Menggali “Emas Cokelat” Lampung: Tantangan Hilirisasi Kemiri, Pala, dan Kapulaga

Hilirisasi Kemiri Pala dan Kapulaga
Visualisasi Perjalanan Hilirisasi Rempah Lampung, dari Hasil Kebun Rakyat Bertransformasi Menjadi Produk Bernilai Tambah. (Sumber Foto: Ist).

WartaNiaga.ID – Hilirisasi kemiri, pala, dan kapulaga di Lampung berpotensi jadi “harta karun”. Rempah-rempah tersebut adalah motor baru pertumbuhan ekonomi.

Menggali “Emas Cokelat” Lampung: Tantangan Hilirisasi Kemiri, Pala, dan Kapulaga
Oleh: Mahendra Utama*

Selama ini, jika bicara soal perkebunan di Lampung, benak kita secara otomatis akan memunculkan citra hamparan kopi robusta atau kepulan asap dari pabrik pengolahan nanas dan tebu.

Lampung memang raksasa pangan, namun di balik dominasi komoditas utama tersebut, terselip potensi “harta karun” rempah yang selama ini tumbuh di sela-sela kebun rakyat: kemiri, pala, dan kapulaga.

Ketiga komoditas ini bukan sekadar bumbu dapur. Dalam peta perdagangan global, mereka adalah komponen vital industri farmasi, kosmetik, hingga aromatik.

Namun, pertanyaannya: sejauh mana Lampung mampu mengonversi potensi biologis ini menjadi kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan bagi petani?

Peta Kekuatan yang Terserak

Berdasarkan data Provinsi Lampung Dalam Angka, komoditas pala menjadi salah satu primadona di wilayah tangkapan air dan pegunungan. Kabupaten Tanggamus, dengan topografi dataran tingginya, tetap menjadi sentra utama.

Data menunjukkan luas lahan pala di Lampung terus mengalami fluktuasi namun cenderung ekspansif, mencapai lebih dari 2.400 hektar pada tahun 2022.

Meski demikian, produktivitas masih menjadi tantangan laten. Penurunan produksi pala pada tahun 2022 ke angka 405 ton menunjukkan adanya masalah pada usia tanaman dan serangan hama (OPT).

Di sinilah teori Vicious Cycle of Poverty dalam pembangunan pertanian sering terjadi; petani terjebak pada metode konvensional karena keterbatasan akses teknologi, yang berujung pada hasil panen yang tak maksimal.

Sementara itu, kapulaga dan kemiri di Lampung lebih banyak dikembangkan dalam pola agroforestri atau tumpang sari.

Pola ini sebenarnya cerdas secara ekologis, namun seringkali membuat data produksinya “tak kasat mata” dalam statistik formal karena skala budidayanya yang sporadis di lahan-lahan sempit milik rakyat.

Apresiasi Manajerial: Dari Kebijakan ke Lapangan

Langkah maju yang kita saksikan hari ini tidak lepas dari keberanian kepemimpinan daerah dalam melihat celah pasar. Kita perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang dalam visinya terus mendorong modernisasi sektor pertanian dan hilirisasi produk lokal agar memiliki nilai tambah.

Sinergi ini diperkuat oleh para Bupati di sentra rempah seperti Pesawaran, Tanggamus, Lampung Barat, hingga Lampung Tengah yang konsisten mendukung program peremajaan tanaman.

Tak lupa, peran pelaku usaha (eksportir dan pengepul mitra) menjadi jembatan krusial. Tanpa mereka, rempah Lampung hanya akan berakhir di pasar tradisional dengan harga murah.

Perusahaan-perusahaan yang mau turun tangan melakukan pendampingan sertifikasi organik dan akses pasar internasional adalah pahlawan rantai pasok yang sebenarnya.

Menuju Hilirisasi: Bukan Sekadar Menjual Biji

Mengutip teori keunggulan kompetitif dari Michael Porter, suatu daerah tidak bisa hanya mengandalkan kekayaan alam (endowment factor), tetapi harus menciptakan strategi penciptaan nilai. Lampung tidak boleh hanya puas menjadi pengirim biji pala kering atau kemiri kupas ke luar negeri.

“Rempah adalah identitas ekonomi kita. Jika kita hanya menjual bahan mentah, kita sedang mengekspor kemiskinan dan mengimpor kemakmuran bagi bangsa lain,” ungkap sebuah adagium ekonomi kerakyatan yang relevan dengan kondisi saat ini.

Ke depan, tantangan besar bagi Pemerintah Provinsi Lampung adalah membangun unit pengolahan pascapanen (UPP). Kita bermimpi melihat minyak atsiri pala atau ekstrak kapulaga berlabel “Produced in Lampung” menghiasi rak-rak industri di Eropa dan Tiongkok.

Penutup

Potensi kemiri, pala, dan kapulaga di Lampung adalah bukti bahwa tanah ini sangat diberkati. Dengan dukungan regulasi yang pro-petani dari Bapak Rahmat Mirzani Djausal dan kerja keras para bupati, serta kolaborasi sehat dengan sektor swasta, rempah-rempah ini bisa menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi.

Petani kita telah lama berkeringat di lahan. Kini saatnya mereka memetik hasil yang setara melalui kebijakan yang berbasis data, teknologi, dan hati nurani.

Mari kita jaga agar harum rempah Lampung tidak hanya tercium di dapur, tapi juga harum di pasar finansial dunia. (*)

 

*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan asal Lampung, sejak Desember 2025 menjadi Tenaga Pendamping Pembangunan Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, sejak Juli 2020 menjabat Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis, sejak Juli 2023 – Desember 2025 menjabat Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh.