WartaNiaga.ID – Mega Proyek Hilirisasi Ayam di Lampung, akan segera hadir. Nilai investasinya fantastis mencapai Rp680 miliar.
Lampung kembali menjadi sorotan nasional. Kali ini bukan soal jalan rusak yang viral, melainkan sebuah ambisi besar bertajuk hilirisasi industri ayam terintegrasi.
Dengan investasi fantastis mencapai Rp680 miliar, proyek yang berlokasi di Lampung Selatan ini digadang-gadang akan mengubah wajah peternakan kita dari hulu hingga hilir.
Namun, di balik angka-angka mentereng tersebut, muncul pertanyaan fundamental: siapa yang benar-benar akan “cuan” dari ekosistem raksasa ini?
Kolaborasi Raksasa: Orkestrasi Prabowo dan Tim
Proyek ini adalah perwujudan nyata dari visi swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto. Di bawah komando Kementerian Pertanian (Kementan), terjadi sebuah simfoni kerja sama yang melibatkan institusi-institusi besar.
Danantara, melalui ID Food dan anak perusahaannya PT Berdikari, bertindak sebagai pemain utama yang menggandeng PTPN Group (khususnya PTPN 1) sebagai penyedia lahan.
Kehadiran Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemkab Lampung Selatan memberikan legitimasi administratif yang kuat. Apresiasi patut diberikan kepada Menteri Pertanian, jajaran Danantara, Gubernur Lampung, hingga Bupati Lampung Selatan yang berhasil menyinkronkan birokrasi demi investasi yang masif ini.
Ini adalah bukti bahwa ketika pemerintah pusat dan daerah berjalan beriringan, proyek strategis nasional bukan lagi sekadar wacana di atas kertas.
Sinergi Lahan dan Operasional
Salah satu kunci utama proyek ini adalah pemanfaatan aset negara yang selama ini mungkin belum optimal. Direktur Utama PTPN 1, Teddy Yunirman Danas, menjelaskan skema kolaborasi ini dengan gamblang.
_”Operational industri ayam terintegrasi ini dilaksanakan oleh PT Berdikari yang bermitra dengan PTPN 1 (pemilik lahan) dan BUMD (harapan kami),”_ ujarnya.
Pernyataan ini menarik. Keterlibatan PTPN 1 sebagai pemilik lahan menunjukkan semangat utilisasi aset, sementara PT Berdikari membawa keahlian teknis dalam industri peternakan. Harapan Teddy agar BUMD di Lampung turut bergabung menjadi sinyal positif bagi penguatan ekonomi lokal.
Jika BUMD terlibat aktif, maka perputaran uang dari proyek ini diharapkan tidak hanya “mampir” di Jakarta, tapi benar-benar mengendap di tanah Sang Bumi Ruwa Jukai.
Analisis Teoretis: Integrasi Vertikal atau Dominasi?
Secara teoretis, apa yang sedang dibangun di Lampung adalah Vertical Integration (Integrasi Vertikal). Menurut teori ekonomi industri, integrasi ini bertujuan untuk mengurangi biaya transaksi dan menjamin kepastian pasokan serta kualitas. Dengan mengontrol proses dari pembibitan, pakan, hingga pemotongan dan pengolahan (RPA), efisiensi maksimal bisa dicapai.
Namun, mengacu pada teori Resource-Based View (RBV), keberhasilan megaproyek ini sangat bergantung pada bagaimana sumber daya (lahan PTPN, modal Danantara, dan kebijakan Kementan) dikelola agar tidak menciptakan monopoli baru yang mematikan peternak rakyat kecil. Tantangannya adalah memastikan bahwa hilirisasi ini bersifat inklusif, bukan eksklusif.
Kesimpulan
Kita wajib mengapresiasi keberanian pemerintah dan BUMN dalam mengeksekusi proyek ini. Ini adalah langkah maju menuju kedaulatan pangan.
Namun, keterlibatan peternak lokal dan BUMD harus dipastikan bukan sekadar pelengkap dekorasi. Semoga, proyek hilirisasi ayam di Lampung Selatan ini menjadi prototipe yang menguntungkan negara, membesarkan korporasi, tapi tetap merangkul rakyat kecil di sekitarnya. (*)
*Penulis: Mahendra Utama, TPPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan
















