Antara Darat dan Laut: Mengapa Logistik Lampung Kalah Saing dengan Kepri dan Babel?

Mengapa Logistik Lampung Kalah Saing
Ilustrasi: OpiniMahe: Antara Darat dan Laut: Mengapa Logistik Lampung Kalah Saing dengan Kepri dan Babel? (Sumber Foto: Dok. WANI).

WartaNiaga.IDSimak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Antara Darat dan Laut: Mengapa Logistik Lampung Kalah Saing dengan Kepri dan Babel?

 

Antara Darat dan Laut: Mengapa Logistik Lampung Kalah Saing dengan Kepri dan Babel?
Oleh: Mahendra Utama*

 

Lampung vs Kepri vs Babel: Tiga Model, Satu Kesimpulan

Jika Lampung bergulat dengan biaya tol dan jalan rusak, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung menghadapi tantangan berbeda: distribusi antar-pulau.

Namun di sinilah kejutan terjadi biaya logistik di wilayah kepulauan justru menunjukkan pola yang lebih terkendali.

Kepri: Mahal di Ujung, Murah di Pusat

Di Batam, tarif port-to-door hanya Rp3.000/kg. Namun ke Tanjung Pinang melonjak hingga Rp12.000/kg. Ini mencerminkan biaya distribusi sekunder yang tinggi logika yang wajar untuk wilayah kepulauan.

Sementara itu, pengiriman Jakarta–Pekanbaru dibanderol Rp4.500/kg, masih lebih murah dari Lampung yang Rp10.500/kg.

Babel: Dilema Logistik Pangan

Babel menghadapi masalah serupa dengan Kepri: distribusi ke pulau-pulau terluar membuat harga komoditas melambung.

Namun secara struktur, biaya transportasi laut justru lebih stabil dibandingkan transportasi darat yang bergantung pada tol dan BBM. Ini menjadikan Babel dan Kepri memiliki prediktabilitas biaya yang lebih baik.

Lampung: Biaya Tetap yang Tak Terkendali

Masalah Lampung berbeda: biaya tol naik terus, jalan rusak, dan tidak ada alternatif moda yang memadai.

Akibatnya, biaya perjalanan Bakauheni–Kayu Agung melonjak dari Rp600.000 menjadi lebih dari Rp700.000. ALFI pun meminta subsidi tol karena tarif di Sumatera, khususnya Lampung, semakin membebani.

Pemerintah Menargetkan 8 Persen, Lampung Masih Jauh

Pemerintah menargetkan biaya logistik nasional turun ke 8 persen terhadap PDB, dengan strategi penguatan infrastruktur dan digitalisasi.

Namun tanpa solusi konkret untuk Lampung perbaikan jalan tol, pengendalian tarif, dan pengembangan moda alternatif provinsi ini akan terus tertinggal.

Kesimpulan: Lampung Butuh Terobosan, Bukan Sekadar Tol

Biaya logistik Lampung tidak kompetitif dibandingkan provinsi Sumatera lainnya, termasuk Kepri dan Babel.

Kepri dan Babel memiliki tantangan geografis yang wajar, sementara Lampung justru menghadapi biaya infrastruktur yang tidak proporsional. Tanpa intervensi kebijakan yang serius, Lampung akan tetap menjadi “gerbang mahal” Sumatera. (*)
——————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.