Air langir yang digunakan dalam prosesi belangiran menggunakan air dari tujuh sungai yang berada di sekitar tempat berlangsungnya belangiran.
Ritual bulimau masyarakat Pesawaran yang digelar setahun sekali setiap menjelang bulan suci Ramadan, sarat akan filosofi.
Festival Budaya Belangiran menjadi salah satu upaya pelestarian adat dan budaya Lampung yang sekaligus ajang promosi wisata Pesawaran kepada masyarakat luas.
Baca Juga: Lanakila Lake Wisata Alam Instagramable di Pringsewu
Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona, menjelaskan bahwa masyarakat Pesawaran memiliki ragam budaya yang khas dan unik.
Mulai dari adat istiadat, bahasa, dan sastra, tradisi, kesenian, arsitektur tradisional, hingga makanan tradisional.
“Budaya Lampung memiliki basis budaya yang kuat, merupakan sumber ekonomi wisata yang dapat dikembangkan, termasuk wisata sejarah, serta memiliki potensi ekonomi kreatif dengan memadukan antara kreativitas seni dengan teknologi,” kata Dendi.
Ritual bulimau masyarakat Pesawaran menyambut Ramadan 1444 H terselenggara atas kerja sama MPAL Pesawaran, ISMA, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pesawaran.
Baca Juga: UMKM Merdeka Batch 3 Apindo Lampung Kian Diminati
Festival Budaya Belangiran Pesawaran ini turut dihadiri forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda), Kepala Program Studi Bidang Bahasa Lampung dari Universitas Lampung.
Kemudian, Disdikbud Provinsi Lampung, Kepala Kantor PTPN VII Way Lima dan Way Berulu, Kelompok Masyarakat Adat, Muli Mekhanai Lampung Saibatin dan Lampung Pepadun.
Penulis: Rahmat Rusdiyansah
















