya bisa tersenyum. Sebab, saya tahu persis, Zimmi bukan “orang baru” di ekosistem perdagangan Lampung. Sejak masih menjadi Kepala Seksi (Kasie), kemudian naik menjadi Kepala Bidang pada Dinas Perdagangan Lampung (sebelum merger dengan Perindustrian), jejaknya terhampar jelas. Dia adalah produk otentik dari “dapur” birokrasi yang sesungguhnya.
Firasat Sang Gubernur dan Peran Sekda yang Tegas
Ada yang menarik dalam proses panjang menuju definitif ini. Saat pertama kali Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menunjuk Zimmi sebagai Plt medio Desember lalu, saya sempat berbincang dengan Iyai Mirza sapaan akrab Gubernur di sela sebuah acara. Saat itu beliau hanya berujar singkat, “Zimmi ini pekerja keras dan loyal, seperti bokapnya Buya Sauki, saya tahu persis rekam jejaknya di perdagangan. Biarkan dia bekerja, proses seleksi jalan.”
Leadership is not about being in charge, it’s about taking care of those in your charge. Simon Sinek pernah berkata demikian. Dan Gubernur Mirza menunjukkan itu.
Dengan memberikan kepercayaan kepada Zimmi sejak posisi Plt, beliau memberi ruang pembuktian. Bukan sekadar jabatan, tapi ujian integritas dan kapasitas.
Proses seleksi terbuka (lelang jabatan) yang berlangsung dua bulan terakhir pun membuktikan firasat itu benar. Zimmi terpilih dari tiga nama terbaik hasil proses yang transparan, objektif, dan kompetitif.
Seperti yang ditegaskan Sekda Marindo Kurniawan dalam sambutannya, “Ini adalah wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam menegakkan sistem merit ASN, dengan menempatkan kualifikasi, kompetensi, dan rekam jejak sebagai dasar pengembangan karier.”
Tapi Marindo tidak berhenti di situ. Lebih dari sekadar seremoni, Sekda yang akrab saya sapa Kaks Marindo itu menyematkan “beban besar” di pundak Zimmi.
“Saudara dituntut mendorong hilirisasi, digitalisasi perdagangan, kelancaran distribusi barang, serta membuka peluang kerja sama perdagangan antarprovinsi demi kemajuan Lampung,” tegasnya kala itu.
Beban itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar. Dan menariknya, Zimmi sepertinya sudah paham betul arah “layar” yang harus dibentangkan. Ia tidak menunggu pelantikan definitif untuk bergerak.
Ramadan 1447 H, Ujian Perdana yang Tak Bisa Gagal
Pagi ini juga, setelah resmi dilantik, Zimmi langsung menunjukkan “taringnya”. Di tengah hiruk-pikuk pelantikan, ia tetap memantau situasi harga dan stok pangan menjelang Ramadan. Dalam rilis yang sama, Disperindag Lampung memperketat pengawasan pangan.
“Sidak dilakukan untuk memastikan harga tetap stabil serta keamanan pangan terjaga, baik di pasar tradisional maupun retail modern,” ujarnya.
Lebih dari itu, Zimmi menunjukkan pemahaman teknis yang dalam. Ia tidak sekadar bicara harga, tapi juga rantai pasok. Saat mencatat kenaikan cabai rawit merah di kisaran Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram, ia langsung menyebut penyebabnya: pasokan dari Pulau Jawa yang berkurang. Dan solusinya? “Berkoordinasi dengan dinas teknis terkait, khususnya sektor hortikultura, untuk memperkuat pasokan.”
Ini penting. Karena dalam teori ekonomi perdagangan, stabilitas harga tidak bisa dicapai hanya dengan operasi pasar, tapi juga dengan memperkuat sisi hulu. Zimmi paham, Disperindag tidak bisa bekerja sendiri. Ia harus menjadi “dirijen” yang memastikan orkestrasi antara sektor hortikultura, distribusi, dan perdagangan berjalan harmonis.
Program pasar murah di 15 kabupaten/kota yang digelar juga bukan sekadar agenda rutin. Dalam perspektif public service motivation, ini adalah wujud hadirnya negara di tengah masyarakat. Bahwa pemerintah tidak hanya mengawasi, tapi juga turun tangan memastikan masyarakat prasejahtera bisa bernapas lega di bulan puasa.
Harapan yang Mengawang dan Doa yang Tak Putus
Tentu, mengelola Disperindag Lampung bukan perkara mudah. Apalagi dengan tagline besar Gubernur Mirza-Jihan: “Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045.” Seperti diingatkan Marindo, visi itu bukan slogan. Tapi arah besar yang menuntut kolaborasi, inovasi, dan integritas.
Zimmi harus bisa mendorong hilirisasi industri, sesuatu yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah besar Lampung.
Ia juga harus memperluas akses pasar bagi produk lokal, sekaligus menjaga iklim perdagangan yang sehat. Digitalisasi perdagangan juga tak bisa ditawar.
Di era di mana segala sesuatu serba cepat, birokrasi yang lamban hanya akan menjadi “batu sandungan” bagi pertumbuhan ekonomi.
Tapi saya optimis. Sebab, Zimmi adalah tipikal pemimpin yang grounded. Ia tidak alergi dengan kritik dan terbuka pada masukan.
Selama masa transisi Plt, kami beberapa kali berdiskusi. Saya ingat pernah mengutip Peter Drucker padanya: “Management is doing things right; leadership is doing the right things.”
Menjadi Kepala Dinas, ia harus melakukan keduanya. Doing things right dengan menjalankan prosedur dan birokrasi yang bersih. Dan doing the right things dengan mengambil keputusan yang tepat, meski kadang sulit dan tidak populer.
Untuk pendahulunya, kita patut berterima kasih. Tapi untuk Zimmi, saya menaruh harap lebih. Bukan karena ia anak dari Buya Sauki Shobier tokoh yang saya hormati.
Tapi karena ia adalah produk otentik birokrat Lapang Tegak. Ia tahu persis “dapur”-nya perdagangan Lampung, dari tingkat paling bawah hingga ruang rapat gubernur.
Doa saya sederhana: Semoga Allah mudahkan langkahmu, Zimmi. Semoga engkau bisa melampaui capaian pendahulu, membawa Disperindag Lampung menjadi lokomotif ekonomi yang bukan hanya bicara statistik, tapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat. Dari Way Kanan hingga Pesisir Barat, dari petani hingga pengusaha, semua merasakan “sentuhan tangan dinginmu.”
Selamat bekerja, Mohammad Zimmi Skil, “Sang Anak Buya”. Beban di pundakmu berat. Tapi dengan rekam jejak, kapasitas, dan doa orang banyak, kami yakin engkau bisa membawanya dengan amanah.
Selamat mengawal perdagangan dan perindustrian Lampung menuju asa yang lebih terang.
*Penulis: Mahendra Utama adalah, Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Preskom PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020, dan Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh sejak Juli 2023-Desember 2025.
















