WartaNiaga.ID – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Hilirisasi Kemiri Pesawaran: Dari Hutan Menuju Nilai Tambah.
Hilirisasi Kemiri Pesawaran: Dari Hutan Menuju Nilai Tambah
Oleh: Mahendra Utama*
Menyusuri Jejak Kemiri dari Hutan Pesawaran
Mewujudkan hilirisasi kemiri Pesawaran memang membutuhkan dukungan banyak pihak. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga kelompok masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, BUMN, hingga para pendamping pembangunan.
Kamis, 3 September 2026 pukul 08.36 WIB, saya dijemput Bang Jeck, alumni Fakultas Kehutanan IPB, untuk menemani tim KPH Pesawaran melakukan kunjungan kerja ke kelompok tani pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, dan HKm Alam Pala Lestari di Desa Penyandingan, Kecamatan Marga Punduh.
Sampai di Tugu Duren Kemiling, saya bertukar mobil dan bergabung bersama Uda Iskandar, Kepala KPH Pesawaran, serta Bang Musab, Kasi Polhut, yang mengendarai mobil dinas Mitsubishi Strada. Sementara Bang Jeck bersama Mas Yopie Pangkey, penulis sekaligus influencer senior Lampung.
Kami berlima datang bukan sekadar melihat. Kami ingin mendengar, berdiskusi dan memahami langsung bagaimana masyarakat mengelola hutan sekaligus mengembangkan hasil hutan berbasis agroforestri.
HKm yang Menjadi Ruang Belajar
Kami mengunjungi HKm Gapoktanhut Pujo Makmur Desa Banjaran yang dipimpin Maryadi serta HKm Alam Pala Lestari Desa Penyandingan yang dipimpin Saiful Hamzah.
Kedua kelompok ini memiliki rekam jejak panjang. Mereka terbentuk pada 2018 dan memperoleh izin Perhutanan Sosial atau HKm pada 2021.
Eksistensinya bahkan telah diakui secara nasional melalui berbagai penghargaan. Kawasan mereka menjadi lokasi kunjungan, penelitian dan pembelajaran bagi berbagai pihak yang ingin memahami pengelolaan hutan dan hasil hutan melalui sistem agroforestri.
Di Banjaran, kemiri, kakao, kopi, jengkol dan aren menjadi komoditas unggulan. Sementara HKm Alam Pala Lestari mengembangkan pala sebagai produk utama, termasuk pala kupas dan minyak atsiri pala.
Inilah wajah lain pembangunan kehutanan: masyarakat tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari hutan yang mereka kelola secara berkelanjutan.
Dari Buah Kemiri Menjadi Produk Bernilai
Saya melihat langsung proses pengolahan kemiri di Banjaran.
Kemiri dipanen dari kawasan hutan, kemudian dibawa ke rumah untuk dikeringkan menggunakan panas matahari. Setelah cukup kering, buah kemiri dimasukkan ke freezer agar proses pemecahan dan pengupasan kulit lebih mudah.
Buah dan cangkang kemudian dipisahkan. Daging kemiri siap dikemas dalam karung berukuran 25 kilogram, sedangkan cangkangnya tidak menjadi limbah sia-sia.
Cangkang kemiri telah memiliki pasar tersendiri. Pembeli dari Wiyono, Pesawaran, maupun Pringsewu bersedia membeli dengan harga kompetitif untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produk energi, termasuk briket.
Bahkan, prototype mesin pemecah cangkang kemiri karya ITERA yang telah diaplikasikan di lokasi menjadi contoh nyata bagaimana inovasi perguruan tinggi dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi masyarakat.
3,5 Ton Kemiri Setiap Bulan
Hasilnya mulai terlihat.
Sekitar 3,5 ton kemiri siap saji per bulan kini mampu dihasilkan dari hutan Pesawaran. Ini bukan sekadar angka produksi, tetapi bukti bahwa pengelolaan hutan berbasis masyarakat dapat bergerak menuju hilirisasi.
Produk unggulan yang sedang dikembangkan antara lain minyak kemiri kupas dan briket cangkang kemiri.
Artinya, rantai ekonomi tidak berhenti pada aktivitas memanen hasil hutan. Ada proses pengeringan, pengolahan, pemecahan, pemisahan, pengemasan, hingga pemanfaatan hasil samping.
Di titik inilah nilai tambah mulai tercipta.
Kolaborasi Menjadi Kunci Hilirisasi
Kemajuan HKm di Pesawaran tidak lahir dari kerja satu pihak.
Ada KPH Pesawaran, Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Kehutanan, perguruan tinggi seperti ITERA, Unila dan Polinela, sektor swasta, serta masyarakat yang menjadi pelaku utama di lapangan.
Saya melihat sendiri bahwa ketika pengetahuan, teknologi, pendampingan dan akses pasar bertemu dengan pengalaman masyarakat mengelola hutan, produktivitas dapat meningkat.
Dalam perspektif pembangunan, inilah prinsip collaborative development: pemerintah menyediakan ekosistem kebijakan, perguruan tinggi menghadirkan inovasi, dunia usaha membuka pasar, sementara masyarakat menjadi aktor utama produksi.
Pepatah Lampung Pesisir mengatakan, “Sai betik di lamban, sai bagus di lapahan” kebaikan yang dibangun di rumah semestinya tercermin dalam perjalanan dan kehidupan di luar.
Bagi saya, semangat itu relevan dengan pembangunan HKm: menjaga hutan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat dalam perjalanan panjang pembangunan.
Dari Hasil Hutan Menuju Kemakmuran
Dalam kapasitas saya sebagai TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian periode 1 Januari–1 Agustus 2026, saya melihat bahwa pelibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan melalui komoditas agroforestri memiliki dampak ekonomi yang nyata.
Masyarakat memperoleh penghasilan dari hasil hutan. Di sisi lain, negara dan pemerintah juga memperoleh PNBP melalui pembayaran yang dilakukan kelompok perhutanan sosial melalui sistem perbankan.
Ini menunjukkan bahwa konservasi dan ekonomi tidak harus dipertentangkan.
Hutan dapat tetap dijaga, masyarakat dapat memperoleh manfaat, sementara negara mendapatkan penerimaan. Kuncinya adalah tata kelola yang baik, kepastian akses, peningkatan produktivitas dan hilirisasi.
Saatnya Mendorong Nilai Tambah Agroforestri Lampung
Pekerjaan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah seluruh komoditas agroforestri Lampung, khususnya yang berasal dari wilayah KPH Pesawaran.
Kemiri jangan berhenti sebagai komoditas mentah. Pala harus terus didorong menjadi produk olahan bernilai tinggi. Demikian pula kopi, kakao, aren, jengkol dan berbagai hasil agroforestri lainnya.
Dukungan positif dan berkelanjutan dari Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Lampung, perguruan tinggi, BUMN agro dan kehutanan, BUMN Himbara, Pemerintah Kabupaten Pesawaran, dunia usaha serta kelompok masyarakat peduli hutan menjadi sangat penting.
Sebab hilirisasi sejatinya bukan sekadar membangun mesin atau menghasilkan produk baru.
Hilirisasi adalah tentang menciptakan nilai tambah di tempat masyarakat bekerja, agar semakin besar manfaat ekonomi yang tinggal di daerah dan kembali kepada masyarakat.
Dari hutan Pesawaran, kita belajar bahwa ketika masyarakat diberi ruang, teknologi diberikan, pasar dibuka dan para pihak bergerak bersama, hasil hutan dapat berubah menjadi sumber kemakmuran.
Hutan lestari, masyarakat sejahtera, nilai tambah tumbuh di Lampung. (*)
————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
















