Minyak Jelantah Lampung, Emas Cair yang Menggiurkan bagi Ekonomi Masyarakat

Minyak Jelantah Lampung
Ilustrasi: OpiniMahe: Minyak Jelantah Lampung, Emas Cair yang Menggiurkan bagi Ekonomi Masyarakat. (Sumber Foto: Dok WANI).

WartaNiaga.IDSimak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Minyak Jelantah Lampung, Emas Cair yang Menggiurkan bagi Ekonomi Masyarakat.

 

Minyak Jelantah Lampung, Emas Cair yang Menggiurkan bagi Ekonomi Masyarakat
Oleh: Mahendra Utama*

 

Minyak jelantah selama ini dipandang limbah dapur tak berguna. Namun, langkah Pertamina mengolahnya menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang dibeli Cathay Pacific untuk penerbangan internasional Jakarta-Hong Kong telah mengubah paradigma. Limbah ini kini menjelma “emas cair” dengan prospek ekonomi menjanjikan.

Potensi Besar Limbah Dapur di Bumi Ruwa Jurai

Lampung sebagai provinsi dengan aktivitas kuliner dan rumah tangga padat memiliki potensi minyak jelantah melimpah. Sayangnya, sebagian besar masih dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan. Jika dikelola serius, limbah ini bisa menjadi ladang usaha baru.

Pengalaman di Palembang membuktikan, kelompok masyarakat mampu mengelola 8,5 ton minyak jelantah per bulan dengan omzet mencapai Rp76 juta.

Di Bandar Lampung, inovasi serupa mulai berkembang, seperti pengolahan jelantah menjadi biodiesel skala komunitas untuk mesin pertanian, serta sabun cuci dan lilin aromaterapi dengan modal hanya Rp3.000 untuk menghasilkan 15-20 sabun.

Teori Ekonomi Sirkular sebagai Fondasi

Konsep ekonomi sirkular mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai guna. Seperti dikatakan Sustainable Energy Expert Shana Fatina, barang yang dianggap limbah dikumpulkan dan diolah kembali sehingga memiliki nilai ekonomi.

Minyak jelantah adalah komoditas strategis dalam rantai nilai ini, dari pengumpul, pengangkut, hingga pengolah yang membuka green jobs baru.

Peluang Cuan bagi Masyarakat Lampung

Pertamina membeli minyak jelantah melalui fasilitas UCollect Box dengan harga Rp4.000-Rp5.000 per liter. Bahkan di sejumlah daerah, harganya mencapai Rp7.000 per liter. Jika satu rumah tangga mengumpulkan 10 liter per bulan, pendapatan tambahan Rp50.000 mengalir.

Dengan ribuan rumah tangga di Lampung, potensi ekonomi kolektifnya sangat besar. Sudah saatnya masyarakat Lampung tidak lagi membuang minyak jelantah, melainkan mengumpulkannya sebagai sumber cuan baru. (*)
—————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.